Image

Pasca-Kebakaran, Kunjungan ke Museum Bahari Masih Diminati

Renny Sundayani, Jurnalis · Selasa 13 Februari 2018 15:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 13 406 1858912 pasca-kebakaran-kunjungan-ke-museum-bahari-masih-diminati-7tzWLxmvui.jpg Museum Bahari (Foto: Okezone)

Tepat pukul 08.55 WIB Museum Bahari yang memuat banyak koleksi kemaritiman Indonesia terbakar. Bangunan museum di sisi utara terbakar dan koleksinya juga dilalap api seperti miniatur model kapal dan alat-alat navigasi pelayaran.

Museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan nomer 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara ini memiliki sejarah perjalanan panjang. Mulai dari zaman VOC bangunannya itu sempat dijadikan gudang rempah, hingga kini memuat berbagai koleksi kemaritiman dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun terbakarnya Museum Bahari di kawasan Jakarta Utara ini, tidak menyurutkan para pelajar dari SMA Sumbangsih untuk tetap mencari ilmu dari sejarah yang berada di Museum Bahari alam kesempatan itu, puluhan pelajar tampak semangat mendengarkan pemandu menjelaskan setiap detailnya dari Museum Bahari.

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar yang rata-rata baru menginjak Museum mengaku kagum dengan bagunan peninggalan VOC tersebut. Beberapa hal seperti rahasia penyimpanan harta berharga VOC ternyata ditempatkan di tempat itu.

"Ternyata banyak sejarahnya di sini. Saya baru tahu, dulunya disini banyak disimpan rempah-rempah sebelum dikirim ke Belanda," ujar Danindra, pelajar kelas 11 SMA Sumbangsih, Jakarta.

Selain menjadi tempat penyimpanan harta berharga VOC, museum itu juga sempat digunakan menjadi gudang logistik dan senjata. Danindra menilai koleksi maritim yang berada di bagunan tertua peninggalan VOC itu menjadi yang paling lengkap.

Menurut Kepala Museum Bahari Husnison Nizar, bagian tertua dari museum ini mulai dibangun pada 1652 semasa akhir kepemimpinan Gubernur Jendral Christoffel van Swoll. Pembangunannya pun dilaksanakan bertahap hingga 1774.

"Pada masa VOC, gedung ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan, pemilihan, penjemuran, dan pengepakan rempah-rempah. Pada saat itu rempah yang banyak di sini seperti kopi, dan teh," ungkapnya.

Selain itu sisi barat Museum Bahari dulunya dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat, juga kerap digunakan untuk penyimpanan sejumlah komoditi berharga yang dijual di Nusantara. Seperti tembaga, timah hingga tekstil milik VOC.

Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Masih dalam bangunan yang sama sejak VOC, barulah Museum Bahari diresmikan pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, lengkap dengan menara-menara kawal VOC di dalamnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini