Share

Pahami 1000 Hari Pertama Kehidupan Kunci Cegah Gizi Buruk dan Stunting

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 25 Januari 2018 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 25 481 1850088 pahami-1000-hari-pertama-kehidupan-kunci-cegah-gizi-buruk-dan-stunting-bxYvP3iNOZ.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

DALAM data yang dimiliki WHO Indonesia telah ditetapkan sebagai negara dengan status gizi buruk. Pasalnya, sebanyak 7,8 juta dari 23 balita di Indonesia mengalami stunting.

Lebih parahnya lagi, Indonesia telah berada pada posisi kelima dunia sebagai negara dengan stunting tertinggi. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada Negara Indonesia, mengapa? Karena stunting dan gizi buruk akan menimbulkan dampak buruk bagi anak tersebut dan masa depan bangsa.

“Seorang anak yang pendek (stunting) karena kurang makan (malnutrisi) akan meningkatkan kematiannya, iqnya rendah, penghasilan setelah dewasa juga kurang. Nggak ada kan pilot yang badannya pendek? Pilot gajinya gede kan? Nah, kemudian secara ekonomi anak yang stunting nggak menguntungkan negara,” jelas Dr. Damayanti Rusli S, SpAK Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI, dalam pemaparannya beberapa waktu lalu di Jakarta.

Lebih lanjut, Dr. Damayanti menjelaskan kemampuan otak dan kesehatan anak dibentuk mulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang selama ini disalah artikan oleh banyak ibu rumah tangga jadi 1000 hari setelah kelahiran. Padahal, 1000 HPK dimulai sejak dalam kandungan bukan sejak anak dilahirkan.

“Nah, 1000 hpk itu pembagiannya, 270 hari saat kehamilan, 365 pada tahun pertama bayi lahir, ditambah 365 pada tahun kedua, jadi totalnya 1000 hari,” imbuh Dr. Damayanti.

Dalam 1000 hari emas tersebut banyak pertumbuhan penting yang terjadi pada bayi. Misalnya saja pertumbuhan otak, kemampuan melihat, berbicara dan bahasa, motorik, berhitung, pembentukan emosi, dan baru pada usia empat tahun anak mulai menunjukkan dan bisa bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

Kemudian, Dr. Damayanti juga menjelaskan tidak hanya di Papua, Jakarta pun banyak dijumpai anak dengan gizi buruk, tapi tidak terekspos media. Dr. Damayanti memberikan salah satu pasien yang ditanganinya sebagai contoh.

“Anak ini datang ke kami umur 16 bulan, saat itu berat badannya hanya 3,6 kilogram, berat lahirnya 3 kilogram. Anak ini mendapatkan ASI eksklusif, tapi saat empat bulan ibunya harus bekerja, sehingga terpaksa diberikan susu formula. Apa yang terjadi? Dia alergi, lalu digantilah susunya dengan susu kedelai atau soya,” tutur Dr. Damayanti sambil menunjukan foto pasien anaknya.

Masih dalam ceritanya, Dr. Damayanti kemudian mengatakan susu kedelai bukanlah obat bagi anak yang alergi susu formula. Akhirnya, setelah berkepanjangan anak tersebut dibawa ke rumah sakit dan digantilah susunya dengan susu untuk bayi yang alergi.

“Nggak lama berat badannya bagus. Anak ini juga bisa bernyanyi, jalan, kita lihat juga grafiknya naik. Tapi, saya khawatir begitu masuk sekolah bagaimana kelanjutannya? Benar saja, dia tidak bisa masuk sekolah biasa, harus sekolah luar biasa, biayanya tidak sedikit, kasihan orangtuanya,” lanjut Dr. Damayanti.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini