nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Plontos Bareng di Hari Kanker Dunia, Hindari Rokok dan Pola Hidup Tak Sehat!

Khalis Surry, Jurnalis · Minggu 04 Februari 2018 18:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 04 481 1854571 plontos-bareng-di-hari-kanker-dunia-hindari-rokok-dan-pola-hidup-tak-sehat-Q7VSxjzxiX.JPG Aksi Plontos Peringati Hari Kanker Sedunia (Foto: Khalis Surry)

Hari kanker dunia diperingati setiap 4 Februari. Kanker dikenal sebagai penyakit yang mengakibatkan kematian terbesar di dunia. Memperingati hari kanker dunia, pemerintah, komunitas, dan masyarakat memanfaatkan sebagai upaya mensosialisasikan terhadap keluarga dan lingkungan tentang penyakit kanker dan cara pendeteksi dini.

Pada 4 Februari 2018, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aceh memperingati hari kanker dunia. Belasan anak penderita kanker berkumpul di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, mereka berbagi cerita, informasi, dan juga mendapat dukungan motivasi dari kalangan yang hadir.

Selain donor darah, lomba mewarnai, dan screening mata pada anak, plontos bareng juga salah satu kegiatan spesial pada peringatan tahun ini. Mereka yang bersedia rambutnya digunduli seperti dari komunitas RX King, Steemit Indonesia Banda Aceh, dan beberapa komunitas pendampingan kanker di Aceh lainnya.

’’Saya ingin berpartisipasi, ingin memberi dukungan kepada anak-anak kanker. Selama ini, kan mereka kemorterapi, sampai kepala mereka plontos, dan hari ini peringatan kanker dunia, saya ingin memberi semangat kepada mereka,’’ kata Amari, anggota Komunitas Steemit Indonesia Banda Aceh kepada Okezone, usai kepalanya diplontoskan.

Nurul, terisak tangis. Air matanya mengalir di pipi, ketika bocah malang itu bercerita tentang penyakit Leukimia Limfoblastik Akut yang dideritanya di hadapan seratusan tamu acara tersebut. Ia berkisah, bahwa dirinya telah menderita penyakit itu sejak umur tiga tahun, namun baru diketahui pada kelas dua sekolah dasar.

’’Saat itu saya ikut karnaval sekolah, kemudian saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit, waktu itu lah keluarga saya mengetahui saya menderita Leukemia,’’ ucap Nurul.

Bocah asal Kota Lhoksemawe, Aceh, ini kini telah berumur sembilan tahun. Sekarang ia menempati rumah singgah Rumah Kita, yayasan pendampingan anak kanker.

Nurul selalu melempar senyum pada setiap orang yang menyapanya. Namun hari itu, ia membuat orang menangis dengan ceritanya. Nurul sudah menjalani proses kemoterapi sebanyak 16 kali, dan kini kepalanya plontos. Akan tetapi, hari-harinya dilakoni dengan ceria dan semangat, meski tak dirinya tak didampingi kedua orang tua. Sebab ia memiliki keluarga, dan teman-teman di rumah singgah tersebut.

Founder Rumah Kita, Nur Jannah Huesein mengatakan peringatan hari kanker dunia ini merupakan wujud nyata bahwa masih ada orang-orang yang memperdulikan anak-anak kanker. Dan acara plontos bareng tersebut merupakan bentuk empati terhadap anak-anak yang telah mengikuti proses kemoterapi.

’’Sebagai wujud nyata, bahwa kita ada untuk mereka dan mereka tidak sendiri menghadapi penyakit kanker ini. Plontos itu bentuk solidaritas kita, kita ingin merasakan apa yang mereka rasakan,’’ ujar Nunu—begitu sapaan akrabnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah mengatakan berdasarkan hasil riset dasar pada 2013, prevalensi penyakit kanker dari semua umur sebesar 1,4 persen per 1.000 di Provinsi Aceh.

’’Berarti dalam 1000 orang itu ada satu atau dua penderita kanker di Aceh. Dan itu prevalensi Aceh sama dengan prevalensi nasional, di Indonesia rata-ratanya 1,4 persen,’’ ujarnya kepada wartawan.

Jika dilihat dari kabupaten kota yang ada di Aceh, terdapat beberapa kabupaten yang prevalensi penderita kanker tinggi dan ada juga yang rendah. Namun, yang prevalensinya tertinggi ialah Kota Lhokseumawe.

’’Kalau kita breakdown per kabupaten kota di Aceh, memang ada yang tinggi, ada rendah, yang tinggi itu di kota Lhokseumawe kasus kanker ini,’’ ujarnya.

Selain itu, Abdul Fata menyebutkan bahwa pemicu dari penyakit kanker itu sendiri dari pola hidup, kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat. Misalnya seperti kebiasaan merokok, kurang olahraga, banyak makan makanan cepat saji, kurang makan sayur, dan juga kalau kanker jenis servik disebabkan karena perilaku seksual yang beresiko.

’’Cara mengelola resiko ini seperti kata Bu Darwati (istri Gubernur Aceh Irwandi Yusuf), kita harus berperilaku cerdik,’’ ujarnya.

Cerdik yaitu singkatan dari Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stress.

Di samping itu, Abdul Fatah juga menyampaikan bahwa pihaknya belum mempunyai hasil riset yang menunjukkan faktor terbsesar yang menjadi penyebab kanker. Namun, katanya, di Aceh prevalensi merokok cukup tinggi. Ia belum berani mengatakan bahwa merokok adalah penyebab tertinggi di Aceh.

’’Prevalesni merokok di Aceh, di atas umur 15 tahun hampir 70 persen, yang dihisap per harinnya hampir dua bungkus sekitar 18 batang. Banyak dan umumnya masyarakat kita merokok di depan keluarga, di depan anak dan istri, di dalam rumah dan itu sangat membahayakan kasehatan kita,’’ punkasnya.

Dan di Aceh, semua jenis kanker ada, seperti kanker servik, kanker payudara, kanker rahim, kanker mata, kanker otak, kanker paru, dan lainnya. Kata Abdul, kita tidak memiliki data jenis kanker yang paling banyak di Aceh.

’’Semua (Jenis kanker) kita ada. Dan kita riset menggolongkan semua umur, tetapi yang didampingin C-Four (Children Cancer Care Community) Aceh, Rumah Kita, itu banyak anak-anak. Rumah Kita aja sampai 40 anak kanker sekarang yang masih hidup, belum lagi di C-Four,’’pungkasnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini