Asmat Sudah Bebas dari KLB Gizi Buruk dan Campak

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 06 Februari 2018 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 06 481 1855420 asmat-sudah-bebas-dari-klb-gizi-buruk-dan-campak-7oYTV3nURS.jpg Gizi buruk (Foto: Dok.Okezone)

KASUS KLB kurang gizi yang berujung pada campak di Asmat, Papua dicabut statusnya. Upaya pemantauan dan penanganan yang dilakukan pemerintah dengan menerbangkan flying health care (FHC) pada bulan lalu dianggap berhasil.

Berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Asmat dengan nomor 800/50/Dinkes/2/2018, wilayah Asmat kini tidak lagi berstatus KLB. Pencabutan status tersebut dilakukan karena tren penderita semakin menurun di RSUD Agats, yang hanya sisa 12 pasien.

 BACA JUGA:

Pharos: Viostin DS Tidak Mengandung (Babi) tapi Tercemar

"Saya nyatakan KLB campak telah berakhir tepat pukul 20.35 WIT," tegas Bupati Asmat Elisa Kambu lewat siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (6/2/2018).

Dari kasus campak tersebut kini hanya tersisa 9 anak yang dirawat inap akibat gizi buruk. Lalu, tiga anak lainnya terkena campak akibat gizi buruk. Kondisi dinilai makin terkendali dengan indikator vaksinasi di 224 kampung yang berada di 23 distrik Asmat.

Elisa tidak main-main saat membebaskan wilayahnya dari masalah gizi buruk dan campak. Pernyataan tersebut didasarkan pada Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010.

Kemudian, kini pemerintah daerah mengevaluasi semua masalah kesehatan besar yang terjadi di Asmat. Mereka pun tetap konsisten memantau para pasien yang dirawat inap. Evaluasi ini dilakukan selama hampir 20 hari sejak penetapan KLB campak pertama kali pada 15 Januari 2018.

Melalui kabar dari Kementerian Kesehatan, untuk pengentasan KLB gizi buruk dan campak diantisipasi dengan pemberian imunisasi lengkap. Imunisasi tersebut diberikan kepada anak-anak dari usia 0-15 tahun yang diberikan kepada 17.337 anak.

Selain itu, meski sudah tidak berstatus KLB, pemerintah tetap mengintervensi dalam pemenuhan status gizi. Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr HM Subuh, MPPM, KLB dinyatakan selesai setelah dua kali masa inkubasi tidak ditemukan atau dilaporkan adanya kasus baru.

"Sedangkan untuk campak masa inkubasinya 14 hari. Sehingga pencabutannya ditunggu 2×14 hari," ujar Subuh.

Kepala Dinas Kesehatan Asmat dr Pieter Pajala menambahkan, pemerintah daerah tetap mengikuti arahan Kementerian Kesehatan RI dalam mengentaskan masalah ini. Ada banyak aksi dengan ketahanan pangan dan sosial budaya.

"Tenaga kesehatan gampang berkomunikasi dengan anak-anak dengan adaptasi optimal hingga ke bivak-bivak," tambahnya.

Pada kasus ini ditemukan penderita campak sebanyak 651 anak dan 223 pasien gizi buruk. Komplikasi gizi buruk dan penderita campak turut ditemukan sebanyak 11 pasien, plus suspek campak sebanyak 25 pasien.

 BACA JUGA:

Isu Hoax Seputar Kesehatan Jadi Urutan ke-3 Bikin Resah Warga, Setelah Politik dan SARA

Hingga status KLB berakhir, tercatat anak meninggal sebanyak 72 orang. Mereka meninggal akibat campak sebanyak 66 orang dan gizi buruk 6 orang. Jumlah meninggal di rumah sakit sebanyak 8 orang sisanya ditemukan di kampung per-September hingga 4 Februari 2018 dengan penyebaran merata. Pasien rujuk ke RSUD Agats ditemukan pada 20-22 Januari 2018 lalu.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini