Kisah Haru Kucing Tama si Penjaga Stasiun di Jepang yang Telah Tiada

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 13 Januari 2018 09:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 11 196 1843784 kisah-haru-kucing-tama-si-penjaga-stasiun-di-jepang-yang-telah-tiada-39NQbyLAPh.jpg Kucing Tama si penjaga stasiun di Jepang (Foto: Telegraph)

NEGERI Sakura banyak menawarkan keunikan objek yang ramai dikunjungi wisatawan. Ada satu stasiun yang dijaga oleh seekor kucing lucu, tapi sayang dia sudah mati.

Kucing Tama dikenal menjadi penjaga stasiun yang setia sewaktu hidup. Setiap wisatawan yang melancong ke Jepang, pasti penasaran dengan stasiun yang dijaga oleh kucing tersebut.

Malangnya, kucing itu mati akibat penyakit gagal jantung. Kepergian Kucing Tama membuat banyak penduduk dunia sedih. Saking setianya, kucing yang telah tiada itu dianggap menjadi dewi.

Dikabarkan kucing malang itu mati di awal tahun 2007. Dia telah berjasa menjadi kepala stasiun besar di Kishi, Jepang. Sewaktu bertugas, Tama diam-diam menyambut calon penumpang kereta cepat yang hendak bepergian.

Kucing tersebut dengan cepat menarik wisatawan dan menjadi terkenal di dunia. Kontribusi kesetiaannya dianggap sangat berjasa bagi perusahaan kereta api di Jepang.

Tama mati di usia 16 tahun, tepatnya lahir di bulan April. Kabar dukanya dia meninggal pada 22 Juni 2007. Sebagai tanda penghormatan, kucing itu dimakamkan layaknya manusia, yakni dengan gaya Shinto yang menjadi agama asli yang dianut penduduk Jepang.

Di salah satu potret yang menghiasi altar, ada foto Tama berpose dengan topi kepala stasiun dan sebuah jubah biru tua. Sake, semangka, apel, kubis dan buah dan sayuran lainnya disajikan ke kucing itu selama upacara pemakaman.

Banyak karangan bunga yang berjejer rapi menghiasi lokasi pemakamannya. Tuna kaleng juga sebagai hadiah terakhirnya. Banyak orang mendoakan kepergian Tama, si kucing menggemaskan ini.

Presiden Wakayama Electric Railway Mitsunobu Kojima mengucapkan terima kasih kepada kucing atas prestasi dan jasanya. Dia mengatakan, Kucing Tama akan diabadikan di tempat suci.

Perusahaan kereta itu percaya, sebelum ada Kucing Tama yang menjadi penjaga stasiun, jalur kereta hampir sepi penumpang. Sejak ada kucing unik itu, stasiun mendadak ramai bak membawa berkah. Jadilah Kucing Tama dinobatkan sebagai kepala stasiun yang tak disangka oleh penduduk dunia.

"Tama sebagai chief station benar-benar melakukan pekerjaannya. Ini satu keajaiban yang tak disangka-sangka," katanya.

Kucing ini muncul seperti penyelamat atau dewi, sehingga menjadi satu kehormatan. Maka, kerjasama yang baik ini menjadi satu harapan baru yang membawa keberkahan.

"Selama masa jabatannya, Tama telah menyumbang pendapatan sekira 1,1 miliar yen atau setara Rp1,3 miliar," ungkap Kojima, dilansir Telegraph.

Namun, tiba-tiba Kucing Tama jatuh sakit sehari sebelum mati. Dia sangat lemah dan mengulurkan tangan untuk meminta pertolongan, seolah meminta pelukan dan matanya menatap tajam.

Sayang, nyawa Tama tak tertolong karena dokter sulit menyelamatkan kucing itu dari penyakit kronis. Semua penduduk Jepang sedih, begitu juga pengunjung setia stasiun dari mancanegara.

Namun kini, nama Tama jadi kenangan terindah dan tetap menarik minat wisatawan. Sayang, para pengunjung kini tak bisa melihat keluguan kucing itu karena sudah tiada.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini