5 Desainer Modest Indonesia Akan Unjuk Gigi di Fashion Scout London Fashion Week 2018

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 15 Februari 2018 09:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 14 194 1859743 5-desainer-modest-indonesia-akan-unjuk-gigi-di-fashion-scout-london-fashion-week-2018-CGn7dBvSol.jpg 5 desainer Indonesia akan ambil bagian di London Fashion Week (Foto: Pradita/Okezone)

GELIAT desainer-desainer lokal sepertinya semakin kencang. Hal ini tidak hanya bisa dilihat dari banyak atau seringnya pagelaran busana diselenggarakan di Tanah Air.

Tetapi juga bisa terlihat dari semakin seringnya desainer-desainer Tanah Air menunjukkan prestasi dan kelasnya. Salah satunya melalui keberhasilan bisa tampil memamerkan karyanya di mata dunia internasional lewat panggung fashion show dunia.

Hal ini dibuktikan dengan lolosnya lima desainer Indonesia Modest Fashion Designer (IMFD) dalam ajang Fashion Scout sebagai bagian dari salah satu pekan mode bergengsi di dunia, gelaran London Fashion Week untuk koleksi Autumn/Winter 2018.

Para desainer tersebut ialah Jeny Tjahyawati, Lia Afif, Aisyah Rupindah Chan, Ratu Anita Soviah dan Tuty Adib. Bernaung di bawah agensi House of Mea yang membawahi desainer berbakat dari Asia dan Timur Tengah, kelima desainer ini akhirnya berhasil lulus proses kurasi yang disebutkan oleh salah satu desainer yang lolos, Jeny Tjahjawati adalah proses yang cukup ketat dan panjang.

 (Baca Juga: Sudah Berhijrah, 3 Seleb Ini Tak Lagi Rayakan Hari Valentine dan Unggah Tulisan Menyentuh)

"Iya proses kurasi ini cukup ketat. Dari pihak sana selain memperhatikan soal desain rancangan. Kita juga harus bisa mengisi kuisioner soal rencana bisnis fashion di London dalam jangka waktu 5 tahun ke depan," ungkap Jeny kala ditemui Okezone, Rabu 14 Februari dalam acara konferensi pers "Indonesia Modest Fashion Designer-Fashion Scout London Fashion Week 2018" di kawasan Sudirman, Jakarta.

Beraksi di London pada 16 Februari 2018 di Freemanson's Hall 60 Great Quenn Street, London, kelima desainer ini diketahui akan menampilkan masing-masing 6 koleksi benang merah kekayaan wastra Nusantara di kancah Internasional.

Jeny Tjahjawati, akan mengangkat rancangan busana bernuansa etnik modern dan elegan yang terinspirasi dari Bunga Loppo dari Bugis dengan detail bordir, manik-manik, kristal Swarovski dengan cutting siluet A, dan juga pengaplikasian pola 3D. Lalu ada Ratu Anita Soviag, yang akan menunjukkan betapa indahnya kain jumputan Palembang, menariknya koleksi yang didominasi warna-warna pastel hasil rancangannya ini dibuat dengan pewarna alam dengan tekni tie dye.

Selanjutnya, ada Lia Afif yang mengusung koleksi busana muslim bertema Dhandaka Turqa yang merupakan gabungan bahasa Sanskerta dan Inggris, yang mempunyai makna puisi dan turunan dari warna Turquoise. Koleksi rancangan Lia yang dibawa ke London ini, akan meng-highlight kain batik Trenggalek yang yang bercerita tentang budaya keaslian dan warisan nenek moyang.

  (Baca Juga: Kebiasaan Unik Orang Jepang di Hari Valentine, Kamu Gak Bakal Sangka!)

Lalu ada tema Sikok yang diangkat oleh Aisyah Rupindah Chan yang terinpirasi oleh kekayaan kebudayaan kota Jambi, diwujudkan dengan koleksi busana syar'i berwarna lembut bergaya etnik melalui batik kota Jambi yang berpadu dengan aksen bordir, menampilkan gaya busana Muslim syar'i bergaya Victorian Look dengan permainan detail frill, bidding, embroidery, dan kombinasi warna peach dan abu-abu yang akan menampilkan kesan elegan sekaligus feminin.

 

Terakhir, ada perancang busana andalan keluarga Presiden Joko Widodo, Tuty Adib yang di kesempatan ini membawakan tema Basiba yang merupakan busana tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Melalui busana Muslim ready to wear dengan detail siluet beads dan handcraft. Merancang koleksi ini, Tuty mengangkat tenun atbm Payakumbuh, Sumatera Barat yang mempunyai keistimewaan dari segi motif dan juga benang katunnya lalu dikombinasikan bersama material bahan sifon, satin, organdi dan taffeta.

  (Baca Juga: Desainer Yongki Budisutisna dan Rudy Chandra Ramaikan Sorella Luna MNC Fashion)

Soal tenun Payakumbuh ini sendiri, Tuty mengungkapkan bahwa motif yang khas dan sifat kainnya yang nyaman menjadi keistimewaan dari tenun ini dibandingkan tenun dari daerah lainnya.

"Selain motif bunga Payakumbuhnya yang khas, kainnya ini juga nyaman dikenakan untuk dibuat busana ready to wear yang lebih modern. Benangnya pun benang katun, bukan benang emas. Warnanya lebih banyak pilihan warna, dari pastel sampai warna yang strong," pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini