nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Teh Kombuca, Produk Sampingan Teh Disulap Menjadi Fesyen

Ajeng Dwiri Banyu, Jurnalis · Minggu 21 Januari 2018 21:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 19 194 1847571 teh-kombuca-produk-sampingan-teh-disulap-menjadi-fesyen-bc81wIFJSy.jpg Teh Hijau disulap jadi fesyen (Foto: Phys)

BERBAGAI macam kreativitas yang ada saat ini bisa ditunjukkan dengan melakukan berbagai hal, salah satunya dengan fesyen. Banyak pula yang memanfaatkan limbah sebagai bahan baku yang murah meriah. Selain murah, mengelola kembali limbah dapat membuat lingkungan menjadi bersih dan terhindar dari bahaya penyakit.

Young-A Lee, seorang professor pakaian, merchandise, dan desain di Iowa State University berhasil menguji serat alami yang terbuat dari produk sampingan teh hijau. Lapisan yang disebut Scoby ini merupakan produk sampingan dari teh kombuca yaitu berupa lapisan yang ditumbuhkan dengan melarutkan gula, dan cuka dengan menggunakan koloni simbiotik bakteri dan ragi.

Young-A Lee in the lab with vest and shot prototypes made from new fiber

Melansir dari News.iastate.edu, Young-A lee mengatakan bahwa sifat-sifat film Scoby tersebut mirip dengan kulit setelah dipanen dan dikeringkan yang kemudian bisa digunakan sebagai bahan membuat pakaian, sepatu, dan bahkan tas tangan.

Dalam sebuah bab dari buku “Sustainable Fibers for Fashion Industry”, Lee menulis tentang hasil studi kasus serat selulosa. Materi juga telah diuji untuk berbagai aplikasi lain, seperti kosmetik, makanan, dan jaringan biomedis untuk pembalut luka, namun temuan ini relatif baru pada industri pakaian baru

Faktanya adalah serat pada produk ini 100 persen biodegradable sehingga sangat menguntungkan untuk industri fesyen yang setiap harinya menghasilkan banyak limbah. Dengan menggunakan Scoby, dapat memberikan tujuan baru pada produk sampingan teh sehingga mengurangi ketergantungan industri fesyen pada bahan tidak terbarukan.

Lee beserta tim peneliti menerima hibah penelitian dari Environmental Protection Agency untuk mengembangkan pakaian dan sepatu berkelanjutan dari serat selulosa yang telah dipanen tersebut. Mereka juga melakukan beberapa tes untuk menentukan apakah serat selulosa berbasis Scoby adalah alternatif yang layak untuk kulit pada industri fesyen.

Hasil tes pun mengungkapkan bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi adalah penyerapan air dan udara dari orang yang memakai rompi atau sepatu. Kelembapan dapat melembutkan bahan sehingga membuatnya kurang tahan lama. Periset juga menemukan bahwa kondisi dingin bisa membuat produk mudah rapuh.

Terlepas dari tantanganmnya, Lee mengatakan penemuan ini adalah langkah maju yang diperlukan. Lebih banyak yang dipertaruhkan dari sekadar limbah pakaian murah. Namun juga, bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan sintetis dan pewarna kain yang dapat mencemari air dan tanah.

“Kesadaran sosial dari konsumen akhir harus banyak bermain. Karyawan yang bekerja di industri fesyen juga perlu dididik sepenuhnya mengenai gerakan ini karena industri tidak bisa menggeser barang sekaligus. Kuncinya adalah mengubah nilai pandang mereka dengan mempertimbangkan kemajuan dan kondisi planet dalam jangka panjang.” ujarnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini