nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

FAO Ungkap Asia Tenggara Sebagai Pusat Penyalahgunaan Antibiotik Terbesar

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 02 Februari 2018 09:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 02 481 1853615 fao-ungkap-asia-tenggara-sebagai-pusat-penyalahgunaan-antibiotik-terbesar-VBduf5PdU0.jpg Obat Antibiotik (Foto: The Indian Express)

MENCENGANGKAN, Asia Tenggara disebut-sebut oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebagai kawasan yang menggunakan antibiotik secara berlebihan. Bahkan, lebih parahnya lagi, menurut laporan pejabat tinggi FAO, antibiotik di kawasan Asia Tenggara telah disalahgunakan.

Dalam kesempatan saat menyampaikan laporan tersebut, pejabat FAO juga memperingatkan pada masyarakat yang tinggal di kawasan Asia Tenggara, agar mengingat risiko serius akibat dari dampak penggunaan dan penyalahgunaan antibiotik bagi manusia dan hewan, karena penggunaan antibiotik secara berlebihan dan salah dosisnya, bisa membuat bakteri jadi kebal terhadap pengobatan.

Melansir dari laman Reuters, Jumat (2/2/2018), pejabat dari badan makanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pun mengeluarkan peringatan disela-sela sebuah pertemuan internasional di Bangkok, yang berfokus pada ketahanan antimikroba (AMR). Juan Lubroth dari pihak FAO mengatakan, ancaman resistensi antimikroba cukup besar dibeberapa tempat, seperti di kota-kota besar di Asia, khususnya di daerah yang pertumbuhan penduduknya tinggi dan produksi makanan dan pertaniannya intensif.

“Di Asia Tenggara, kami menganggapnya sebagai pusat, karena cepatnya pertumbuhan penduduk, dinamika urbanisasi, dan produksi makanan yang tinggi,” ucap Ketua Dokter Hewan FAO, Juan Lubroth.

WHO juga turut menyiarkan laporan yang dimilikinya pada Senin. Organisasi tersebut menemukan ada peristiwa kekebalan antibiotik yang telah dialami pada 500 ribu orang, yang diduga pasien terinfeksi bakteri tersebut berada di 22 negara.

“Infeksi yang terjadi berpotensi menimbulkan keadaan yang berbahaya dan membuat bakteri resisten terhadap obat,” imbuh Marc Sprenger, direktur Sekretariat Perlawanan Antimikroba WHO.

Lebih lanjut, masih dari sumber yang sama, pada 2016 lalu seorang ekonom bernama Jim O’Neill yang ditugaskan oleh pemerintah Inggris, memproyeksikan kerugian sebesar $100 triliun pada 2050 mendatang, jika tidak ada upaya yang dilakukan untuk memperbaiki peristiwa penyalahgunaan antibiotik tersebut. Lebih buruknya lagi, akan terus jatuh pasien setiap tahunnya yang meningkat jumlahya akibat AMR, menjadi 10 juta kematian pada 35 tahun mendatang.

“Sekira 90 persen dari kematian tersebut akan terjadi di negara berkembang dan itu menakutkan,” tambah Lubroth.

Lubroth juga mengatakan FAO tengah memberikan edukasi pada para petani mengenai bahaya penggunaan antibiotik, yang biasa digunakan untuk mempercepat pertumbuhan hewan ternak, seperti ayam potong. Selin itu, FAO meminta pemerintah setiap negara agar lebih menegaskan penerapan dari aturan produksi makanan.

“Ini bukan saja tentang memiliki aturan atau tidak, tapi aturan yang telah ada itu harus ditegakkan,” tandas Lubroth.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini