Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Dimulai dari Orangtua dan Keluarga

Annisa Amalia Ikhsania, Jurnalis · Jum'at 09 Februari 2018 18:19 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 09 196 1857267 penanganan-anak-berkebutuhan-khusus-dimulai-dari-orangtua-dan-keluarga-3gLMsFFTzF.jpg Ilustrasi (Foto: Zheicc)

SETIAP orangtua berharap dikaruniai anak yang memiliki fisik dan psikis yang sempurna. Namun, banyak faktor yang memengaruhi perkembangan janin sejak dalam kandungan sehingga ketika lahir anak mengalami kecacatan atau disabilitas.

Disabilitas secara umum merupakan istilah yang digunakan kepada seseorang yang mengalami cacat atau keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Disabilitas fisik terjadi karena adanya penurunan kemampuan bagian tubuh, hilangnya fungsi bagian tubuh, atau mengalami gangguan dengan struktur tubuh.

Disabilitas fisik pada anak merupakan suatu kondisi yang tidak diinginkan. Di satu sisi, disabilitas fisik bukan sebagai faktor penghambat bagi anak dalam pemenuhan hak-haknya.

Namun, di sisi lain disabilitas fisik pada anak memerlukan penanganan secara khusus. Pasalnya, anak dengan disabilitas fisik memiliki keberlangsungan dalam hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi, dan mendapat perlindungan dari lingkungan.

Di sinilah peran orangtua anak disabilitas dibutuhkan. Meski awalnya orangtua mana pun merasa hancur saat mengetahui anaknya mengalami disabilitas.

"Pendekatan yang utama dan terpenting ada di orangtua dan keluarga. Di dunia ini tak ada seorang pun yang menginginkan kelahiran anak berkebutuhan khusus. Begitu anak lahir, berkebutuhan khusus, pertama orangtua rasanya hancur. Di sinilah orangtua perlu dilakukan pendampingan dan penguatan," tutur Budi Prasojo, selaku Ketua Yayasan Dwituna Rawinala, dalam diskusi media dengan tema 'Menjadi Disabilitas Bukan Hambatan' di Kementerian PPPA, Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2018).

Memang hingga kini stigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus masih dianggap sebagai kelompok anak yang dipinggirkan dari pergaulan. Tak sedikit masyarakat awam yang menganggap anak berkebutuhan khusus merupakan kutukan dari Tuhan hingga menjadi sebab penyakit menular.

Hal ini yang membuat lingkungan keluarga diharapkan hadir sebagai benteng pertama membangun kemandirian anak berkebutuhan khusus. Memberikan ruang untuk membangun kepercayaan diri san mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pasalnya, semakin terkekang dalam lingkungan keluarga hingga terisolasi dari lingkungan sosial maka dari segi mental sang anak akan terus terdesak. Akibatnya, proses adaptasi sosial menjadi terlambat.

"Masalah di orangtuanya dulu yang harus diselesaikan. Awalnya orangtua memang tak mudah menerima. Tapi, perlu diingat, kalau orangtua malu punya anak disabilitas, didiamkan terus di rumah, nanti anaknya tidak berkembang," sambung Budi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Priantiningtyas. Ibu dari anak disabilitas tuna netra ini sempat berbagi pengalaman mengenai trik mengasuh anak berkebutuhan khusus.

"Kembali ke kehidupan masing-masing, orangtua yang menutup diri maka lingkungan akan menutup. Kalau orangtua membuka diri maka lingkungan membuka diri. Jadi, orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tak perlu malu," ujar Priantiningtyas dalam kesempatan yang sama.

"Dari kecil saya mengajarkan anak saya dengan cinta. Mencintai seseorang semua masalah akan terselesaikan. Kalau tidak cinta maka anak akan menjadi beban. Saya tidak berkorban karena saya cinta," tukasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini