Image

Hasil Penelitian: Obesitas Sebabkan Otak Susut dan Lebih Tua dari Usia Sebenarnya

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 01 Februari 2018 13:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 01 481 1853186 hasil-penelitian-obisitas-sebabkan-otak-susut-dan-lebih-tua-dari-usia-sebenarnya-CIOxFv3kXR.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Satu lagi risiko yang mengancam mereka yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Penelitian terbaru mengungkap, obesitas dapat menyusutkan volume otak atau membuat otak lebih tua dari usia sebenarnya.

Penderita obesitas, termasuk berat badan berlebih, yang menginjak usia paruh baya mempunyai materi atau bagian putih yang sedikit pada otak dibandingkan orang yang memiliki berat badan proporsional di usia yang sama. 

Demikian diungkapkan peneliti Lisa Ronan PhD dari University of Cambridge di Inggris. Kehilangan jaringan putih ini berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif. Walau begitu, pada penelitian ini, peneliti tidak melihat perbedaan dalam kemampuan berpikir antara individu yang obesitas dengan yang tidak, terlepas dari perbedaan jaringan putih yang terlihat ketika otak di-scan .

Mereka yang berada di usia paruh baya dan menderita obesitas berpotensi mengalami otak yang 10 tahun lebih tua dari umur biologis sebenarnya. Penelitian lain telah menemukan hubungan antara obesitas dan penurunan kemampuan berpikir, sebut saja penyakit Alzheimer yang diderita lebih awal. “Jaringan putih di otak diyakini berkaitan dengan demensia,” ujar Mike Henne PhD, juru bicara American Federation for Aging Research, dikutip dari Webmd . Jaringan atau bagian putih pada otak memang menurun seiring usia, umumnya dimulai pada akhir usia 30 tahun.

“Jika Anda kehilangan bagian putih ini, saraf otak tidak lagi sebaik sebelumnya untuk berkomunikasi dengan saraf lainnya,” ucap Henne, asisten profesor di University of Texas Southwestern Medical Center, AS. Tim peneliti dari Inggris ini mengambil scan otak orang dewasa yang berumur sekitar 40 tahun guna mengukur dampak berat badan terhadap struktur otak dan jumlah jaringan putih. Dari 473 responden yang telah dievaluasi, diketahui 246 di antaranya berada pada berat badan yang sehat, 150 orang kelebihan berat badan, sementara 77 orang lainnya obesitas.

Baik responden pria maupun wanita mengikuti tes standar IQ untuk menguji kemampuan kognitif mereka. Tim peneliti tidak begitu paham bagaimana berat badan berlebih dapat berimbas pada jaringan putih otak atau bagaimana jaringan putih tersebut dapat menyusut di usia paruh baya. Namun, sebagian peneliti meyakini bahwa sel putih pada otak dapat menjadi lebih sensitif terhadap peradangan di usia paruh baya. “Kemungkinan besar yang juga dikatakan peneliti dalam laporannya, apabila Anda obesitas, sel lemak akan memproduksi lebih banyak peradangan yang membuat bagian putih lebih sensitif terhadapnya,” kata Henne.

Berat Badan Pengaruhi Kesehatan Otak . Ronan berpendapat, kekurangan penelitian ini hanya dilakukan pada satu waktu. Maka itu, dia berharap peneliti lain dapat meneliti otak manusia dengan jangka waktu yang lebih lama sehingga mereka dapat lebih memahami bagaimana berat badan berdampak pada kesehatan otak. Kesimpulan penelitian ini, berat badan berlebih atau obesitas dapat menyebabkan risiko yang signifikan terhadap kemampuan kognitif. British Medical Journal pernah merilis hasil penelitian University College London, Inggris, yang menemukan bahwa fungsi otak manusia akan memburuk pada awal usia 45 tahun.

Terjadi penurunan penalaran mental sebesar 3,6% pada usia 45-49 tahun. Dr Anne Corbett, Manajer Penelitian Komunitas Alzheimer, mengatakan, penelitian tersebut meramaikan perdebatan yang selama ini berkembang, yakni kapan mulai terjadi penurunan kognitif pada manusia. 

“Memang penelitian ini tidak mengatakan kepada kita apakah orangorang yang mengalami penurunan fungsi otak juga terus mengembangkan demensia,” katanya. Kepala Penelitian Pusat Penelitian Alzheimer Inggris Raya Dr Simon Ridley menyatakan, dia ingin melihat penelitian serupa yang diterapkan pada sampel populasi yang lebih luas.

Dia menambahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesehatan manusia pada usia paruh baya memengaruhi risiko menderita demensia. Risiko semakin besar seiring bertambahnya usia seseorang. “Meskipun belum memiliki cara ampuh mencegah demensia, kita tahu bahwa perubahan gaya hidup sederhana dapat mengurangi risiko. Seperti makan makanan sehat, tidak merokok, serta menjaga tekanan darah dan kolesterol di level aman,” beber Ridley. 

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini