nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gizi Buruk Akibat Banyak Orangtua Hanya Beri Asupan Mi Instan ke Anak

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 06 Februari 2018 19:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 06 481 1855686 gizi-buruk-akibat-banyak-orangtua-hanya-beri-asupan-mi-instan-ke-anak-sE2PLJ9MdD.jpg

KUPANG - Maraknya kasus gizi buruk tak lepas dari kurang sadarnya orangtua dalam memberi asupan makanan bergizi kepada anak. Faktanya, banyak kasus gizi buruk akibat orangtua hanya memberi makanan mi instan tanpa dibarengi dengan bahan bergizi lainnya.

Hal ini tercermin dari tingginya kasus gizi buruk di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah penderita mencapai 240 anak pada tahun 2017.

"Penderita gizi buruk di Kota Kupang jumlah cukup tinggi, sekalipun demikian para penderita telah tertangani secara baik melalui pendampingan dan pemberian makanan tambahan bergizi dilakukan petugas kesehatan di daerah ini," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Arie Wijana melalui Kepala Seksi Gizi, Marianah di Kupang, Selasa.

Mariana mengatakan, berdasarkan temuan petugas kesehatan dan kader posyandu di daerah ini selama tahun 2017 menemukan 240 anak berusia 1-5 tahun mengalami gizi buruk dengan indikator berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan.

"Berat badan anak tidak sesuai dengan tinggi badan anak. Kita temukan data ini pada saat pemeriksaan medis di Puskesmas dan posyandu yang rutin memberikan pelayanan kesehatan terhadap anak balita setiap bulan," tegas Mariana.

Penanganan penderita gizi buruk di ibu Kota Provinsi NTT itu melalui pemberian asupan vitamin, suplemen makanan serta obat-oabatan yang bertujuan sebagai penganti metabolisme tubuh anak agar segera pulih.

"Petugas kesehatan Kota Kupang juga memberikan asupan makanan tambahan seperti susu dan makanan bergizi sesuai dengan tingatan umur penderita guna mempercepat pemulihan metabolisme tubuh anak," tegas Marianah.

Ia mengatakan, tingginya jumlah penderita gizi buruk dialami anak-anak dari keluarga yang memiliki pendapatan ekonomi rendah sehingga kebutuhan asupan gizi anak kurang maksimal dilakukan.

"Banyak orang tua anak hanya memberikan mie kepada anak-anaknya tanpa diberikan makanan bergizi lainnya," tegas Mariana.

Ia menegaskan, dalam penanganan para penderita gizi buruk ini dilakukan melalui tahapan penanganan di posyandu, puskesmas hingga dirujuk ke Rumah Sakit Umum jika penderita memiliki penyakit ikutan. "Belum ada korban yang meninggal akibat gizi buruk di daerah ini. Semua penderita kita tangani secara baik," ujarnya.

Dikatakannya, jumlah penderita gizi buruk di Kota Kupang tahun 2017 mengalami penurunan apabila dibandingkan pada tahun 2016 dengan jumlah penderita gizi buruk mencapai 270 orang penderita.

Penanganan cepat kasus gizi buruk di Kupang tak lepas dari kontribusi Kemenkes. Kementerian Kesehatan, misalnya, mendistribusikan bantuan makanan tambahan berupa biskuit dalam mengatasi terjadinya gizi buruk dan gizi kurang yang dialami anak usia sekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

"Kita mendapat bantuan makanan tambahan sebanyak 450 koli berupa biskuit untuk penanganan gizi kurang dan gizi buruk yang dialami anak usia sekolah di Kota Kupang. Makanan tambahan itu merupakan bantuan pemerintah pusat tahun 2017 yang akan didistribusikan tahun 2018," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Arie Wijana melalui Kepala Seksi Gizi Marianah.

Bantuan makanan tambahan berupa biskuit diperuntukkan bagi anak balita, anak sekolah dan ibu hamil yang dianggap perlu diberikan asupan makanan tambahan yang bergizi.

Dinas Kesehatan Kota Kupang akan melakukan distribusi makanan tambahan itu dengan sasaran 11 sekolah di wilayah yang menjadi kantong penderita gizi buruk dan gizi kurang terbanyak di Kota Kupang seperti Oesapa, Kampung Solor, Bonipoi, Pasir Panjang, Naioni, Kuanino serta Tuak Daun Merah (TDM).

Bantuan makanan tambahan itu akan didistribusikan ke 11 pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) untuk dilanjutkan distribusi kepada 11 sekolah itu.

Sedangkan khusus untuk makanan tambahan bagi ibu hamil akan didistribusikan pada saat kegiatan pemeriksaan kehamilan berlangsung di semua pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang tersebar di berbagai keluarahan di Kota Kupang.

"Jumlah bantuannya sangat terbatas sehingga sekolah yang menjadi sasaran penerima bantuan makanan tambahan tahap pertama ini sangat terbatas. Tidak semua sekolah di Kota Kupang sebagai sasaran penerimaan bantuan makanan tambahan itu. Apabila ke depan bantuan dilakukan maka akan diprioritaskan ke sekolah yang belum menerima bantuan itu," tegas Marianah.

Pembagian makanan tambahan akan dilaksanakan pada saat berlangsungnya kegiatan usaha kesehatan sekolah (UKS) sehingga para siswa menerima bantuan makanan tambahan itu secara langsung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini