Jangan Malas Makan Sayur, Konsumsi Rutin Kacang Polong dan Brokoli Cegah Obesitas

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 25 Januari 2018 11:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 25 481 1849990 jangan-malas-makan-sayur-konsumsi-rutin-kacang-polong-dan-brokoli-cegah-obesitas-qtniBGA9gP.jpg Kacang polong dan brokoli cegah obesitas (Foto: Zeenews)

OBESITAS efek dari kelebihan gizi yang dihadapi seseorang, terutama anak-anak. Dengan cepat, peningkatan jumlah obesitas terjadi tanpa disadari masyarakat

Di dunia, bahkan masalah obesitas sudah menjadi hal publik. Meningkatnya jumlah orang gemuk bisa menjadi indikator bahwa seseorang tidak menjalankan gaya hidup sehat.

Padahal obesitas jadi salah satu pemicu penyakit kronis. Seperti diabetes, hipertensi, hingga gangguan hormonal. Hal itu juga bisa merembet ke penyakit lainnya yakni jantung, stroke, bahkan kanker.

Belum lagi, orang obesitas menjadi malas bergerak, sekalipun untuk olahraga. Padahal olahraga penting dilakukan, selain menjaga pola makannya.

Obesitas juga menjadi pemicu bagi banyak masalah kesehatan lainnya seperti diabetes, hipertensi dan gangguan hormonal.

Seharusnya, setiap orang harus membiasakan diri menjaga pola makan agar tidak mengalami masalah obesitas. Setiap hari Anda harus mengonsumsi sumber protein, lemak baik, karbohidrat, dan beberapa zat gizi lainnya.

Baru-baru ini, sebuah penelitian menyarankan agar seseorang menambah asupan makanan berserat. Seperti kacang polong, brokoli, raspberry, blackberry, hingga kelapa. Makanan tersebut harus dikonsumsi setiap hari untuk menghindari kemungkinan obesitas, dilansir Zeenews, Kamis (25/1/2018).

Baca Juga : Ini 5 Manfaat Brokoli yang Tak Pernah Anda Sangka

Periset dari Universitas Georgia, konsumsi serat makanan dapat mencegah obesitas, sindrom metabolik dan perubahan yang merugikan di usus. Caranya dengan mendorong pertumbuhan bakteri "baik" di usus besar.

Temuan menunjukkan, orang yang memperbanyak konsumsi serat dan sumber lemak baik, dapat mencegah obesitas secara otomatis. Anda juga terhindar dari masalah sindrom metabolik.

Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi yang terkait erat dengan obesitas. Cakupan berupa peningkatan tekanan darah, gula darah tinggi, lemak tubuh berlebih di sekitar pinggang dan kadar kolesterol atau trigliserida abnormal.

Bila kondisi ini terjadi bersamaan, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan diabetes. Sementara itu, obesitas dan sindrom metabolik dikaitkan dengan perubahan mikrobiota usus, yakni populasi mikroorganisme yang hidup di usus.

Studi ini menemukan ada peningkatkan produksi sel epitel usus dan mengembalikan ekspresi protein interleukin-22. Hal ini mencegah mikrobiota usus dari sel epitel yang menyerang.

Peneliti Dr Andrew Gewirtz mengatakan, ada manipulasi kandungan serat makanan. Terutama jika Anda menambahkan serat fermentasi, sebagai penjaga terhadap sindrom metabolik.

Studi ini pada dasarnya dilakukan selama empat minggu. Tim tersebut memberi makan tikus sebagai bahan percobaan.

Diet tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan obesitas, yang terkait dengan sindrom metabolik. Hasilnya menunjukkan bahwa serat selulosa yang tidak larut hanya mengurangi obesitas dan disglycemia secara sederhana. Lebih lengkapnya, penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Cell Host & Microbe.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini