Menkes Nila Jelaskan Program Jangka Panjang Penanggulangan Gizi Buruk di Asmat

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 29 Januari 2018 17:51 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 29 481 1851799 menkes-nila-jelaskan-program-jangka-panjang-penanggulangan-gizi-buruk-di-asmat-Ctryzp81UV.jpg Menkes Nila tinjau penanganan gizi buruk di Asmat (Foto: Antara)

KASUS campak dan gizi buruk yang melanda Kabupaten Asmat, Papua, kini telah mendapat perhatian penuh dari sejumlah kementerian serta lembaga terkait lainnya. Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Nila Djoewita Moeloek telah memastikan bahwa isu kesehatan yang termasuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) ini akan ditangani secara insentif.

"Kami bekerja sama dengan TNI, polisi, dan Kementerian Sosial secara terpadu. Kami membuat program 10 hari pertama dan sudah melakukan beberapa kegiatan sampai tiga kali dalam satu bulan," ujar Nila, dalam Forum Merdeka Barat 9 di Aula Serba Guna Kominfo, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018).

Berbagai sarana penunjang pun telah disiapkan sebagai bentuk kolaborasi penanganan permasalahan kesehatan. Termasuk melakukan penelusuran secara merinci sejauh apa kasus gizi buruk melanda Kabupaten Asmat.

Sejauh ini, Tim Kesehatan Terpadu telah memeriksa 12.398 anak sejak bulan September 2017 hingga 28 Januari 2018. Menkes mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 menderita gizi buruk.

Untuk menanggulangi kasus KLB tersebut, Kemenkes RI sudah mengirimkan 39 tenaga kesehatan yang terdiri dari 11 orang dokter spesialis, 4 orang dokter umum, 3 perawat, 2 penata anestasi dan 19 tenaga kesehatan yang terdiri dari ahli gizi, kesehatan lingkungan dan surveilans.

Selain itu, sejumlah program penunjang pun telah diluncurkan termasuk menerjunkan tim Flying Health Care (FHC). Dalam waktu dekat, Kemenkes dan lembaga terkait juga akan melakukan pendampingan lebih lanjut, serta merencanakan pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih memumpuni.

Terlepas dari fasilitas dan bantuan yang telah diberikan, Nila mengakui, untuk menanggulangi kasus gizi buruk memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena harus dilakukan secara bertahap.

"Kasus kurang gizi itu tidak lantas langsung diberikan makanan begitu saja. Harus ditangani pelan-pelan, diobati dulu cacingnya. Bukan perkara mudah, karena ketika anak sudah diberi obat, cacing bisa bereaksi dan keluar dari hidung, mulut, dan saluran pembuangan mereka," imbuhnya.

Lebih lanjut, Nila menjelaskan, setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih 90 hari untuk memperbaiki kasus gizi buruk yang melanda Kabupaten Asmat. Masa penyembuhan ini belum termasuk program jangka panjang yang telah direncanakan lembaga dan pihak terkait lainnya.

"Masih banyak yang harus dibenahi. Tata ruang Kabupaten Asmat itu sangat memprihatinkan. Rumah-rumah warga, perkantoran, bahkan rumah sakit yang ada di Asmat itu dibangun di atas rawa-rawa. Kalau air pasang banyak sekali kotoran-kotoran yang tertinggal. Belum lagi ketersediaan air bersih dan listriknya. Jadi memang harus dibenahi secara keseluruhan," tukas Nila.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini