nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bolehkah Memelihara Satwa Langka? Ini Penjelasan WWF

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018 12:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 14 406 1844690 bolehkah-memelihara-satwa-langka-ini-penjelasan-wwf-CLJoXJoN3L.jpg Aturan memelihara hewan langka (Foto:Idntimes)

 

BEBERAPA waktu lalu, pihak TNI AL dari Lanal Dumai dan Western Fleet Quick Response (WFQR) berhasil menggagalkan upaya penyelundupan satwa langka trenggiling sebanyak 101 ekor. Ratusan hewan tersebut diamankan dari sebuah kapal nelayan di Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, yang rencananya akan diselundupkan ke Malaysia.

Kasus tersebut membuktikan bahwa tingkat perburuan satwa langka di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Chairul Saleh, Species Coordinator WWF Indonesia, sebagian besar satwa langka yang berhasil diselundupkan biasanya akan diniagakan hanya untuk memenuhi gaya hidup para konsumen.

BACA JUGA:

Berkenalan dengan Biji Ketapang SF, Komunitas Pencinta Burung Lovebird

Padahal, menurut Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi dan sumber daya alam, telah ditetapkan bahwa segala bentuk penyalahgunaan satwa langka seperti memelihara, meniagakan, atau menyimpan bagian tubuhnya termasuk tindakan kriminal dan akan dikenakan sanksi bagi yang melanggar.

"Sanksinya itu maksimal 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp100 juta. Setiap pelanggaran seharusnya mendapatkan tindakan tegas untuk menimbulkan efek jera. Karena penyelundupan satwa langka ini dapat mengancam populasi satwa itu sendiri," tutur pria yang akrab disapa Pak Uyung itu saat dihubungi Okezone via telepon, Jumat (12/1/2018).

Sayangnya, kasus perburuan serta penyelundupan satwa langka masih sering ditemukan meski sudah ada UU yang melarangnya. Hal ini disebabkan karena tingginya permintaan pasar terhadap satwa-satwa langka tersebut.

"Hukum pasar masih berlaku, meski dilakukan secara ilegal, masih banyak upaya perburuan di alam liar. Padahal, menyimpan bulu merak saja sudah bisa dikenakan sanksi," imbuhnya.

Untuk menanggulangi hal tersebut, Chairul mengungkapkan bahwa pemerintah harus melakukan sinergi dengan beberapa lembaga terkait, baik lembaga konservasi Ek-situ (contoh: kebun binatang dan safari), maupun dengan lembaga konservasi In-situ seperti WWF.

"Kebun binatang dan safari itu lembaga konservasi Ek-situ yang telah mendapatkan izin untuk memelihara satwa langka dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan. Mereka bertanggung jawab untuk memberikan edukasi dan informasi kepada pengunjung, agar mereka tahu populasi satwa di alam liar semakin terancam," tegasnya.

Masyarakat harus memahami pentingnya menjaga populasi satwa langka supaya mereka tidak memiliki pemikiran untuk memelihara, atau menyimpan bagian tubuh binatang demi memenuhi gengsi dan gaya hidup.

BACA JUGA:

Mengapa Islam Mengharamkan Jual-Beli Hewan Peliharaan?

"Jangan sampai hanya untuk gaya hidup dan sebuah gengsi, mereka rela membeli atau memelihara satwa langka. Disinilah peran penting kebun binatang untuk memberikan pengalaman edukasi, bukan hanya sekadar rekreasi. Minimal pengunjung bisa mengapresiasi, dan tidak memiliki keinginan untuk memelihara," jelas Chairul.

Perlu diketahui, sebagian besar satwa langka yang diperjualbelikan ternyata masih dalam keadaan bayi. Dalam arti lain, para pemburu harus membunuh induknya demi mendapatkan bayi-bayi malang tersebut.

"Kita harus tahu, untuk mendapatkan bayi orang utan induk mereka harus meregang nyawa karena dibunuh oleh pemburu. Pasalnya, satwa ini memiliki pola hidup arborial atau tinggal di atas pohon selama kurang lebih 7 tahun hingga sang bayi bisa beradaptasi dengan alam sekitarnya," tukas Chairul.

Jenis-jenis satwa langka lainnya yang sering menjadi incaran pemburu ilegal yakni, burung elang, anak harimau, bayi owa, trenggiling, badak, gajah, dan beberapa jenis primata lainnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini