nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tungku Kayu Bakar Bikin Rasa Jenang Khas Blitar Lebih Sedap!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 29 Januari 2018 15:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 29 298 1851641 tungku-kayu-bakar-bikin-rasa-jenang-khas-blitar-lebih-sedap-WIWvgKKeJs.JPG Jenang khas Blitar (Foto: Dimas/Okezone)

BERWISATA ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khas lokal. Apalagi jika daerah tersebut dikenal memiliki segudang kuliner tradisional yang tidak bisa Anda jumpai di tempat lainnya.

Berbicara soal kuliner tradisional, Anda tentunya sudah familiar dengan sajian jenang. Kudapan ini cukup populer di kalangan pencinta kuliner nusantara karena menyuguhkan perpaduan cita rasa manis dan gurih yang khas, apalagi jika disantap bersama secangkir kopi hangat di pagi hari.

 BACA JUGA:

Makan Siang dengan Kelezatan Ayam Adobo Khas Asia, Mari Bikin

Beberapa waktu lalu, Okezone berkesempatan melihat langsung proses pengolahan jenang di daerah di Blitar, Jawa Timur. Untuk membuat olahan jenang berkualitas ternyata hanya memerlukan beberapa bahan sederhana seperti kelapa, gula merah, dan tepung ketan. Kendati demikian, proses pengadukan adonan membutuhkan waktu cukup lama.

"Biasanya kami menggunakan 100 buah kelapa parut untuk diambil santannya, 25 kg gula merah, dan 25 kg tepung ketan. Semua bahan harus diaduk sekira 7 jam, hingga adonan mengental dan siap dikemas," tutur Hendri Christiawan, Pemilik Omah Jenang kepada Okezone, di Blitar, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Hendri menuturkan, meski bahan yang digunakan terbilang sederhana, namun ada beberapa trik khusus yang membuat hidangan tersebut terasa nikmat. Salah satunya adalah teknik pembakaran.

 

"Pakai gas sebetulnya bisa, tapi kami sudah membuktikan kalau proses pengolahan tradisional atau menggunakan tungku pembakaran itu rasanya jauh lebih enak. Kayu yang digunakan juga tidak sembarangan. Kami selalu menggunakan kayu akasia karena panasnya tahan lama, dan ternyata kayu ini juga mempengaruhi rasa jenang," tambah Hendri.

Terlepas dari cita rasanya yang unik, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada awalnya penjualan kudapan tradisional ini sempat ditentang oleh masyarakat Jawa.

"Keluarga saya buka usaha jenang sejak tahun 1985. Sempat ada pro dan kontra. Banyak yang mempertanyakan jenang kok dijual. Mindset orang dulu itu jenang makanan yang dibuat gotong royong atau pas sedang ada hajatan. Dulu orang makan jenang itu harus nunggu sampai lebaran," ungkap Hendri.

Seiring berjalannya waktu, jenang kini menjadi salah satu oleh-oleh khas Blitar yang paling diburu wisatawan. Tidak hanya itu, Omah Jenang yang dikelola Hendri juga menjual berbagai varian rasa baru untuk memenuhi permintaan pasar. Mulai dari rasa durian, melon, cokelat, dan masih banyak lagi.

Harganya pun relatif terjangkau yakni, Rp25 ribu - Rp30 ribu per kg. Meski tergolong kuliner tradisional, popularitas jenang ternyata sudah diakui di kancah internasional.

BACA JUGA:

9 Cara Praktis Mengurangi Kentut yang Berlebihan

"Kami biasanya ekspor ke Hongkong dan Taiwan. Kalau lokal, masih seputar Jawa Timur dan Jawa Tengah," tukas Hendri.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini