nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengulik Tempat Makan Cokelat yang Lagi Ngehits di Blitar

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 22 Januari 2018 12:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 22 298 1848390 mengulik-tempat-makan-cokelat-yang-lagi-ngehits-di-blitar-kOfWSuz1oQ.jpg Menu di restoran di Kampung Cokelat Blitar (Foto:Dimas)

SEBAGAI negara beriklim tropis, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah. Berbagai jenis tanaman tropis tumbuh subur di bumi pertiwi. Salah satunya adalah kakao.

Bahkan, menurut data yang dikeluarkan oleh ICCO, Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia dengan total produksi mencapai 777.500 ton kakao per tahun.

Namun jika dilihat dari segi komersial, popularitas produk yang dihasilkan dari biji kakao seperti cokelat kemasan, masih kalah populer dibandingkan olahan kopi yang kini tengah digandrungi berbagai kalangan.

BACA JUGA:

Makan Siang dengan 3 Olahan Daging, Termasuk Botok dan Perkedel Cabai

Menanggapi hal tersebut salah satu produsen kakao di Blitar, Jawa Timur, mulai berinovasi untuk menjadikan cokelat sebagai salah satu destinasi wisata kuliner yang berhasil menarik perhatian wisatawan. Tujuannya adalah untuk memajukan perekonomian warga di sekitar.

 

"Usaha awal kami sebetulnya adalah budidaya ayam. Tapi karena pada 2004 lalu terjadi wabah flu burung, usaha tersebut collapse, lalu kami beralih ke budidaya cacao. Setelah berkembang pesat, kami coba membuat tempat kuliner berbasis cokelat," tutur Akshin Alfata, Direktur Operasional Kampung Cokelat kepada Okezone, Minggu 21 Desember 2018.

Lebih lanjut Akshin mengatakan, promosi yang mereka lakukan sebetulnya berawal dari mulut ke mulut. Kemudian berkembang hingga berhasil menambah luas area hingga 5 hektar.

"Kami bagi-bagi brosur ke tk dan paud. Dari situ orang tua murid mulai promosi dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya cukup dikenal oleh masyarakat luas, karena kami juga menerapkan strategi sell photography, yaitu dengan menyediakan spot selfie untuk pengunjung. Dulu luas tempat ini hanya 250 m persegi, sekarang sudah 5 hektar," tambahnya.

Tahun lalu, Kampung Cokelat juga sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta kuliner Nusantara setelah mengadakan sebuah event unik bertajuk "tumpeng ketupat cokelat". Acara ini diadakan H-7 sebelum lebaran.

"Antusias pengunjung begitu besar, karena makanan yang kami sediakan itu benar-benar gratis. Jadi waktu saya teriak, mereka semakin semangat rebutan," ujar Akshin sambil tertawa.

Kampung Cokelat menawarkan berbagai jenis hidangan tradisional, hingga olahan makanan yang terbuat dari cokelat. Para pengunjung dapat mencicipi hidangan khas Jawa Timur seperti sayur lompong (batang talas), sayur otong (barang pisang), dan sayur tewel (nangka muda).

Untuk menu olahan cokelatnya sendiri, Akhsin merekemondasikan crispy cokelat yang terbuat dari remahan kue semprong lalu dicampurkan dengan cokelat. Ada juga olahan nasi cokelat, mie cokelat, dan jagung bakar cokelat.

BACA JUGA:

Teh vs Kopi, Mana Kandungan Kafeinnya yang Lebih Tinggi?

 

Harganya pun relatif terjangkau yaitu mulai dari Rp5 ribu - Rp20 ribu saja. Sedangkan untuk produk cokelat kemasan berkisar Rp10 ribu - Rp100 ribu.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, sejak awal pihak Kampung Cokelat telah mengusung konsep family friendly. Tak heran jika objek wisata ini dilengkapi berbagai wahana permainan anak yang berbasis eco tourism seperti cooking class, bioskop mini, menangkap ikan, dan playground. Selain berwisata kuliner para pengunjung juga mendapatkan ilmu atau edukasi dari tempat tersebut.

Tidak seperti kebanyakan tempat, para pengunjung diperbolehkan membawa makanan dari luar, namun harus tetap membayar tiket masuk seharga Rp5 ribu. Kampoeng cokelat terletak di Jl. Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kademangan, Blitar, Jawa Timur.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini