nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benteng Moraya, Destinasi Wisata Minahasa yang Sarat Sejarah

Jum'at 05 Januari 2018 13:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 05 406 1840500 benteng-moraya-destinasi-wisata-minahasa-yang-sarat-sejarah-TEIK6I353T.jpg Benteng Moraya di Minahasa (Koran Sindo)

MINAHASA - Masa liburan sekolah di Sulawesi Utara (Sulut) tak lama lagi usai. Waktu yang tinggal beberapa hari tersebut benar-benar dimanfaatkan para pelajar dan orang tuanya untuk mengunjungi lokasi wisata yang ada di Sulut.

Salah satunya yang masih banyak dikunjungi yaitu Benteng Moraya berlokasi di pinggiran Danau Tondano, Kabupaten Minahasa. Pesona Benteng Moraya masih menggoda. Keindahan alam dan pegunungannya bersatu padu dengan Danau Tondano sungguh memesona.

Benteng Moraya saat ini memang menjadi salah satu destinasi wisata di Minahasa yang wajib dikunjungi, terutama bagi remaja atau orang tua yang suka berswafoto. Mengambil dari sisi manapun pemandangan di kawasan itu semuanya indah.

Lokasi Benteng Moraya mudah didapat dan tak butuh lama jika berangkat dari pusat Kota Tondano. Namun, bagi yang datang dari arah Manado, jaraknya sekitar 35 kilometer (km) menuju lokasi. Akses jalan mudah jika ditempuh dengan menggunakan angkutan darat.

”Benteng Moraya sebenarnya sarat sejarah. Jika para pelajar benar-benar ingin mengetahui bagaimana sampai benteng tersebut dilestarikan karena memang memiliki histori luar biasa membekas bagi orang Minahasa,” kata Sri Rajoe, pengunjung lainnya yang juga guru sejarah di sebuah sekolah di Manado.

Merujuk dari beberapa literasi, sekitar 1808 Benteng Moraya menjadi tempat pertahanan terakhir pasukan orang Minahasa dalam pertempuran melawan pihak kompeni yang datang hendak menjajah.

Di samping itu, menjadi pusat kekuatan pasukan orang Tondano yang ketika itu bernama Minawanua. Meski sekarang Benteng Moraya hanya tersisa puingpuingnya saja, tapi catatan sejarah terukir dalam sanubari orang Minahasa tidak akan terkikis dan akan selalu diceritakan kembali secara turuntemurun.

Mengingat lokasi tersebut saat ini sudah banyak dikunjungi wisatawan, kawasan Benteng Moraya pun kini telah dibangun kembali dengan megah. Sebuah monumen dibangun sebagai ingatan akan nilai-nilai heroik dan patriotik serta sejarah kepahlawanan orang Tondano- Minahasa dalam mempertahankan tanah leluhurnya.

”Lokasinya cukup luas meski masih minim sektor penunjang lainnya. Tapi membaca pesan-pesan di benteng tersebut memang benar-benar memiliki sejarah yang luar biasa,” kata Nela Paneo, warga Manado yang mengunjungi objek wisata tersebut.

Dengan melihat langsung Benteng Moraya, maka tak hanya akan dapat dipahami serta dikenali kepahlawanan orang Tondano-Minahasa dalam mempertahankan tanah leluhurnya. Namun, juga bisa menikmati alam dan lingkungan serta bertamasya.

Di lokasi tersebut, pengunjung bisa berfoto ria dan naik ke menara berlantai empat. Sementara di depan dekat jalan raya, orang berkerumun dan berfoto ria di tagline Benteng Moraya sambil mengamati tonggak-tonggak besar dengan relief bergambar dan berkisah tentang sejarah perang Tondano.

Tonggak-tonggak besar itu jumlahnya ada 12 buah. Enam tonggak di sebelah selatan dan enam yang lain di sebelah utara. Tonggak itu dipancangkan persis di belakang tulisan Benteng Moraya.

Uniknya, setiap tonggak diukir dalam bentuk relief gambar dan informasi tentang sejarah perang Tondano yang pertama (1661-1664) hingga perang Tondano keempat (1807-1809).

Ke-12 tonggak yang terpancang di muka benteng, mengisahkan betapa heroiknya perlawanan orang Tondano (Minawanua) hingga titik darah penghabisan. Tercatat ada empat kali perang Tondano. (Koran Sindo)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini