Atasi Nyeri Akibat Saraf Terjepit dengan Teknologi Laser

Senin 05 Februari 2018 22:08 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 05 481 1854941 atasi-nyeri-akibat-saraf-terjepit-dengan-teknologi-laser-Mlmgrngv5b.jpg Ilustrasi

NYERI pinggang merupakan masalah kesehatan yang paling banyak dijumpai di praktik klinik sehari-hari. Data yang ada menunjukkan, setiap orang minimal dalam hidupnya pernah mengalami satu kali periode nyeri pinggang.

Sekitar 5%-20% dari mereka akan mengalami nyeri yang bersifat kronis. “Sekian banyak pasien yang datang ke klinik dokter atau rumah sakit umumnya sudah dengan kondisi nyeri pinggang yang kronis,” ungkap dr Mahdian Nur Nasution SpBS, pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Gedung Onta Merah, Jakarta.

Kebanyakan penyebab nyeri pinggang yang ada di masyarakat adalah herniated nucleus pulposus (HNP) atau disebut saraf terjepit. Gangguan ini merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang kronis terbanyak. Nyeri yang dialami pasien umumnya menjalar hingga paha dan seluruh bagian kaki disertai kelemahan, baik pada salah satu atau kedua kaki.

Data yang ada di beberapa negara, seperti Finlandia dan Italia, menunjukkan prevalensi HNP mencapai 3% dari populasi, demikian halnya dengan kondisi di Indonesia. Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya HNP. HNP paling banyak diderita mereka dengan usia antara 30-50 tahun. Risiko terjadinya HNP akan menjadi lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2 : 1.

Untuk mengatasi permasalahan HNP, pengobatan dengan laser bisa menjadi pilihan. Teknologi laser telah banyak digunakan dalam dunia kedokteran, termasuk digunakan untuk mengatasi masalah saraf terjepit akibat penonjolan bantalan sendi tulang belakang atau dikenal laser disektomi.

Sebagai teknologi minimally invasive , laser disektomi dapat dilakukan secara rawat jalan. Teknologi laser ini menawarkan kelebihan dibanding metode lainnya. Di antaranya, pasien terbebas dari sindrom nyeri pascaoperasi. Selain itu, teknologi ini dipandang lebih hemat biaya dengan angka keberhasilan yang juga tinggi. Keamanan penggunaan laser untuk mengatasi masalah saraf terjepit karena herniasi bantalan sendi tulang belakang sudah diakui secara luas. Prosedur ini bahkan sudah dilakukan di banyak negara dengan total pasien yang ditangani mencapai lebih dari 80.000 orang.

Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD) merupakan metode pengobatan menggunakan laser ini. PLDD dilakukan hanya melalui bius lokal, dengan bantuan computed tomographic (CT) dan panduan fluoroskopi. Oleh dokter spesialis bedah saraf, sebuah jarum berukuran 1 mm dimasukkan hingga menuju bantalan sendi yang mengalami herniasi. Setelah jarum tepat masuk di pusat bantalan sendi, serat optik laser dimasukkan melalui lubang jarum menuju bantalan sendi. Laser tersebut kemudian membakar inti bantalan sendi tulang belakang sehingga volume bantalan sendi berkurang.

Menghilangkan Keluhan

Dengan berkurangnya volume bantalan sendi ini, herniasi/penonjolan yang menekan saraf atau memenuhi rongga tulang belakang kembali normal. Rasa nyeri saat berjalan, kebas, kesemutan saat bangun dari tidur atau duduk yang selama ini dikeluhkan pasien juga akan hilang setelah tindakan dilakukan. Tindakan laser disektomi/PLDD dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitar, baik otot, ligamen, maupun struktur tulang belakang.

Dalam literatur, tidak disebutkan berapa besar panjang gelombang laser yang digunakan untuk memanaskan bantalan sendi tulang belakang hingga mencair/menguap dan keluar dari lubang pengeluaran alat endoskopi. Penguapan atau pencairan bantalan sendi ini diharapkan mampu mengurangi volume bantalan sendi dan menghilangkan penekanan saraf tulang belakang yang menyebabkan terjadinya nyeri dan inflamasi pada saraf sekitar. Dr Sri

Wahyuni SpKFR, pakar rehabilitasi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Gedung Onta Merah, Jakarta, mengatakan, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya herniasi bantalan sendi tulang belakang, di antaranya merokok, olahraga berat seperti angkat besi, atau aktivitas pekerjaan tertentu yang sering mengangkat beban secara berulang.

“Dalam beberapa penelitian juga dikatakan, orang yang sering mengendarai sepeda motor memiliki risiko lebih besar untuk terjadi HNP, mencapai 2,7 kali lipat,” pungkasnya. (koran sindo)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini