nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pilu Seorang Ibu Harus Lahirkan Secara Normal Janin yang Telah Meninggal

Annisa Aprilia, Jurnalis · Sabtu 27 Januari 2018 18:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 26 481 1850691 kisah-pilu-seorang-ibu-harus-lahirkan-secara-normal-janin-yang-telah-meninggal-MZqdvJhcjO.jpg Fiona Farmiloe saat mengandung Sebastian (Foto: Ist.)

CERITA berikut ini dibagikan oleh seorang ibu bernama Fiona Farmiloe dan pasangannya Oli, yang kehilangan calon bayi mereka saat berumur 38 minggu kehamilan, yang artinya sudah menginjak 9 bulan lebih.

Dengan tegar ia menceritakan kesedihannya kala terpaksa kehilangan bayi yang sudah dinanti-nanti. Melansir dari Daily Mail, Fiona mengaku tidak akan pernah bisa melupakan saat dokter menyatakan dirinya harus kehilangan bayi yang sudah dikandungnya selama 9 bulan.

"Saya tidak akan pernah melupakan saat dokter menyatakan bela sungkawa pada kami. Dokter mengatakan, 'Maaf bayimu telah meninggal,' ucap dokter kandungan yang menangani saya. Kata-kata itu terasa bagai jarum yang menusuk begitu dalam," ucap Fiona.

Saat peristiwa menyakitkan itu terjadi, Fiona berusia 31 tahun dengan kehamilan telah memasuki minggu ke 38. Dia masuk rumah sakit, ditemani anak sulungnya, Sienna yang baru berusia dua tahun.

Tidak ada masalah apapun awalnya

Semula tidak ada masalah selama masa kehamilan, dengan santai Fiona mengobrol bersama bidan tentang acara baby shower yang akan diadakan keesokan harinya. Dengan mantap Fiona naik ke atas ranjang dan bidan mulai menyiapkan mesin yang berguna untuk mendengarkan detak jantung janin yang dia kandung selama ini.

"Saya merasa tenang karena bidan memang selalu menggunakan alat tersebut setiap kali saya periksa kandungan dan bidan selalu mendeteksi detak jantung yang kuat. Bayi kami rupanya sangat aktif. Saya ajak pada Sienna untuk turut mendengarkan detak jantung calon adiknya," imbuhnya.

 

Dinyatakan meninggal

Akan tetapi, setelah beberapa menit, bidan mengalami kesulitan untuk menemukan detak jantung janin menggunakan mesin itu, tapi dia tetap meminta Fiona untuk tidak khawatir. Gili, bidan Fiona akhirnya mendapat bantuan dari bidan lain untuk memeriksanya, namun lagi-lagi mengalami kesulitan. Akhirnya, mereka menyuruh Fiona ikut dengan mereka agar melakukan pemindaian cepat, sambil mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Seketika saya merasa mulut menjadi kering dan jantung seakan ingin keluar dari dada saat mereka mengantarkan saya ke sebuah ruangan untuk dipindai. Begitu bayangan bayi itu muncul di layar, saya tahu ada sesuatu yang sangat salah. saya bisa melihat dia tidak menendang seperti biasanya. Perawat itu lalu menggosok lenganku dan berkata 'aku minta maaf'," lanjutnya.

Fiona langsung melompat dari tempat tidur begitu cepat saat mereka mencoba menyeka gel dari perutnya. Fiona menatap Sienna yang sedang bermain di kursi di sampingnya, berharap dia tidak menyadari apa yang baru saja terjadi pada ibu dan calon adiknya.

"Sementara mereka membawa kami ke ruangan lain, saya meraih telepon untuk menelepon suami saya, Oli. Yang bisa saya katakan saat itu adalah, 'Anda harus datang ke rumah sakit, mereka tidak dapat menemukan detak jantung'. Oli tenang dan bilang pada saya tidak perlu khawatir. Tapi bayi kami sudah pergi. Saya sangat terpukul pada saat itu. Saya sangat shock dan panik," ujarnya.

Fiona bertanya apakah mereka bisa membawa bayi itu keluar dari rahimnya sekarang juga dan menyelamatkannya tapi bidan bilang tidak bisa. Rupanya, Oli menanyakan hal yang sama segera setelah dia masuk.

"Saya sangat ingin bertemu dengan Oli, tapi saya tidak ingin melihat rasa sakit atau kekecewaan di wajahnya. Saya merasa sangat sedih, anak laki-laki yang sangat dinantikan itu telah hilang," ucapnya.

Saat itu Fiona hampir tidak bisa menarik napas, tapi ia bertekad untuk tidak tampak hancur di depan Sienna. Maka, Fiona mencoba tersenyum dan berbicara dengannya sambil menahan air mata.

Proses melahirkan bayi meninggal

 Oli bergegas beberapa saat kemudian, ia terlihat sangat pucat dan khawatir, dan bertanya apakah mereka bisa melakukan kesalahan.

Dia lalu duduk dan memeluk Fiona, sementara para dokter meminta untuk memeriksa Fiona lagi. Oli ingin Fiona tidak merasakan sakit sama sekali dan bertanya apakah istrinya bisa menjalani operasi caesar, tapi Oli dan Fiona diberi tahu akan lebih aman bagi Fiona dan persalinannya di masa depan untuk menjalani persalinan alami atau normal, jadi Fiona setuju.

Fiona telah menghabiskan bulan-bulan sebelumnya untuk mempersiapkan persalinan alami tanpa penghilang rasa sakit dengan yoga pra natal dan hipnoterapi. Namun, persalinan normal untuk melahirkan bayinya yang telah meninggal, diputuskan sampai orangtuanya tiba dari London, sehingga dia juga tidak akan lama meninggalkan Sienna. Sejak saat itu, Fiona tidak bisa mengatakan apa bagian tersulit sebenarnya.

"Saya takut harus melahirkan, tapi tidak mungkin juga menahan bayi yang telah meninggal. Saya takut akan pemakamannya. Tapi yang paling saya takutkan harus memberitahu Sienna. Saya benar-benar patah hati, membuat Sienna tidak bisa mendapatkan adik bayinya," ungkapnya.

Selanjutnya, Fiona juga mengatakan ia dan suaminya memutuskan untuk mempersiapkan terlebih dahulu sebelum Sienna tahu persis apa yang sedang terjadi. Dalam minggu-minggu berikutnya, baru mereka akan mengucapkan tiga kalimat kepadanya, 'Kakak bayi tidak lagi di perut mama. Dia telah menjadi malaikat. Dia akan menjaga kita dari surga.'

"Saya ingat ketika kembali ke rumah setelah meninggalkan rumah sakit bersama Oli dan Sienna dengan linglung. Kami berjalan dengan membawa bayi yang tidak bernyawa. Saya terbangun di malam hari sambil menangis dan duduk di sofa dan menangis. Sebelumnya saya tidak pernah menangis seperti itu," ungkap Fiona lagi.

 

Nama bayi itu Sebastian

Sebastian Michael Richmond Smart lahir tiga hari kemudian setelah dinyatakan meninggal, pada 6 April 2014. Keluarga yang berduka itu memiliki sepuluh hari berharga bersamanya sebelum pemakaman yang digelar pada 16 April.

Dia adalah bayi laki-laki tampan dengan bibir mekar dan hidung mancung seperti Sienna. Kami punya beberapa foto berharga dengannya dan kemudian foto kami bersamanya.

"Saya sangat rapuh pada tahap ini, tapi staf di Rumah Sakit Royal Shore Utara di Sydney sangat mengerti. Mereka menasehati kita untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengannya. Kami mendandani dia dengan pakaian Winnie the Pooh yang kami beli khusus untuknya dan memberikannya sebuah boneka Winnie the Pooh milik Sienna," tandasnya.

Di peti mati biru mungilnya, orangtua Sebastian menyelipkan beberapa mainan lagi dan beberapa foto keluarga. Fiona dan Oli diberikan boneka biru muda yang ditujukan untuk Sebastian, tapi mereka memutuskan untuk memberikannya pada Sienna. Dia memanggilnya 'Bastian' dan tidur bersamanya setiap malam. Boneka yang diberi nama Bastian itu kini adalah boneka favoritnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini