Informasi Hoax Tentang Kanker yang Sering Beredar di Masyarakat

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 07 Februari 2018 05:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 06 481 1855656 informasi-hoax-tentang-kanker-yang-sering-beredar-di-masyarakat-VTwcjA1cPf.jpg Ilustrasi kanker (Foto: Ist)

TAK ada seorang pun yang ingin mendapatkan vonis dokter terkena kanker. Terlebih penyakit tersebut menjadi salah satu penyebab utama kematian. Maka tak heran bila banyak orang yang berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait kanker.

Sayang, informasi yang diterima oleh masyarakat mengenai kanker terkadang simpang siur. Malah ada sejumlah hoax yang berkembang. Hal itu dituturkan oleh dr. Gregorius Ben Prajogi, Sp.Onk.Rad dalam sebuah seminar tentang kanker baru-baru ini di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Berikut sejumlah hoax tentang kanker yang sering beredar:

1. Kanker baru ada di zaman sekarang. Padahal nyatanya kanker sudah ada sejak dulu.

2. Makanan tertentu seperti buah, makanan dengan pengolahan tertentu, dan vitamin C dosis tinggi dapat menyembuhkan kanker.

3. Makanan asam disebut sebagai penyebab kanker. Ada pula yang mengatakan jeruk dan lemon bersifat basa.

4. Gula diklaim menyebabkan pertumbuhan kanker semakin ganas.

5. Kanker sebagai penyakit lain

6. Obat teknologi ajaib penyembuh kanker sudah ditemukan.

7. Industri menyembunyikan pengobatan kanker.

8. Terapi kanker lebih banyak membunuh daripada menyembuhkan.

9. Upaya dunia kedokteran dalam menangani kanker sudah gagal.

10. Hewan tertentu kebal terhadap kanker.

Kesepuluh informasi yang disebutkan di atas bisa dikatakan belum terbukti kebenarannya. Menurut dr Gregorius, masyarakat harus memiliki motivasi untuk menelaah apakah informasi yang diterimanya itu benar atau tidak. Sebab, saat seseorang mendapatkan informasi, pikiran dapat menjadi bias sehingga diterima begitu saja. "Kalau masih belum yakin bisa tanya dokter atau pendapat ahli," tambahnya.

Dalam paparannya dr Gregorius juga menjelaskan bila seseorang menerima informasi yang belum terbukti kebenarannya, maka ia harus menyikapinya dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan itu berisi pertanyaan seperti apakah saya mampu mengenali tanda-tanda pesan hoax, apakah saya mampu dan mau melakukan verifikasi terhadap informasi yang saya duga sebagai hoax, apakah saya mampu menelaah secara kritis sumber informasi yang disediakan oleh pengirim pesan yang saya duga hoax , serta apakah saya memiliki pengetahuan yang memadai untuk menilai kebenaran suatu pesan yang saya duga hoax .

(dno)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini