nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Orangtua Harus Tegas Ingatkan Anak Menghormati Guru

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 06 Februari 2018 19:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 06 196 1855664 orangtua-harus-tegas-ingatkan-anak-menghormati-guru-ZHxg5eeRuE.jpg

ORANGTUA harus lebih tegas mendidik serta proaktif mengingatkan anaknya agar menghormati serta menghargai para guru saat berada di sekolah. Musababnya, semakin sering ditemukan peserta didik tidak lagi menghormati dan menghargai bahkan ada yang sampai mengajak guru ataupun kepala sekolah berkelahi

"Jika kondisi seperti itu dibiarkan terus menerus, saya yakin orang akan enggan menjadi guru. Kalau itu sampai terjadi, akan seperti apa pendidikan kita. Orangtua harus tegas juga mengingatkan anaknya agar menghormati guru," ucap Ketua Komisi C DPRD Kalimantan Tengah, Syamsul Hadi, Selasa (6/2/2018).

Syamsul tidak menyalahkan dan menganggap wajar apabila orangtua yang sangat menyayangi anaknya. Hanya, rasa sayang tersebut jangan sampai anak menjadi manja dan berbuat semaunya.

Dia mengatakan seorang guru memiliki beban berat dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana caranya menempa peserta didik menjadi baik dan cerdas. Namun apabila ada peserta didik ataupun orangtua melakukan diskriminasi terhadap guru, hal tersebut sangatlah keterlaluan.

"Parahnya lagi, sampai sekarang ini masih banyak guru yang dibayar minim, tapi harus mengemban tugas sangat berat. Jadi, perlu pengertian para orangtua untuk ikut berperan dalam mendidik anak," kata Syamsul.

Syamsul mengaku pernah tahu rasanya menjadi guru yang diberikan tanggungjawab berat tapi upahnya sangat minim. Hal inilah yang membuat dirinya terkadang miris ketika mendapat informasi atau mengetahui ada guru di proses hukum atau dipukul karena mendidik peserta didik.

"Kalau hanya menyerahkan pendidikan kepada guru, sampai kapan pun mental dan karakter si anak tidak akan tertempa. Tapi keikutsertaan orangtua dalam mendidik anak secara tegas, maka mental dan karakter akan tertempa, bahkan menghormati orang lain, khususnya guru sebagai pengganti orang tua selama disekolah," ujarnya.

Sementara Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan DPP Generasi Muda Mathlaul Anwar (MA) Destika Cahyana di Jakarta, mengatakan dalam tragedi meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru seni rupa SMA 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur, menunjukkan ada krisis keteladanan di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat pada orang dewasa yang kemudian diikuti oleh murid.

"Penghinaan terhadap orang yang lebih tua oleh orang yang lebih muda seringkali dipertontonkan di ruang publik baik di dunia nyata maupun dunia maya," kata Destika.

Hal serupa terjadi di semua sektor bahkan pemerintahan, panggung politik, hingga di dunia pendidikan sendiri. "Secara tidak langsung berbagai fenomena tersebut terekam di alam bawah sadar para siswa," katanya.

Destika melihat kasus guru Budi dan murid pelaku pemukulan dapat dikatakan bahwa keduanya adalah korban dari dosa sosial seluruh masyarakat yang kerap mempertontonkan penghinaan terhadap institusi pribadi maupun individu yang selayaknya dihormati.

Terlebih ia menilai, jenjang sekolah menengah merupakan jenjang paling rentan dalam hal relasi guru dengan murid, terutama pada guru muda dan murid-murid berusia tua karena selisih usia hanya empat-tujuh tahun.

"Dengan demikian sekolah idealnya memiliki sistem untuk membangun budaya yang membuat siswa secara otomatis menghargai dan menghormati guru," katanya.

Sistem dan budaya ini kata dia, yang harus dibina langsung dalam koordinasi kepala sekolah untuk memastikan berjalan dengan baik.

Ia menyarankan sekolah agar juga memastikan perlakuan sekolah terhadap semua guru setara baik yang berstatus PNS maupun honorer. Bahkan perbedaan status tersebut idealnya tidak ditunjukkan kepada siswa.

"Terakhir kita bersimpati kepada Guru Budi yang telah mengabdikan diri ini pada bangsa Indonesia. Di sisi lain sebetulnya gejala murid sekolah menengah berani melawan guru sudah mulai pada era 80-an hampir di semua daerah. Bahkan murid berkelahi dengan guru sering kita jumpai," katanya.

Budayawan Madura D Zawawi Imron menyatakan, kasus penganiayaan yang menimpa guru SMA Negeri 1 Torjun Ahmad Budi Tjahyanto oleh muridnya sendiri HI hingga meninggal dunia, merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat tragis.

"Dinilai dari sudut kemanusiaan kasus guru Budi ini adalah kasus yang sangat tragis dalam pandangan adat budaya Madura," kata Budayawan Nasional asal Sumenep, saat takziah ke rumah almarhum Ahmad Budi Tjahyanto di Sampang, Selasa.

Pendapat budayawan Madura yang dikenal dengan sebutan "Si Celurit Emas" ini, mengacu kepada adat budaya orang Madura yang sangat menghormati guru. Pepatah "bapha, babhu, guru, ratho" (bapak, ibu, guru dan raja/pemimpin), lanjutnya, menjadi pegangan dan falsafah hidup orang Madura dalam hal keataan dan penghormatan.

Sehingga kasus penganiayaan pada guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura yang dilakukan oleh siswanya sendiri berinisial HI pada guru Ahmad Budi Tjahyanto hingga meninggal dunia pada 1 Februari 2018 itu merupakan tragedi yang dinilai sangat tragis.

Saat di rumah duka, Zawawi juga melihat lukisan karya almarhum berjudul "Kembali Kepada Allah". "Saya melihat Pak Budi ini seniman bibit unggul asal Kabupaten Sampang ini," ujar Zawawi.

Bisa jadi, sambung dia, guru Budi merupakan seniman yang berasal dari Kabupaten Sampang untuk Indonesia nantinya, apabila ia tidak ditakdirkan meninggal dunia terlebih dahulu.

Penganiayaan berujung maut terhadap guru seni rupa Ahmad Budi Thajyanto itu dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI. Peristiwa itu terjadi Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 13.00 WIB. Korban guru seni rupa mengisi pelajaran melukis di halaman luar depan kelas XII.

Saat kegiatan belajar berlangsung, pelaku tak menggubris dan menggangu teman lainnya. Korban menegur pelaku agar mengerjakan tugas seperti temannya yang lain. Namun teguran itu tetap tidak dihiraukan pelaku. Korban kemudian menggoreskan cat ke pipi pelaku. Pelaku tidak terima dan mengeluarkan kalimat tidak sopan. Karena tidak sopan, korban memukul pelaku dengan kertas absen.

Pukulan itu ditangkis pelaku dan langsung menghantam mengenai pelipis kanan korban. Akibatnya, korban tersungkur ke tanah dan berusaha dilerai siswa lain.

Usai kejadian itu seluruh siswa masuk kelas. Di dalam kelas, pelaku sempat meminta maaf kepada korban disaksikan murid-murid yang lain. Setelah pelajaran usai, korban dan pelaku pulang ke rumah masing-masing. Korban masih sempat bercerita kepada kepala sekolah tentang kejadian pemukulan yang dilakukan muridnya.

Setiba di rumah, korban langsung istirahat karena mengeluh pusing dan sakit kepala. Sekitar pukul 15.00, korban dibawa ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena pihak Puskesmas tidak mampu menangani, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit Kabupaten Sampang. Korban kembali dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya.

Pihak rumah sakit kemudian menangani korban dan korban dinyatakan mengalami mati batang otak (MBO), yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi. Sekitar pukul 21.40, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban kemudian langsung dibawa pulang dari RS. Dr. Soetomo Surabaya ke rumah duka di Dusun Pliyang, Desa Tanggumong Kota di Sampang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini