nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menapaki Kekejaman Kolonial Belanda Keruk Emas Hitam di Sawahlunto

ant, Jurnalis · Selasa 13 Februari 2018 15:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 13 406 1858945 menapaki-kekejaman-kolonial-belanda-keruk-emas-hitam-di-sawahlunto-LJmSK29PCt.jpg Ilustrasi batubara

Manusia Rantai Untuk mendukung aktivitas pertambangan di Sawahlunto, pemerintah Hindia Belanda menggunakan para narapidana sebagai tenaga kerja yang diambil dari penjara-penjara yang ada di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Medan (Sumatera Utara).

Para narapidana ini diangkut dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, dan diturunkan di Pelabuhan Emmahaven--sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur, yang dibangun kolonial Belanda antara 1888 dan 1893. Mereka kemudian diangkut dengan kereta api ke Sawahlunto atau pusat aktivitas pertambangan Sawahlunto.

Nurna, pemandu Museum Sawahlunto mengatakan bahwa para narapidana yang dipekerjakan di pertambangan Sawahlunto ini umumnya adalah narapidana yang dinilai pemerintah Kolonial Belanda sebagai pembangkang. Sebagian di antara mereka adalah tawanan politik Belanda, ada pula yang berasal dari kriminal, para penjahat kelas kakap atau yang dianggap sebagai penjahat.

Kalau tawanan Belanda itu adalah orang-orang yang melawan Belanda. Mereka ingin mempertahankan tanah nenek moyang mereka yang dirampas Belanda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menjadi 'kacung' Belanda, katanya.

Belanda mengganggap mereka adalah teroris, merusak wibawa dan kekuasaan Belanda--suatu ketakutan yang luar biasa yang hinggap di kalangan tuan-tuan berkulit putih kala itu.

"Saya tidak tahu persis, jumlah tahanan yang dipekerjakan di pertambangan Sawahlunto, tetapi mendekati 2.000 orang. Mereka tidak berasal dari tahanan yang jahat, tetapi umumnya adalah pembangkang pemerintah Hindia Belanda," katanya.

Di Sawahlunto inilah para narapidana tersebut untuk membuat terowongan tambang. Pekerja paksa ini dikenal juga dengan sebutan orang rantai karena dalam kegiatan penambangannya kaki mereka tetap dirantai.

"Saat mereka bekerja, hanya kaki yang dirantai. Akan tetapi, setelah bekerja dan kembali ke tahanan, kaki dan tangan semuanya dirantai," kata Sudarsono, pemandu lubang tambang Mbah Soero.

Para pekerja ini menempati sebuah ruang bawah tanah yang dibangun Belanda. Pada dinding ruangan ini, baik di dalam maupun luar, dipasang pecahan kaca sehingga para penghuni tidak bisa sandar, kata Sudarsono.

Siksaan berupa cambukan sering kali mereka terima dari mandor, makanan yang diberikan pun terbatas. Oleh karena itu, lanjut dia, banyak orang rantai yang meninggal selama berlangsungnya kerja paksa itu.

"Banyak pekerja yang meninggal di dalam lubang tambang. Ketika kami membuka bekas tambang ini pada tahun 2007, kami menemukan banyak sekali tulang belulang manusia," ungkapnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini