nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lahang, Minuman Isotonik Tradisional dari Tanah Sunda

Annisa Aprilia, Jurnalis · Minggu 11 Februari 2018 13:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 09 298 1857461 lahang-minuman-isotonik-tradisional-dari-tanah-sunda-PEMW2Kew9Q.jpg Lahang minuman khas Sunda (Foto: gulunganpita_/Instagram)

MENDENGAR kata lahang pasti telinga generasi milenial akan merasa asing. Wajar saja, karena jenis minuman tradisional ini sudah cukup langka.

Padahal lahang merupakan minuman tradisional Indonesia yang berasal dari tanah Sunda. Lahang bukan sekadar minuman tradisional seperti wedang atau sekoteng yang menghangatkan badan. Tapi, lahang memiliki manfaat lainnya bagi tubuh manusia.

Meskipun tradisional, manfaat lahang bisa sangat berguna bila diminum oleh warga perkotaan yang kelelahan dan butuh pengganti cairan tubuh. Ya, manfaat lahang sama persis dengan minuman isotonik modern dan kekinian, karena juga bisa melepaskan dahaga serta mengganti cairan tubuh yang hilang akibat keringat berlebih.

Lahang seharusnya bisa lebih populer daripada minuman isotonik bermerek, karena lahang lebih murah, dibuat tanpa bahan pengawet, bermanfaat, dan aman bagi tubuh manusia. Meskipun sudah cukup jarang ditemukan, harga segelas lahang bersama dengan manfaatnya cukup sekira Rp2 ribu saja.

 

(Foto: gulunganpita_/Instagram)

Rasa lahang yang manis dan segar akan sangat cocok diminum saat mentari terik dan cuaca panas. Tidak hanya segar, wanginya yang khas juga kian membuat penikmatnya terlena dengan kenikmatan lahang. Selain menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat kelelahan, kandungan gula dan kalori pada lahang bisa menambah tenaga penikmatnya dan mengembalikan kesegaran tubuh yang sudah kelelahan.

Pada masa lalu, lahang dijajakan keliling kampung dengan berjalan kaki oleh pedagangnya. Lahang dijajakan dengan cara dipikul, diletakkan dalam sebuah bambu besar disebut lodong, dan disajikan dengan menggunakan gelas yang juga terbuat dari bambu juga.

Minuman tradisional tanpa pengawet ini jelas aman untuk dikonsumsi, karena terbuat dari bahan-bahan yang juga alami, seperti gula aren sebagai bahan dasar. Nira gula aren yang digunakan pun kabarnya diambil pada waktu-waktu tertentu, yaitu malam hari, subuh, dan harus segera diminum agar tidak berfermentasi menjadi cuka dan tuak. Sebab, jika sudah berfermentasi menjadi tuak, lahang justru berbahaya karena bisa memabukkan penikmatnya.

Sekarang penjaja lahang bisa Anda temukan di salah satu terowongan Semanggi, tepatnya jalur lambat pengendara motor yang mengarah ke Bundaran Hotel Indonesia. Dengan menggunakan lodong atau bambu besar dan masih dipikul, penjaja lahang siap menghilangkan dahaga kaum urban yang rindu akan minuman tradisional dari alam.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini