Rahasia di Balik Moncernya Pariwisata Bali

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 14:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 14 406 1859460 rahasia-di-balik-moncernya-pariwisata-bali-0KdYbQ1fAQ.jpg (Foto: Luxury Accomodations)

JAKARTA – Pariwisata Pulau Dewata telah tenar seantero dunia. Pencapaian ini bukan semata berkah keindahan alam serta tradisi masyarakat Bali, tapi juga berkat sentuhan tangan para raja-raja dan penguasa nusantara.

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menceritakan, Bali yang kini bergelar sebagai destinasi wisata terbaik di dunia, hal itu sudah dirancang ratusan tahun lalu sejak zaman raja-raja Bali, yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden RI pertama Soekarno.

Raja-raja di Bali, ujar dia, sering mengundang tokoh-tokoh dunia untuk datang dan tinggal hingga menikah di Bali. Soekarno melanjutkan program tersebut dengan membangun pantai Bali, bandara Ngurah Rai dan sebagainya.

"Bahkan, Presiden Soekarno mengajak para penari Bali keliling dunia untuk mempromosikan Pulau Bali. Salah satu penarinya adalah ibu kandung saya," papar mantan wali kota Denpasar tersebut saat membuka acara International Conference on Business Law and Local Wisdom in Touris di Kampus Universitas Warmadewa, Kota Denpasar, Bali, Rabu (14/2/2018).

Ihwal popularitas Bali di mata wisatawan asing, Bali memang tak terkalahkan. Meski diuji dengan erupsi Gunung Agung sejak penghujung 2017 lalu hingga saat ini, faktanya jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali sepanjang 2017 mencapai 5,7 juta turis, atau melebihi target kunjungan wisman sebesar 5,5 juta turis, bahkan naik 16 persen bila dibandingkan dengan tahun 2016 sebesar 4,92 juta turis.

Jumlah ini masih belum termasuk turis asing yang berkunjung ke Bali melalui kapal pesiar dan pelabuhan. Selama tahun 2017, ada 68 kapal pesiar yang bersandar di Tanjung Benoa dan Pelabuhan Celukan Bawang.

Belajar dari kesuksesan Bali, Puspayoga mengingatkan, hal tersulit dalam membangun sebuah destinasi wisata adalah mengubah mindset masyarakat sekitar atas derasnya laju pariwisata.

"Kalau mengubah infrastruktur mudah, yang penting ada uang untuk membangun jalan, bandara, dan infrastruktur lainnya. Di sisi lain, apakah masyarakat di sana mau mengubah mindset terhadap perkembangan destinasi wisata. Akan datang para turis dari berbagai belahan dunia yang datang membawa budaya dan juga masing-masing perilaku. Ini tidak mudah, tapi bisa dipersiapkan," tegasnya.

Di depan Rektor Universitas Warmadewa Prof dr Dewa Putu Widjana, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM I Wayan Dipta, Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali AA Gede Oka Wisnumurti, Walikota dan Bupati se-Bali, serta para panelis dari kalangan akademisi dalam dan luar negeri, Puspayoga juga menjelaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata tak akan pernah bisa lepas dari masalah hukum, terutama untuk menjaga kearifan lokal di daerah masing-masing.

(Baca Juga: Letusan Gunung Agung Jadi Destinasi Wisata Baru di Bali)

Yang pasti, ada hubungan yang sangat erat antara masalah hukum, kearifan lokal dan sektor pariwisata. Local wisdom merupakan sesuatu yang harus dilakukan agar masyarakat dapat menjadi terdampak positif dari kemajuan zaman.

(Hari Valentine, Pagar Gembok Cinta di Filipina Ramai Dikunjungi Warga)

"Zaman sekarang banyak investasi dari pemodal besar dalam dan luar negeri yang masuk ke wilayah pariwisata di Indonesia. Jangan sampai hanya para investor yang mendapat keuntungan. Masyarakat juga harus mendapat keuntungan dari perkembangan destinasi wisata di daerahnya," kata Puspayoga melalui siaran pers Humas Kementerian Koperasi dan UKM.

(Baca Juga: Temukus, Desa Berwarna Jingga di Bali dengan Panorama Menawan)

Terkait hal itu, Puspayoga berharap agar banyak dibangun homestay di pedesaan-pedesaan, yang akan berdampak langsung pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat disana.

"Selain itu, juga harus dibangun para UKM yang mampu menghasilkan produk-produk khas daerah sebagai cinderamata bagi para turis yang datang, termasuk mengembangkan kuliner khas daerahnya. Agar bisa berkembang kuat, sebaiknya para UKM tergabung dalam satu wadah bernama koperasi. Karena, koperasi merupakan wujud nyata dari ekonomi rakyat sekaligus sebagai wujud pemerataan kesejahteraan dari sebuah pertumbuhan ekonomi", kata mantan wali kota Denpasar tersebut.

Bagi Puspayoga, perkembangan sebuah destinasi wisata tidak akan terjadi tanpa pertumbuhan UKM-nya. Begitu juga sebaliknya, UKM tak akan bisa berkembang tanpa sektor pariwisata. "Antara sektor pariwisata dan UKM merupakan dua sisi mata uang yang saling melengkapi," ulasnya.

(Intip Kehangatan Warga Filipina Bersama Anjing Kesayangannya pada Date with Dogs)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini