Image

Waspada! Terompet Tahun Baru Berpotensi Tularkan Difteri

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Sabtu 30 Desember 2017, 01:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 30 481 1837749 waspada-terompet-tahun-baru-berpotensi-tularkan-difteri-v9wiDz8fMi.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA – Jelang malam pergantian tahun berhembus kabar bahwa difteri dapat menyebar melalui tiupan terompet atau penggunaan alat makan bersama. Informasi ini tentu membuat siapa pun menjadi was-was lantaran penyakit difteri dapat berujung kematian.

Kementerian Kesehatan menggarisbawahi bahwa pada dasarnya seseorang yang telah diimunisasi secara lengkap memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), salah satunya Difteri.

“Yang penting itu (riwayat) imunisasinya. Imunisasi itu bisa mencegah difteri. Kalau sudah imunisasi kan sudah kebal,” tutur Direktur Surveilans dan Kerantina Kesehatan Kemenkes RI, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, DSc, melalui siaran pers Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, yang diterima Okezone, Sabtu (30/12/2017).

Dijelaskan oleh dr. Jane bahwa masyarakat tidak diperbolehkan untuk bergantian menggunakan peralatan makan dengan penderita Difteri. Begitu pula dengan penggunaan terompet tahun baru. Kemenkes menyarankan agar satu terompet diperuntukkan hanya untuk satu orang, tidak untuk ditiup secara bergantian.

“Menularnya paling kalau digunakan berpindah (bergantian). Ya, itu bisa, karena ludah kita menempel di mulut terompet. Penderita (Difteri) kan tidak boleh tukar menukar peralatan makan, sama saja kan salah satu penyebarannya bisa lewat air liur,” terang dr. Jane.

(Baca Juga: 14 Warga Sukabumi Positif Difteri, 1 Orang Meninggal Dunia)

Kendati demikian, ujar dr. Jane, masih perlu penelitian untuk dapat membuktikan apakah benar bahwa kuman Difteri bisa menular dengan cepat dari semburan ujung terompet. Karena menurutnya, Difteri merupakan penyakit yang mudah menular dengan atau tanpa media terompet sekalipun.

“Penyebaran kuman penyebab Difteri ini sangat mudah, bisa melalui bicara atau bersin yang tidak ditutup, bisa sejauh 7 meter. Tidak perlu bantuan terompet,” ulasnya.

Secara khusus kepada masyarakat, dr. Jane mengingatkan untuk tetap menjaga kebersihan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang sakit dan upayakan tidak melakukan kontak dengan penderita Difteri.

Di masa liburan panjang menjelang tahun baru ini, Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar senantiasa cukup beristirahat, dan memperhatikan asupan cairan dan makanan yang sehat.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Penyakit ini sangat mudah menular melalui udara, yaitu lewat napas atau batuk penderita. Karena itu, penderita difteri yang dirawat di rumah sakit biasanya diisolasi dan tidak boleh dikunjungi untuk mencegah penularan.

Penyakit ini memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Difteri sangat menular dan dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani secara cepat, terutama pada anak-anak.

Gejala awal difteri bisa tidak spesifik seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah.

Namun, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan bull neck.

Kemenkes menyadari bahwa meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penyakit tersebut, menimbulkan kekhawatiran berlebihan akan penularan, meski langkah antisipasi berupa vaksinasi gencar dilakukan.

(Baca Juga: Menkes Imbau Masyarakat Tidak Panik dengan Penyebaran ‎Penyakit Difteri)

Kekhawatiran publik memang cukup beralasan mengingat jumlah korban akibat penyakit ini terus berjatuhan. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Senin (18/12/2017) lalu bahkan menyatakan kasus difteri di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.

Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR Dr Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) menyebut wabah difteri telah menyebar di 28 provinsi di Indonesia, rinciannya di 142 kabupaten-kota. Sementara Kemenkes menyatakan difteri baru mewabah di 11 provinsi pada kurun waktu Oktober-November 2017. Yaitu di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dari penyebaran difteri di berbagai wilayah tersebut tercatat sebanyak 40 anak yang terinfeksi difteri meninggal dunia dan lebih dari 600 pasien dirawat di rumah sakit karena terjangkit difteri. Jumlah ini belum termasuk korban meninggal dan positif difteri dalam kurun waktu Selasa 19 Desember hingga hari ini.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini