nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Ampuh Menghindari Dampak Permanen Stunting & Gizi Buruk pada Anak

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 26 Januari 2018 19:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 25 481 1850261 cara-ampuh-menghindari-dampak-permanen-stunting-gizi-buruk-pada-anak-F7VGhBvU4s.jpg Bahaya dampak permanen stunting (Foto:Ist)

STUNTING dan gizi buruk menjadi dua masalah terkait gizi yang kini sedang disorot di Indonesia. Ada banyak dampak buruk stunting dan gizi buruk yang diderita oleh anak-anak, lebih parahnya lagi dampak tersebut permanen, dan tidak bisa dihilangkan.

Otak menjadi salah satu organ yang paling penting bagi seorang manusia, yang jika seorang anak mengidap gizi buruk, maka akibatnya jaringan otak menjadi sedikit. Dampaknya akan cukup nyata, anak jadi lamban dalam merespons dan berpikir.

“IQ anak yang gizi buruk lebih rendah daripada yang tidak gizi buruk. Pada usia 14 tahun IQ-nya bisa mencapai angka 90, tapi tidak bisa naik lagi. Kalau seorang bayi pernah mengalami gizi buruk, maka 65 persen IQn-nya tidak bisa lebih dari 90 dan 25 persen lainnya hanya di bawah 90,” jelas Dr. Damayanti, Rusli S, SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI, dalam pemaparannya beberapa lalu di acara Peringatan Hari Gizi Nasional, Jakarta.

BACA JUGA:

Kentut 20 Kali per Hari, Normalkah?

Dr. Damayanti juga mengatakan anak yang pernah mengalami gizi buruk nantinya memiliki kemampuan kerja yang terbatas, yang mengakibatkan pendapatannya juga tidak bisa tinggi. Stunting dan gizi buruk merupakan dampak dari malnutrisi yang terjadi pada 1000 Hari Kehidupan Pertama seorang anak, yang permanen dampaknya.

“Seorang anak yang pernah mengalami gizi kurang dan stunting kemampuan kognitifnya kurang, kecerdasannya kurang, ada hambatan pada perkembangannya, terjadi penurunan fungsi kekebalan, dan gangguan sistem pembakaran lemak. Sementara, pada saat dewasa, bisa obesitas, mengalami penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis,” lanjutnya.

Masih dalam pemaparannya, Dr. Damayanti juga menjelaskan, anak yang terkena gizi buruk dimulai dari berat badannya yang kurang sejak usia tiga bulan setelah lahir. Kemudian, saat memasuki usia enam bulan, bayi yang semula hanya dapat asupan dari ASI, maka ketika berusia enam harus ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI).

“Biasanya anak makan ASI sampai 6 bulan lalu ditambah MPASI, tapi ASI tiap ibu berbeda, yang tidak cukup mesti diapakan? ASI itu penting dibandingkan susu formula, tapi waktu enam bulan ASI sudah cukup lagi kandungan gizinya sehingga harus tambah MPASI. Gizi yang paling rendah dalam asi saat sudah memasuki enam bulan adalah zat besi,” tambahnya.

Kebiasaan ibu di Indonesia memberikan MPASI pada anaknya hanya buah-buahan dan sayur-sayuran tertentu saja, seperti pisang ambon, sayuran yang dilumatkan bersama bubur nasi, tanpa tambahan sumber makanan MPASI yang lainnya. Padahal, kandungan zat besi yang terkandung dalam buah-buahan, sayuran, dan bubur nasi yang dimakan salah satunya saja tidak bisa mencukupi zat besi yang diperlukan untuk pertumbuhan otak, yaitu 11 miligram.

“Dalam 100 gr pisang zat besinya hanya 0,5 miligram, padahal untuk pertumbuhan otak butuh 11 miligram, beras putih hanya 0,2 mg. Untuk itu, anak tidak bisa dikasih makan cuma sayuran dan buah saja, sayuran dan buah mengandung serat tidak boleh dimakan banyak-banyak oleh bayi, boleh dikasih tapi setelah 2 tahun. Serat tidak masuk dalam otak, hanya lemak, karbohidrat, dan protein saja,” ujarnya.

Tapi, dalam pemaparannya Dr. Damayanti juga menegaskan, sayur-sayuran dan buah-buahan diberikan pada anak saat usia enam bulan untuk mengenalkannya pada rasa sayur dan buah. Untuk cara pengenalannya tidak perlu diberikan banyak-banyak.

“Cara mengenalkan anak pada rasa sayur, berikan jangan banyak-banyak, pokoknya anak bisa kenal rasa, kadang-kadang rasa sayur itukan tidak enak. Jadi, kalau anak tidak dikenalkan dari bayi nanti dia enggak mau,” tambahnya.

BACA JUGA:

5 Fakta Gizi Buruk di Asmat yang Mencengangkan

Namun, memberikan sayuran dan buah pada bayi juga tidak boleh banyak-banyak, sebab menurut Dr. Damayanti, kalau terlalu banyak diberikan pada bayi, yang terjadi justru semua mikronutrien yang susah payah dimasuk bisa ditarik lagi. Sementara, untuk pertumbuhan otak bayi, dibutuhkan makanan yang banyak mengandung lemak, karbohidrat, dan protein.

“Selain itu, ibu juga perlu mendeteksi adanya gizi buruk dan stunting sejak dini dengan cara mendeteksi kemungkinan salah satunya penurunan berat badan. Ibu harus rutin setiap bulan pada tahun pertama, setiap tiga bulan pada tahun ke dua dan ke tiga, setiap enam bulan pada tahun keempat dan kelima, menimbang berat badan anak, mengukur lingkar kepala, dan mengukur tinggi badannya di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya. Kalau masih ASI dan berat badannya turun harus dicari tahu apakah ASInya cukup dan cari penyebabnya,” tandas Dr. Damayanti.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini