Mengenal Saraf Kejepit, Penyebab Nyeri Pinggang Kronis

Senin 05 Februari 2018 21:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 05 481 1854920 mengenal-saraf-kejepit-penyebab-nyeri-pinggang-kronis-FqtzWubuVB.jpg

KENDATI memiliki masalah nyeri kronis, tidak sedikit di antara pasien yang mendatangi terapi alternatif sebelum akhirnya datang ke klinik. Mereka mencoba terapi alternatif seperti pijat, totok, atau herbal, yang meski sudah mengeluarkan biaya dan tenaga, tidak menuai perbaikan. Kondisi ini juga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien.

Kebanyakan penyebab nyeri pinggang di masyarakat adalah herniated nucleus pulposus (HNP) atau disebut saraf terjepit. Gangguan ini merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang kronis terbanyak. Nyeri yang dialami pasien umumnya menjalar hingga paha dan seluruh bagian kaki disertai kelemahan, baik pada salah satu atau kedua kaki.

Dr Mahdian Nur Nasution SpBS, pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Gedung Onta Merah, Jakarta, mengatakan, dari pengalaman klinik, herniasi bantalan sendi tulang belakang terbanyak terjadi pada bantalan sendi ruas tulang lumbar (L4/5) dan L5/S1).

Meski demikian, dapat juga terjadi herniasi pada bantalan sendi di ruas tulang di atasnya, seperti tulang servikal, tetapi lebih sering terjadi pada mereka dengan usia di atas 55 tahun. Penekanan bantalan sendi tulang belakang terjadi pada saraf motorik akan berdampak pada melemahnya bagian tubuh yang dipersarafi. Sementara jika penekanan bantalan sendi tulang belakang terjadi pada saraf sensori, pasien akan mengalami mati rasa pada bagian tubuh yang dipersarafi. Sedangkan, jika nyeri yang terjadi bersifat radikular atau menjalar, menandakan sudah terjadi inflamasi pada saraf, sebagai tanda sudah tidak ada lagi ruang untuk saraf atau herniasi bantalan sendi yang terjadi sudah sangat besar dan memenuhi rongga tulang belakang.

Menurut dr Mahdian, modalitas terapi untuk mengatasi masalah nyeri dan tulang belakang dalam dunia kedokteran cukup beragam dan tergantung penyebabnya. Dari mulai penggunaan obat-obatan, terapi intervensi, hingga pembedahan, baik operasi terbuka maupun minimally invasive surgery yang hanya menyisakan luka sayatan minimal di kulit (7 mm). (Koran SINDO)

 

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini