Menguak Mitos-Mitos Kesehatan Seputar Cokelat

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 12 Februari 2018 15:20 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 12 298 1858357 menguak-mitos-mitos-kesehatan-seputar-cokelat-V5nMCuuaSp.jpg (Foto: Metro)

ANEKA mitos seputar cokelat membuat orangtua berpikir dua kali untuk memberikan camilan ini kepada si kecil. Padahal, mitos yang beredar di masyarakat belum tentu benar, antara lain anggapan cokelat menyebabkan gigi anak rusak.

Faktanya, biji kakao mempunyai fungsi antibakteri TT. Ini adalah bakteri mulut penyebab gigi keropos. “Jadi, biji kakao justru bermanfaat sebaliknya, yaitu mencegah gigi keropos,” kata Dr Rita Ramayulis DCN MKes, ahli gizi Persagi di acara Berbagi Keceriaan dalam Kidzania Fun Chocolate Creation with Silver Queen yang diadakan Silver Queen di Kidzania Jakarta.

Anggapan lain menyebutkan bahwa cokelat dapat menyebabkan diabetes. Faktanya, biji kakao mempunyai indeks glikemik rendah dan zat fitokimianya berperan sebagai antidiabetes.

Pada kesempatan itu, Rita juga meluruskan pernyataan cokelat membuat anak hiperaktif. Memang terdapat makanan yang mengandung zat gluten, yang ketika tidak diserap sempurna menimbulkan efek morfin. Sementara, biji kakao sendiri tidak mengandung gluten.

Terakhir, adanya kepercayaan dengan makan cokelat, akan membuat anak menjadi gemuk. Faktanya, satu saji cokelat (30 gram) mengandung energi setara satu potong. “Cokelat merupakan makanan yang berasal dari biji kakao. Dalam cokelat tersimpan banyak nutrisi yang baik bagi kesehatan. Di biji kakao juga terdapat protein 9% dan karbohidrat 14%. Kandungan cokelat berupa flavanols atau sejenis flavanoid merupakan antioksidan yang baik bagi tubuh,” bebernya.

Biji kakao mengandung kalium, senyawa fenolik yang berguna mengontrol tekanan darah, dan flavonoid yang kaya akan antioksidan. Kandungan antioksidannya tiga kali lebih kuat dibandingkan teh hijau. Lemak pada cokelat adalah lemak nabati yang tidak mengakibatkan kolesterol. Cokelat juga mengandung mineral, zat besi, dan asam amino yang baik bagi tubuh.

Rita memaparkan, bukan biji cokelat asli yang menyebabkan anak-anak mengeluh giginya berlubang, batuk, dan lainnya, melainkan campuran bahan lain yang digunakan untuk membuat biji kakao menjadi cokelat. Kandungan gula dan susu yang ada pada cokelatlah yang menyebabkan anak sakit.

(Baca Juga: Mom, Jangan Sembarangan Beri Makanan Manis Pada Anak!)

“Biasanya pada cokelat yang sering diberikan ke anak-anak adalah cokelat yang kandungan kakaonya di bawah 30%. Bahkan, pada cokelat abal-abal, kandungan kakaonya hanya 3%,” paparnya.

(Baca Juga: Anak-Anak Makan Cokelat dan Sakit Batuk? Ini Penjelasan Ahli Gizi)

Jadi, penting bagi orang tua untuk mengecek label kemasan cokelat yang akan dibeli untuk mengetahui berapa kandungan kakaonya. Cokelat yang baik untuk dikonsumsi sebagai makanan camilan adalah cokelat yang minimal kandungan kakaonya 30% dan di atasnya. Jika cokelat itu yang diberikan, aman untuk anak.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini