nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hikayat Sumur Mujarab dan Tembok yang Tak Bisa Dipaku

Senin 12 Februari 2018 13:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 12 406 1858281 hikayat-sumur-mujarab-dan-tembok-yang-tak-bisa-dipaku-m2PTvX0PN7.jpg Penjara Kalisosok (Koran Sindo)

SURABAYA - Di ujung utara Kota Surabaya, Jawa Timur, nama Penjara Kalisosok sulit dihilangkan dalam ingatan sejarah. Coretan dinding penjara mengisahkan banyak perjalanan panjang pergolakan dan terbentuknya negeri ini.

Goresan pena WR Supratman sampai petuah HOS Tjokroaminoto menghiasi dinding penjara yang menjadi salah satu ba ngunan cagar budaya di Kota Pahlawan. Menjelang senja, dinding Penjara Kalisosok terus berbinar. Dinding yang kini dicat berbagai warna meninggalkan kesan angker sejak ratusan tahun lalu melekat pada penjara yang dibangun di era kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels.

Mural panjang yang berisi cerita tentang kota, kehidupan, dan perlawanan, saat ini menghiasi permukaan dinding penjara. Warna ceria dipilih untuk mem berikan kesan segar pada din ding penjara. Di sepanjang jalan, ingatan membentang dan menerobos batas waktu ketika masa penjajahan yang menjadikan tempat ini begitu bersejarah.

Warsito (49), tukang becak yang setiap hari memangkal di depan penjara, mengaku suka dengan warna penjara yang kini terus bercahaya. Warna hijau, merah, kuning, biru, dan oranye yang mendominasi, membuatnya lebih tenang daripada melihat tembok yang dulu. “Kalau sebelumnya, kesannya angker, seperti bangunan yang banyak ‘penghuninya’ dan terasa menakutkan,” ujarnya, kemarin.

Dia mengaku kerap bulu kuduknya merinding ketika teman-temannya bercerita tentang makhluk lain peng huni Penjara Kalisosok. Bahkan, banyak cerita bermunculan di balik dinding penjara yang memiliki ruang bawah tanah ini.

Penjara Kalisosok juga menyimpan cerita heroik. Kala itu, sekitar Oktober 1945, ketika berita kemerdekaan berhasil menyelinap masuk penjara, para tahanan pun membentuk laskar ber nama “Laskar Pendjara”. Pimpinan laskar ini adalah seorang tukang becak ber nama Ma yor Dollah. Seba gaimana ditulis Bung Tomo dalam bukunya, Kisah Perang 10 November yang terbit pada 1950, diceritakan bahwa pemberontakan dalam penjara ini berhasil menjebol tembok penjara sisi utara. Penjara ini dibangun 1 September 1808 yang menelan biaya sampai 8.000 Gulden. Banyak tokoh perjuangan yang dipenjarakan di sini, di antaranya tokoh Muhammadiyah, KH Mas Mansur, WR Supratman, serta pada tokoh nasional lainnya, pernah merasakan pengapnya Penjara Kalisosok.

Bahkan banyak diantara mereka ada yang meninggal akibat penyiksaan orang-orang Belanda. Nama Kalisosok diambil dari nama sebuah daerah di Surabaya Utara, tepatnya berada di sebelah utara Jalan Rajawali dan Kembang Jepun. Meski terlihat tak terawat, bagian pintu masuk Penjara Kalisosok terlihat masih kuat. Di atasnya terdapat ruang kantor para sipir penjara. Saat masuk di sisi kanan dan kiri dinding setinggi sekitar tiga meter itu juga terlihat masih kuat, meski sudah berlumut dan terdapat tumbuhan merambat. Selain itu, baik dari dalam maupun luar dinding, terlihat ditumbuhi pohon-pohon liar. Pendiri Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto tercatat pernah men dekam di Penjara Kali sosok.

Bahkan, tokoh Marhaenis dan pejuang rakyat Surabaya Doel Arnowo pun pernah mendekam selama sembilan bulan. Pada saat perjuangan anti-fasisme, Penjara Kalisosok juga menjadi saksi penangkapan para aktivis antifasis, seperti Pamudji, Sukayat, Sudarta, dan Asmunanto. Bahkan, tokoh utama gerakan antifasis saat itu, Amir Syarifuddin, juga ditangkap dan dipenjara di sini. Ketika pasukan Sekutu mendarat di Surabaya, Kali sosok juga pernah menjadi saksi se jarah keberanian rakyat Surabaya melawan pasukan Inggris. Pada 26 Oktober 1965, pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu Penjara Kalisosok untuk membebaskan seorang perwira Belanda, Kolonel Huiyer.

Pada zaman Orde Baru, Penjara Kalisosok juga menjadi saksi rezim Soeharto terhadap tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Banyak diantara mereka, sebelum dibuang ke Pulau Buru atau Nusakambangan, harus mendekam dan mendapatkan penyiksaan di Kalisosok. Mohammad Sholeh, Aktivis Pro Demokrasi 1998, pernah merasakan dinginnya lantai Penjara Kalisosok. Ia menjadi penghuni penjara legendaris yang terkenal dengan tahanan politiknya selama 1,5 tahun.

Di ruangan penjara berukuran 1,5x2,5 meter, nalar politik dan gerakan yang dibawanya tak luntur. Kebiasaannya membaca buku masih bisa disalurkan di dalam penjara. Ia termasuk beruntung masih bisa menempati Blok E Penjara Kalisosok. Di blok itu, ia tak dijadikan satu dengan kum pulan penghuni penjara lainnya. Sebab ia termasuk tahanan politik sehingga pengajuannya untuk menempati Blok E diizinkan oleh sipir penjara. “Di bagian paling belakang ada penjara khusus anak yang tak ada lampu penerangan. Ruang itu sengaja gelap untuk mem berikan efek jera bagi anak yang terlibat kejahatan,” ujarnya.

Saat menjadi musuh Orde Baru, Sholeh divonis Pengadilan Negeri (PN) Surabaya selama 4 tahun penjara pada 1996. Ia divonis bersama rekan satu organisasinya di Partai Rak yat Demokratik (PRD), Coen Husain Pontoh yang juga di jebloskan ke Penjara Kalisosok. Setumpuk kenangan yang sulit dilupakannya dari Kalisosok. Momen paling sulit di hilangkan adalah ketika mandi di Kalisosok. Saat masih menjadi tahanan, Sholeh mengaku mandi di sumur yang konon memiliki cerita panjang di masa silam. Air sumur itu dipercaya menyembuhkan jenis luka apa pun bagi orang yang mandi di sana.

“Jadi luka yang ada di tubuh cepat sembuh kalau mandi di sumur itu. Ini sudah menjadi kepercayaan di sana,” katanya.

Pria yang saat ini berprofesi sebagai pengacara itu menambahkan, tembok di Penjara Kalisosok tak bisa dipaku. Penjara warisan kolonial itu terkenal kuat meskipun dindingnya tak tebal. Ketebalan dinding penjara sebenarnya hanya 15 sentimeter saja, tapi tembok itu tak bisa dipaku. “Kalau mau membuat gantungan baju, kulit tembok dilubangi dulu. Baru setelah itu kami memakai kayu dan lem untuk tempat baju. Paku yang ditancapkan tak akan bisa tembus, bisa langsung bengkong,” tuturnya.

Baginya, menjadi penghuni penjara yang dikenal paling angker itu bukanlah cita-cita. Sejak awal ia selalu terbayang rasa ketakutan setelah pindah dari Rutan Medaeng. Selama 10 bulan, Sholeh sempat mendekam di Rutan Medaeng sebelum dipindah ke Kalisosok. Di blok penjara yang sama, ia pernah satu blok dengan nara pidana kasus pembunuhan dan penjahat kakap. Salah satunya dengan Sugik, narapidana yang divonis mati karena membunuh satu keluarga di Jojoran. Ada pula Prayit dan Sugeng, mertua dan menantu yang membunuh perwira TNI aktif. Mereka semua adalah terpidana mati.

“Kami berinteraksi seperti saudara dan saling peduli. Awal nya sempat takut, tapi lama-lama Kalisosok me nyenangkan. Apalagi waktu itu ada taman khusus yang indah di Blok E,” ungkapnya.

Bagi Sholeh, Kalisosok dianggapnya sebagai sekolah ketimbang penjara. Di masa Orde Baru buku “kiri” sempat dibatasi, namun di Kalisosok dia bebas memasukkan bukubuku bacaan beraliran “kiri”. Bahkan, sarana hiburan seperti televisi juga bebas ditonton di lemari kamarnya. Sholeh mengakui kalau banyak sumber ilmu yang bisa diserap otaknya ketika di Kalisosok. Dia bebas berdiskusi dengan semua orang yang lahir dari latar belakang beragam. Kenangan kuat dangan para narapidana lain dari Kalisosok membuat Sholeh sering membuatnya kembali ke ke sana mes kipun sudah bebas. Ia sendiri akhirnya bebas setelah mendapatkan amnesti dari Presiden BJ Habibie pada 1998.

“Saya tetap berharap Penjara Kalisosok jangan dijual ke swasta. Banyak sejarah yang dibangun di sana. Jadi sangat di sayangkan kalau sejarah itu dihilangkan. Kalisosok bisa menjadi wisata sejarah yang penuh dengan cerita di Surabaya,” ucapnya. (Koran Sindo)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini