nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Miris! Banyak Balita Jadi Korban Pelecehan Seksual, Kenapa?

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 06 Februari 2018 15:37 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 06 196 1855475 miris-banyak-balita-jadi-korban-pelecehan-seksual-kenapa-WPjWRAuCJ1.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SIAPA sangka, pelecehan seksual yang hampir dialami oleh anak-anak di berbagai belahan dunia menyasar kaum balita. Survei ini sungguh mengejutkan dan orangtua harus waspada dengan risiko tersebut. 

Survei yang diterbitkan tahun lalu oleh Centre for Child Protection Kanada menemukan, 56% korban eksploitasi online terjadi di kalangan anak-anak di bawah 10 tahun. Mereka yang mengalami kejadian ini dimulai dari balita sebelum usia 4 tahun.

Mereka paling kerap mengalami eksploitasi seksual, hingga lebih rentan pada ancaman sexting dan pemerasan seksual. Tingkat pelecehan dan penyiksaan seksual yang mereka hadapi kian lama meningkat dan dampaknya pun memburuk.

Executive Director Ecpat International Dorothy Rozga mengatakan, anak-anak belum memiliki nalar yang baik untuk menolak terjadinya kasus pelecehan seksual. Karena itu, hal ini sulit dicegah, terlebih ujungnya pada kasus penyiksaan.

"Pelecehan seksual dan penyiksaan cenderung lebih besar dalam citra anak-anak muda," ujarnya saat Konferensi Pers bertema Internet Aman untuk Anak di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Dorothy menambahkan, mirisnya mayoritas pelaku pelecehan tersebut sekira 80% di kalangan orang-orang kepercayaan anak-anak. Termasuk orangtuanya sendiri, saudara, wali, guru, tetangga, pelatih atau pengasuh mereka.

Faktornya tidak lain karena pengaruh teknologi dan internet yang kian berkembang. Banyak sekali situs atau platform yang menawarkan aksi pornografi yang membuat orang-orang tersebut berbuat tidak menyenangkan.

Akses internet, menurut Dorothy, menjadi satu hal yang harus disorot agar tidak membuat orang berbuat hal aneh-aneh, termasuk pelecehan seksual. Namun sayang, internet tidak punya batasan pasti yang membuat orang jadi sulit mengaksesnya.

Banyak sekali pelanggaran pelecehan seksual yang tak hanya terjadi di Indonesia. Misalnya di Swedia, banyak acara yang terkait dengan pornografi tayang bebas di sana. Begitupun banyak situs internet yang menyediakan video porno mudah diakses.

"Harus ada sanksi dan perlindungan yang harus didapatkan anak-anak agar jauh dari kasus keji itu," imbuh Dorothy.

Sebuah survei dari Pornhub tahun 2015-2016 menyebutkan, Indonesia menduduki rangking dua dalam mengakses situs pornografi. Sekira 74% generasi muda yang mengakses situs-situs pornografi tersebut.

Hal ini harusnya membuat orangtua sadar untuk membatasi anak-anak dalam mengakses internet. Orang dewasa bagaimanapun menjadi contoh baik bagi anak-anak di mana saja.

"Namun sayang, banyak yang mengabaikan pentingnya perlindungan tersebut. Apalagi, orangtua yang sibuk bekerja, membuat anak-anaknya merasa dibebaskan untuk mengakses situs internet model apapun," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini