Mengenal Batik Truntum yang Melambangkan Makna Cinta dan Kesetiaan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 08:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 14 194 1859308 mengenal-batik-truntum-yang-melambangkan-makna-cinta-dan-kesetiaan-ONSfcwIsv8.jpg Batik Truntum (Foto: Google)

INDONESIA sangat dekat kaitannya dengan batik. Bisa dikatakan, di setiap wilayah di negara ini pasti menyimpan batik khas yang mungkin tidak akan ditemukan di wilayah lainnya. Itu juga yang akhirnya membuat Indonesia menjadi sangat kaya.

Motif dalam batik yang tertuang di kain ternyata tidak sekadar goresan tangan. Hampir semua batik nusantara memiliki sejarah di balik pembuatannya. Mulai dari motif yang tergambar, kain yang dipilih, atau siapa yang mengenakannya dan berhak mengenakannya.

Bicara mengenai motif batik, apakah Anda pernah mendengar motif batik bernama “Truntum”?

Usut punya usut, motif batik itu memiliki makna yang cukup dalam mengenai arti cinta dan kesetiaan. Motif batik itu pun disimbolkan sebagai lambang cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama sekamin terasa subur berkembang.

Bagi Anda yang belum tahu, itu kenapa orangtua pengantin mengenakan kain batik bermotif truntum di hari sakral tersebut. Sebab, masih banyak yang beranggapan, symbol cinta yang dipancarkan motif batik truntum bisa menyebar ke semua orang terutama kepada kedua mempelai.

Lebih lanjut, motif truntum sendiri diciptakan Kanjeng Ratu Kencana yang mana dia merupakan Permaisuri Sunan Paku Buwana III. Cerita di balik motif ini pun tidak kalah hebat dari maknanya. Dikutip dari beberapa referensi, kemunculan motif batik ini bermula sekitar 1749-1788 Masehi.

Kala itu, seorang permaisuri bernama Ratu Kencono atau Ratu Beruk merasa diabaikan oleh suaminya karena kesibukan dan karena sang suami lebih memerhatikan selir barunya. Mengetahui fakta tersebut, Ratu Kencono pun suatu malam sembahyang. Sesaat sebelum sembahyang, Ratu melihat langit malam itu bertabur bintang dan langitnya sangat cerah. Tak hanya itu, kerlip bintangnya sangat menyejukkan hati. Keindahan tersebut menemani kesepiannya malam itu.

Sembahyang dilakukan. Di saat yang bersamaan, Ratu mencium harum bunga tanjung berjatuhan di kebun persinggahannya. Dalam kekhusyuan dirinya sembahyang, dia kemudian berpikir untuk mencipta sebuah motif batik.

Selang beberapa lama kemudian, sang raja menemukan permaisurinya tengah membatik sebuah kain yang sangat indah. Hari demi hari, sang raja terus saja terfokus pada apa yang sedang dilakukan ratu. Sampai akhirnya kain tersebut sudah dipenuhi motif batik yang sangat cantik dan tidak tahu bagaimana sang raja pun hatinya kembali luluh pada sang ratu. Cinta sang raja kepada Ratu Kencono kembali bersemi.

Perjuangan Ratu Kencono dalam menciptakan motif ini pun tidak lah mudah. Setiap hari dia harus melukis kain indah tersebut dan dengan perasaan penuh bahagia, dia pun menuangkan kasih sayangnya pada kain tersebut dalam bentuk motif. Batik itu juga yang kemudian membuat sang raja bisa kembali jatuh ke pelukan Ratu Kencono. Dan begitulah filosofi motif truntum.

Sementara itu, jika bicara mengenai etimologi nama motif tersebut, truntum berasal dari istilah teruntum-tuntum (Bahasa Jawa, Red) yang artinya tumbuh lagi. Hal ini sejalan dengan perjuangan Ratu Kencono yang tidak henti-hentinya berjuang akan cintanya pada sang raja dan berharap cinta tersebut disambut dengan kasih sayang yang sama.

Mengenai batik Truntum sendiri, batik ini memiliki pola yang halus dan sederhana. Jika diperhatikan secara detail, batik ini seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil atau menyerupai kuntum bunga melati. Beberapa pihak menilainya mirip dengan taburan bintang di langit yang cerah.

Perlu Anda ketahui, karena nilai sejarah dan ajaran moral yang cukup kuat, motif truntum dinobatkan sebagai salah satu jenis pola batik yang paling terkenal di Solo. Motif tersebut akhirnya sampai sekarang popular di banyak wilayah lainnya di Indonesia. Sesuatu yang membanggakan dan cukup bermakna, ya!

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini