Image

Kuasai Banyak Bahasa Asing Ternyata Turunkan Potensi Terkena Demensia

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018, 16:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 11 481 1843478 kuasai-banyak-bahasa-asing-ternyata-turunkan-potensi-terkena-demensia-0r0kkYy1O0.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Manusia dilahirkan dengan insting berbahasa. Otak kita secara alami terikat pada bahasa. Artinya, Anda dapat belajar bahasa asing apapun, kapanpun. Nah, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa orang yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa asing lebih kebal terhadap risiko pikun di usia tua. Simak penjelasannya dalam artikel yang dilansir dari hellosehat.com ini.

Apa yang terjadi saat otak belajar bahasa baru?

Penelitian menyatakan bahwa belajar bahasa asing meningkatkan fungsi otak. Kemampuan berbahasa terus-terusan melibatkan kedua bagian otak: otak kiri yang memproses logika (untuk memahami dan mengingat) dan juga otak kanan yang aktif dalam proses emosional dan sosial (untuk mengaitkan kosa kata baru dengan ingatan visual).

Belajar bahasa asing juga bisa meningkatkan ukuran otak Anda. Melalui sebuah penelitian di Swedia, hasil scan MRI otak menunjukkan bagian hipokampus dan area serebral korteks pada orang yang menguasai dua bahasa asing (bilingual) lebih besar daripada orang-orang yang hanya bisa satu bahasa saja. Area otak yang tumbuh ini terkait dengan bagian otak mana yang aktif ketika memelajari bahasa.

Orang yang berbicara lebih dari satu bahasa dengan lancar memiliki ingatan yang lebih baik dan lebih kreatif secara kognitif dan fleksibel secara mental daripada monolingual. Studi di Kanada bahkan melaporkan bahwa orang-orang bilingual memiliki ketajaman kognitif otak sampai tahun-tahun berikutnya.

Periset lain bahkan menemukan bahwa orang dewasa yang mahir menguasai dua bahasa memiliki fokus atensi dan konsentrasi lebih baik daripada mereka yang hanya berbicara satu bahasa, terlepas dari apakah mereka telah mengetahui bahasa kedua itu pada masa kanak-kanak, remaja, atau baru ketika dewasa.

Manfaat belajar bahasa asing untuk menurunkan risiko demensia

Manfaat peningkatan fungsi kognitif otak dari belajar bahasa asing dilaporkan dapat menjauhkan Anda dari risiko Alzheimer dan demensia. Keduanya adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan kepikunan akibat menurunnya fungsi kognitif otak.

Hal ini pun dibuktikan oleh sebuah studi yang dimuat dalam Journal American Academy of Neurology menemukan bahwa orang dewasa bilingual yang aktif menggunakan bahasa asing keahliannya secara teratur memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik ketimbang orang-orang yang hanya menguasai satu bahasa saja. Penelitian ini juga menemukan bahwa belajar bahasa asing mampu memperlambat perkembangan gejala Alzheimer untuk 4-5 tahun lebih lama daripada orang yang hanya bisa satu bahasa saja. Demensia bisa terjadi apabila Alzheimer terus dibiarkan berkembang tanpa ditangani.

Sebuah studi lain dari Pusat Penuaan Kognitif di Universitas of Edinburgh Skotlandia juga menemukan hal yang serupa. Dalam penelitiannya, para periset menemukan bahwa orang yang menguasai lebih dari satu bahasa memiliki kemampuan kognitif otak yang lebih baik ketimbang mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja.

Hal ini terjadi karena belajar dan berbicara bahasa asing akan membuat ingatan Anda tetap tajam sehingga mampu mempertahankan fungsi otak untuk melawan penuaan, seperti kepikunan. Bahkan para peneliti mengatakan bahwa manfaat tersebut tidak hanya terjadi pada saat mereka yang masih muda saja. Pasalnya, orang dewasa yang baru belajar bahasa asing pun akan ikut merasakan manfaat tersebut.

Nah, itu sebabnya tidak ada kata terlambat untuk belajar bahasa baru, demi peningkatan fungsi otak Anda.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan fungsi otak

Selain belajar bahasa asing, ada beberapa cara lain yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan fungsi otak sehingga bisa mencegah risiko demensia dini.

- Aktivitas fisik. Beraktivitas fisik membuat otak Anda bekerja secara optimal dengan menghasilkan protein brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang membantu meningkatkan aliran darah ke otak. Hal ini dapat mencegah kerusakan sel otak sehingga bisa mengurangi risiko terjadinya stroke dan membantu dalam pembentukan sel otak yang baru.

- Cukup tidur. Otak memerlukan istirahat untuk menyimpan serta memproses ingatan dan hal yang sudah dipelajari dengan baik. Tidur adalah salah satu cara terbaik untuk mengistirahatkan otak. Itu sebabnya, kekurangan waktu tidur akan menurunkan fungsi otak untuk berpikir dan memproses informasi.

- Perhatikan asupan nutrisi. Otak merupakan organ yang membutuhkan energi paling banyak untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Memperhatikan asupan nutrisi terbaik akan menyediakan energi yang cukup bagi otak untuk melaksanakan fungsinya dengan optimal.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini