nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berkenalan dengan Keluarga Pembuat Lukisan dari Tusuk Gigi Asal Trenggalek

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 26 Januari 2018 07:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 25 406 1850257 berkenalan-dengan-keluarga-pembuat-lukisan-dari-tusuk-gigi-asal-trenggalek-p2kiXevzre.jpg Lukisan dari tusuk gigi (Foto:Avirista)

TUSUK gigi bagi sebagian besar orang merupakan alat untuk membersihkan makanan di sela - sela gigi. Namun siapa sangka tusuk gigi yang menurut sebagian besar orang tak berharga di tangan seseorang kreatif asal Kabupaten Trenggalek menjadi barang yang bernilai seni tinggi.

Di rumahnya di Desa Panggungsari RT 3 RW 1, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Arsdyansyah Anamta Firdauzie menyulap tusuk gigi dan beragam bahan bekas menjadi bahan seni yang sedikit 'aneh' namun berharga mahal.

Sekilas bila Anda berkunjung, rumah ini tidak ada berbeda dari rumah - rumah di sekitarnya. Pepohonan dan tanaman rimbun khas pedesaan menyambut tamu ketika memasuki pekarangan rumah miliknya.

BACA JUGA:

Asyik, Masuk Wisata Gunung Galunggung Kini Cukup Sekali Bayar

Namun ada hal menarik yang bisa dilihat, satu unit vespa dengan motif batik berwarna hijau yang khas terparkir di depan teras mulai memberikan gambaran bagaimana dan siapa sang empu rumah.

Tampilan vespa yang artistik dan 'khas' membuat rumah yang masih berstatus 'ngontrak' ini tampak beda dari sekitarnya dan mencerminkan pemilik rumah berjiwa seni.

"Vespa tersebut saya lukis dengan motif batik dengan tusuk gigi. Langsung saya lukis tanpa memberi cat pelapis," ujarnya kepada Okezone, saat bertemu di kediamannya, Selasa 23 Januari 2018.

 

Benar saja bukan hanya motif cat kendaraan bermotor saja yang unik. Aksesoris kendaraan bermotor pun cukup unik.

Jika kebanyakan sepeda motor menggunakan box di belakang kendaraannya dengan harga mahal. Pria berusia 48 tahun ini lebih memilih menyulap barang 'murah' menjadi barang yang berkualitas seni tinggi.

Ia lebih memilih memasang kerajinan anyaman dari bambu berupa tampah yang biasa digunakan penjual kue berjualan keliling, sebagai box dan tempat menaruh ban cadangan.

"Makanya kalau ketemu orang pasti ditanya jualan kue apa. Padahal isinya ini 'perkakas perang' mulai dari alat elektronik hingga ban cadangan vespa," kelakarnya.

Melukis dengan tusuk gigi bersama keluarga

Bila Anda memasuki ruangan rumah akan tampak beberapa hasil karya lukisannya yang dibuat dari tusuk gigi. Memadukan kombinasi 90 persen lebih pewarna alami dan tak kurang 10 persen dari pewarna kimia menjadikan lukisan tusuk gigi T - Wool ini ramah lingkungan.

Uniknya lukisan dari tusuk giginya juga tidak hanya dengan media kanvas saja, melainkan juga dari kaos, gelas, jilbab, sepeda Pancala, hingga vespa kesayangannya.

Uniknya, keahlian melukis dengan tusuk gigi bukan hanya dimilikinya. Namun juga sang istri Siti Fatimah dan putri keduanya yang berusia 6 tahun, Zahira Septia Anamta.

Sang istri dengan cekatan membuat batik tulis dengan tusuk gigi di kain jilbab polos. Awalnya sang istri hanya iseng - iseng membuat batik pada kain jilbab polos.

"Dulu awalnya iseng - iseng saja. Awalnya memang disuruh nyoba melukis tidak mau, tapi ketika sudah menghasilkan karya pertama di gelas ketagihan," ujar perempuan yang akrab disapa Fatimah ini.

Awalnya sebelum melukis di jilbab, Fatimah mengaku menggoreskan tusuk giginya di gelas kaca. "Dulu pertama melukis satu gelas. Terus ketika selesai saya belikan lagi 1 lusin gelas," ungkap sang suami selagi tertawa.

 

Menurutnya hasilnya cukup bagus meski sang istri tak memiliki jiwa seni. Bakat melukis pun diwarisi oleh sang anak yang kini berusia 6 tahun, Zahira Septia Anamta. Bocah yang duduk di kelas 1 SD ini sudah bisa menghasilkan prestasi meraih juara 1 lomba melukis dari Italia melalui Internet.

Rara panggilan akrabnya juga sudah mahir melukis batik di berbagai objek termasuk kaos dengan menggunakan tusuk gigi. Tak jarang tingkahnya ini menarik pengunjung yang datang ke gubug T-Wool.

"Bila saya mengadakan pelatihan melukis dan pameran UMKM, Rara saya ajak supaya dia mempunyai pengalaman. Tak jarang banyak orang yang tertarik dengan lukisan dan tingkah laku khas anak kecilnya," ujar sang ayah, Ardyan.

Tak hanya kaos, vespa dan sepeda unta yang terparkir di rumah menjadi bukti bagaimana kreativitasnya melukis benda yang sudah lama dan tak menarik menjadi kendaraan sekaligus karya seni bernilai tinggi.

Mengolah Bahan Daur Ulang dan Sampah

Tak cuma melukis batik dengan tusuk gigi saja, Ardyan juga mengolah barang - barang yang tak terpakai menjadi karya seni berharga tinggi. Tulang ayam dan sapi misalnya, tulang yang dagingnya telah masuk ke perut manusia ini dirangkai menjadi beragam bentuk mulai dari dinosaurus hingga robot mainan.

Sampah daun yang mengering, korban bekas, dan kardus bekas pun bisa diolah menjadi barang seni, sebuah lampu hias dari bahan bekas yang dijual seharga Rp250.000. Tak berhenti di sana, tampah - tampah yang acap kali digunakan penjual kue menaruh dagangan, ia sulap menjadi lampion dengan 4 tingkat dengan harga kisaran Rp500.000.

Tak cukup daun, kardus bekas, koran bekas, ia juga memanfaatkan pipa air untuk membuat satu rangkaian tripod kamera sekaligus stabilizer.

"Bila pada umumnya tripod dan stabilizer kamera dijual di pasaran Rp2 juta ke atas. Saya cukup dengan harga Rp500.000. Namun ini masih dalam proses penyempurnaan. Jadi belum berani saya produksi massal," terang pria yang akrab disapa Tiwul ini.

Dari 'Recehan' Hingga Dihargai Jutaan

Siapa sangka, awal karier pria berusia 48 tahun ini tak selamanya mulus. Ia mengenal lukis dengan tusuk gigi berawal dari iseng - iseng usai mendapat motivasi dari seorang seniman asal Jombang.

"Awalnya saya mendapat 3 buah pesanan kaos dari konsumen di Jakarta di tahun 2015. Saya melukisnya dengan tusuk gigi, saya kirim ke Jakarta," tuturnya saat ditemui di rumahnya. Kaos tersebut ternyata di hargai Rp75.000 per kaos ditambah satu unit laptop ditambah uang Rp1 juta rupiah. Dari sana ia mengaku termotivasi untuk menghasilkan karya - karya lainnya.

Kini dengan semakin terasahnya kemampuannya, karya Ardyan sudah dihargai jutaan rupiah. Bahkan salah satu kaos yang ia buat ditawar oleh salah seorang asisten Bupati Trenggalek, Emil Dardak senilai Rp2 juta, namun tak ia lepaskan. "Batik ini terdiri dari tanda tangan Bupati Trenggalek Emil Dardak, istrinya Arumi Bachsin, dan 11 tokoh penting di Trenggalek. Kemarin ditawar salah satu asisten bupati tapi saya tidak mau lepas," ujarnya.

Kaos polos bertanda tangan Emil Dardak yang ia lukis dengan batik motif Jatayu, manusia, dan jaranan. Jatayu sendiri diibaratkan Indonesia bila dalam tokoh pewayangan, sementara Manusia diumpamakan objeknya, serta jaranan menjadi bagian dari ikon Trenggalek. Jadi dapat diartikan sosok Emil Dardak itu ibarat sang penggebrak bagi Indonesia yang dimiliki Kabupaten Trenggalek.

Satu lagi batik tulis tusuk giginya yakni tanda tangan Menteri Koperasi dan UKM asli, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga yang sedang proses pengerjaan motif batiknya ia banderol dengan harga di atas Rp2 juta rupiah per kaos. Namun kaos batik dari tanda tangan Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga ini belum selesai ia kerjakan. "Ini dapat tanda tangan beliau waktu ikut pameran UMKM di Surabaya 2017 pertengahan lalu. Ya inginnya lebih mahal lah dari yang tanda tangan kelasnya bupati," ungkapnya sambil tertawa.

Ia juga mengincar salah tanda tangan orang nomor satu di Indonesia yakni Presiden Joko Widodo. Bila hal itu terwujud ia ingin membuat motif batik khusus dari tanda tangan sang Presiden. "Inginnya Presiden. Tapi susah dan seperti mustahil ketemu beliau, Jokowi itu kan padat sekali jadwalnya," tukasnya.

Karyanya pun sudah dijual hingga ke beberapa negara di luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia, Hongkong, Inggris, hingga Kanada.  Bahkan ia kini baru akan 'bekerja' usai konsumen memesan kepada dirinya. Hal ini supaya motif yang 'eksklusif' dapat terasa dari karya seni miliknya.

 

"Namanya motifnya eksklusif ya harganya juga saya kira - kira saja. Saya biasanya jual kaos motif batik ke pemesan Rp 250.000 per kaos," jelas pria kelahiran Sidoarjo ini.

Menurutnya proses pengerjaan kaos batik tulis dari rusuk gigi memiliki rentang waktu yang berbeda - beda. Ada yang selesai sehari, tapi ada yang selesai hingga 7 hari. "Melukisnya mudah. Yang susah itu menggali inspirasi mau dimotif apa kaos tersebut. Karena harus memiliki filosofi kebudayaan jawa," pungkasnya.

Ia berharap pemerintah pusat terus memfasilitasi seniman dan pengrajin yang lain guna menyejahterakan pelaku itu sendiri.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini