nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada! Penderita Palpitasi Tingkatkan Risiko Serangan Jantung Mendadak

Ajeng Dwiri Banyu, Jurnalis · Senin 22 Januari 2018 16:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 22 481 1848521 waspada-penderita-palpitasi-tingkatkan-risiko-serangan-jantung-mendadak-LM0OaLgzJ2.jpg Ilustrasi (Foto: Nydailynews)

PERNAHKAH Anda merasa berdebar-debar padahal tidak sedang mengalami hal yang buruk? Istilah untuk Anda yang mengalami perasaan berdebar secara terus-menerus ini adalah palpitasi.

Palpitasi adalah sensasi yang dirasakan saat jantung berdentum kuat, cepat, dan tidak beraturan. Namun, jangan sepelekan hal ini karena bisa mengindikasikan bahaya serius dan menyebabkan serangan jantung mendadak. Irama normal detak jantung adalah saat jantung berdetak sekitar 60 sampai 100 denyut per menit dan terjadi ketika tubuh sedang beristirahat.

Fungsi jantung kita bergantung pada aktivitas listrik yang menciptakan impuls dan diperlukan untuk menyebabkan jantung berdetak serta memompa darah. Penyimpanan pada pemicu pola normal impuls listrik sering terjadi sehingga menyebabkan aritmia jantung.

 (Baca Juga: Ketika Artis Hollywood Punya KTP Indonesia, Bukti Kreativitas Netizen yang Luar Biasa)

Dr. Vanita Arora seorang Direktur dan Kepala Laboratorium Elektrofisiologi Jantung dan Layanan Aritmia, mengatakan bahwa sulit untuk memprediksi jumlah orang yang meninggal karena penyakit ini. Studi Beban Penyakit Global memperkirakan 24,8% kematian pada Negara India disebabkan oleh kardiobaskular (CVD).

Melansir dari Hindustantimes, penyebab lain yang dapat menjadi faktor utama serangan jantung mendadak adalah obesitas, ketidakseimbangan elektrolit dalam darah, dan penyakit jantung yang diderita sendiri. Selain mengetahui berapa irama jantung normal, ada kira-kira selusin jenis aritmia jantung yang dapat Anda kenali.

 (Baca Juga: Teh vs Kopi, Mana Kandungan Kafeinnya yang Lebih Tinggi?)

Namun, beberapa ritme dapat menjadi indikasi berbahaya, seperti seseorang yang memiliki detak jantung lamban (bradikardia), detak jantung cepat (takikardia), fluttering (fibrilasi), detak jantung tertinggal, atau kontraksi dini.

“Bila jantung tidak berfungsi dengan baik untuk jangka waktu yang lama dapat menimbulkan situasi yang menyebabkan serangan jantung mendadak. Serangan jantung mendadak berarti jantung tiba-tiba berhenti berfungsi karena ketidakteraturan impuls listrik, yang disebabkan ketidakmampuan otot jantung memompa darah,” tutur Arora dikutip dari Hindustantimes, Senin (22/1/2018).

Serangan jantung mendadak menyebabkan kematian seketika para penderitanya. Beberapa gejala umum yang biasa dirasakan adalah berbagai bentuk detak jantung tidak teratur yang meliputi sesak napas, pusing, nyeri dada, palpitasi, berkeringat, dan kebingungan.

 (Baca Juga: Awas, Ini Bahaya Pakai Cat Kuku saat Hamil!)

Pemeriksaan untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan mengunjungi ahli elektrofisiologi jantung. Para ahli penyakit ini akan membantu menentukan apakah aritimia berbahaya atau tidak.

Dengan menghindari pemakaian obat-obatan terlarang, peningkatan aktivitas fisik, perubahan pola makan, pemantauan nadi berkala, dan pengendalian faktor risiko dipastikan untuk Anda dapat memiliki tubuh yang sehat.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini