Image

Berkenalan dengan Depok Reptile Amphibi Community, Komunitas Pencinta Reptil

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 13 Januari 2018, 14:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 12 196 1844265 berkenalan-dengan-depok-reptile-amphibi-community-komunitas-pencinta-reptil-sgeFDZ0yJ2.jpg Komunitas reptil (Foto:Wikipedia)

 

MEMELIHARA hewan peliharaan tampaknya sudah menjadi salah satu gaya hidup yang kini mulai digandrungi oleh berbagai kalangan. Bagaimana tidak, menurut para ahli, memelihara hewan ternyata dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan dan kondisi psikologi seseorang.

Namun seiring berkembangnya zaman, ternyata semakin banyak yang tertarik untuk memelihara hewan-hewan eksotis seperti ular, kadal, iguana, hingga buaya. Bahkan, kini sudah banyak komunitas-komunitas pencinta hewan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya adalah Deric (Depok Reptile Amphibi Community). Komunitas ini pertama kali dibentuk pada tahun 2010 oleh sekelompok mahasiswa yang memiliki hobi dan kecintaan yang sama terhadap reptil.

"Lama-lama bosan juga cuman ngumpul-ngumpul, akhirnya kami putuskan untuk membentuk komunitas. Tujuannya untuk memperkenalkan ke masyarakat umum kalau reptile itu bisa menjadi sahabat manusia. Kita juga bisa hidup berdampingan dengan mereka," tutur R Syah Putra Alam, salah satu member Deric, saat dihubungi Okezone via telepon, Jumat, 12 Januari 2018.

Saat ini Deric telah memiliki sekitar 60 member aktif dan 1.300 simpatisan yang tergabung dalam media sosial Facebook. Kegiatannya pun semakin beragam, tidak hanya sekadar ngumpul dan membahas info-info terupdate seputar reptile, tetapi juga melakukan bakti sosial seperti buka puasa bersama anak yatim-piatu, hingga membentuk divisi rescue.

BACA JUGA:

VIRAL! Seperti Manusia, Kelakukan Hewan-Hewan Ini Kok Bikin Gemes Sih

Divisi ini berfungsi untuk menanggulangi pengaduan masyarakat, ketika rumah mereka tidak sengaja dimasuki ular atau biawak liar.

 

"Biasanya akan kami sisir terlebih dahulu, kalau benar-benar ada akan langsung ditangkap lalu dilepaskan ke habitatnya," ujar Alam.

Alam menghimbau, agar masyarakat tidak gegabah ketika menyadari rumah mereka telah dimasuki hewan liar itu. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk menghindari sesuatu yang tidak diingkan.

"Kalau liat ular di rumah, jangan asal tangkap. Pastikan dulu jenis ularnya. Kalau berdiri biasanya adalah spitting cobra. Jadi harus pake kacamata untuk menghindari semburan bisa yang dikeluarkan. Janga coba-coba pegang kepalanya, sebaiknya gunakan tongkat panjang atau sapu," imbuhnya.

Lebih lanjut Alam menjelaskan, mengingat ular termasuk dalam kategori hewan berdarah dingin, masyarakat harus mewaspadai beberapa tempat yang sering dijadikan temput persembunyian mereka. Biasanya ular akan mencari tempat yang hangat, seperti di bawah tempat tidur, di dalam lemari, atau di saluran wastafel. Tapi paling sering itu di dalam lemari atau di sela-sela baju.

Lalu, jenis reptil apa saja yang dimiliki para member Deric?

"Paling banyak ular, kadal, katak, buaya. Pokoknya segala jenis reptil selain bunglon. Kenapa bunglon? Karena perawatannya itu ribet. Biasanya yang melihara bunglon itu orang-orang yang sangat telaten," kata Alam.

Menurutnya, bunglon cenderung sulit dirawat karena harus diberikan perawatan khusus serta dibuatkan kandang yang sesuai dengan habitatnya.

"Bunglon itu kalau mau minum harus di-inject atau disemprotkan ke permukaan tubuhnya. Mereka kalau di alam liar minum dari embun, tidak seperti kebanyakan reptil yang tinggal diberikan tempat minum, lalu mereka akan minum sendiri," ungkap Alam.

 

Saat ini, Alam memelihara 3 ekor ular jenis blood python, sanca bodo, dan boa. Tidak hanya itu, ia juga memelihara 5 ekor katak dan 1 ekor buaya. Menurutnya, salah satu kendala utama yang sering dihadapi selama memelihara reptil adalah memahami perilaku hewan-hewan tersebut.

"Kalau sudah masuk musim kawin, ular itu biasanya tidak akan makan selama berbulan-bulan. Hal seperti inilah yang terkadang membuat saya kebingungan, apakah mereka sedang sakit atau sedang birahi," tambahnya.

BACA JUGA:

GEMAS! Landak Ini Difoto bak Traveler, Mulai dari Berkemah hingga Pura-Pura Bermain Kano

Untuk urusan makanan, ia mengungkapkan bahwa memelihara reptil sebetulnya tidak "seribet" yang dibayangkan banyak orang. Bahkan biayanya cenderung lebih murah daripada memelihara anjing atau kucing yang harus diberi makan setiap hari.

"Biasanya ular memiliki rentan waktu puasa selama 1-2 minggu ketika sudah diberi makan. Makanannya pun tidak ribet. Untuk ular dengan ukuran 1,5 meter, saya hanya memberi 4-5 ekor tikus. Kalau buaya makananya daging ayam rebus, dan katak biasanya cuman makan jangkrik. Jadi setekor-tekornya orang pelihara reptil, lebih tekor orang yang pelihara anjing atau kucing," ujar Alam sambil tertawa.

Saat ditanya, apa yang membuat ia tertarik untuk memelihara reptil, Alam menuturkan ada banyak sekali dampak positif yang ia dapatkan. “Saya jadi lebih sabar, relaks dan terhindar dari stress karena pelampiasannya langsung ke hobi. Selain itu sekarang jadi lebih banyak teman dan banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapatkan," tukasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini