Image

Bahaya Paksakan Diri Jadi Pribadi yang Terlalu Positif

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 04 Januari 2018 13:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 04 196 1839842 bahaya-paksakan-diri-jadi-pribadi-yang-terlalu-positif-3owhVLZ3AQ.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

SELAMA Anda hidup, mungkin salah satu nasehat yang pernah Anda dengar adalah ‘jadilah pribadi yang lebih positif’. Sebab, dengan menjadi pribadi yang positif, banyak orang memercayai bahwa semua akan indah dan tidak ada masalah.

Faktanya sekarang, manusia hidup dengan masalah. Tidak ada satu orang pun yang bernyawa tanpa masalah. Kemudian, persepsi ini muncul, “Ya, berarti positif dalam menyikapi suatu masalah”. Nah, ini mungkin yang akhirnya diresapi dan dipercaya oleh banyak wisher atau orang yang dianggap bijak sebagai jalan satu-satunya ketika Anda mendapat masalah.

Padahal, yang perlu Anda garisbawahi adalah sebagai manusia, Anda wajib menghadapi masalah tersebut dan jangan terlalu paksakan diri Anda untuk selalu menyikapinya dengan positif, meskipun itu benar.

Seperti yang dijelaskan Psikolog Susan David dalam pernyataannya belum lama ini. Menurut dia, memahami inti masalah, mengahadapi perasaan sulit, dan bergerak melewati masalah tersebut adalah jalan yang lebih baik untuk ditempuh. Pengabaian yang dilakukan hanya akan menambah beban psikis seseorang.

Ilmuwan Harvard ini melanjutkan, ada 4 langkah utama yang bisa Anda lakukan ketika ada dalam suatu masalah yang besar. Khususnya sampai masalah itu menjadi hal negative bagi diri Anda. 4 langkah tersebut antara lain:

1. Hadapi masalah!

Alih-alih ingin mengabaikan pikiran dan emosi, atau terlalu sulit untuk bersikap positif dalam menyikapi suatu hal, sebaiknya Anda berani untuk menghadapi masalah tersebut dengan rela dan dengan penuh rasa kaingintahuan.

Hal ini menunjukan bahwa Anda membiarkan diri Anda memahami, apakah hal itu benar atau salah, atau seharusnya tidak dilakukan atau harus dilakukan. Hal-hal semacam ini tidak akan Anda rasakan jika hanya mengabaikan dan lalu pergi untuk ketenangan.

2. Pahami masalah tersebut!

Yang mesti dipikirkan selanjutnya adalah memahami masalah. Ini penting dalam hal memisahkan dan mengamati kembali masalajh tersebut. Secara mudahnya, Anda bisa membandingkan apakah masalah itu berasal dari pikiran atau emosi. Pada contoh kasus misalnya saat Anda baru pertama kali masuk di pekerjaan baru. Ketika pikiran negative sudah membelenggu Anda, maka sikap diri pun akan tergambarkan dari pandangan mata misalnya, atau gerak gerik tubuh. Tentunya ini merugikan Anda, bukan?

(Baca Juga: Bahaya Jenis Narkoba seperti yang Dikonsumsi Jennifer Dunn)

Sebagai gantinya, akui saja bahwa Anda memang anak baru, tapi kemampuan Anda tidak bisa diragukan atau sebisa mungkin untuk percaya diri dengan apa yang Anda miliki. Terbakan senyum!

3. Menerima diri sendiri

Bagaimana pun yang mengetahui Anda adalah diri Anda sendiri. Yang menentukan pilihan terakhir dari suatu keputusan adalah Anda sendiri. Mau ke arah mana, tentunya pertimbangan matang berdasar pada diri sendiri.

(Baca Juga: 386.000 Bayi Lahir saat Tahun Baru 2018, Indonesia Peringkat 5 Besar)

Mengakui, menerima, dan menjauhkan diri dari hal-hal emosional yang menakutkan atau menyakitkan memberi Anda kemampuan untuk lebih luas dalam menyikapi suatu hal.

4. Bangkit!

Asumsi pikiran itu akan terus membelenggu diri Anda. Jika tidak berani bangkit dan membuktikan sendiri bagaimana dampak dari hal yang Anda pikirkan, maka selamanya Anda akan berada di ruang asumsi yang tidak ada untungnya sama sekali.

Sebetulnya, asumsi diperlukan agar pemikiran kita bekerja menentukan mana yang terbaik. Tapi, yang lebih penting lagi adalah memutuskan suatu hal. Keseimbangan itu pun akan terjaga jika pemikiran Anda dewasa dalam menyikapi masalah. Pengalaman hidup akan membantu menyeimbangkan semuanya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini