Miliki Gangguan Kecemasan di Usia Dini Bisa Memicu Bipolar

Ajeng Dwiri Banyu, Jurnalis · Senin 15 Januari 2018 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 15 481 1844990 miliki-gangguan-kecemasan-di-usia-dini-bisa-memicu-bipolar-K2rd8bSpAp.jpg Ilustrasi bipolar (Foto: Netdoctor)

GANGGUAN kecemasan tak hanya bisa diderita oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Kecemasan dan depresi pada anak muda bisa menjadi faktor munculnya gejala awal gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang di mana ia mengalami perubahan suasana hati secara drastis.

Bipolar Disorder (BD) biasanya didahului dengan depresi dini atau gejala penyakit jiwa lainnya. Gangguan bipolar juga bisa disebabkan oleh faktor lainnya, seperti kelahiran prematur, cedera kepala, eksposur obat (terutama kokain), pelecehan fisik atau seksual , dan bentuk stress lainnya.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa kecemasan dan gangguan awal perhatian atau perilaku adalah dua pola gejala kejiwaan yang dapat membantu mengidentifikasi orang muda dengan peningkatan risiko pengembangan gangguan bipolar (BD).

Menurut para periset, tanda-tanda awal BD bisa menjadi pola “homotip” yang relatif khas, terutama terdiri dari gejala atau ciri lain yang terkait dengan gangguan mood atau pola “heterotip” dari gejala lain termasuk kecemasan dan perilaku yang mengganggu.

Faktor risiko lingkungan dan eksposur juga berkontribusi terhadap risiko BD. Tim menganalisis data dari 39 penelitian tentang gejala prodromal dan faktor risiko untuk pengembangan BD selanjutnya. Terkadang BD yang sudah berkembang lebih lanjut akan ditunjukkan oleh keadaan energi yang sangat tinggi dan berada di suasana hati yang besar atau biasa disebut dengan hypomania.

“Fase prodromal BD tetap tidak ditandai secara lengkap, membatasi deteksi dini BD dan menunda intervensi mungkin akan dapat membatasi morbiditas di masa depan.” jelas perist seperti dilansir Hindustantimes.

Bukti tersebut menyarankan dua pola gejala awal yang “mendahului dan memprediksi” BD kemudian. Temuan menunjukkan bahwa pola heterotipik terdiri dari jenis gejala prodromal lainnya, seperti kecemasan dan gangguan awal perhatian atau perilaku.

Pola ini memiliki sesitivitas dan spesifisitas yang rendah yaitu relatif sedikit pasien dengan gejala seperti itu yang dapat mengembangkan BD, sementara banyak anak muda tanpa gejala heterotopik mengembangkan BD.

Penelitian yang dipublikasikan di Harvard Review of Psychiatry Journal menyimpulkan bahwa pola gejala prodromal dan faktor risiko dapat menciptakan pendekatan baru untuk mengidentifikasi orang muda yang cenderung mengembangkan BD, dan mungkin mendapatkan manfaat dari perawatan dini.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini