nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berhenti Mempermalukan Wanita Single dengan Kata-Kata Ini!

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 15 Februari 2018 11:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 15 196 1859932 berhenti-mempermalukan-wanita-single-dengan-kata-kata-ini-6AdLhquVmj.jpg Ilustrasi (Foto: Cbsnews)

MENJADI single di negara tercinta Indonesia tidaklah mudah. Tekanan untuk segera menikah, khususnya bagi wanita sangat kencang. Di atas usia 25 tahun bila wanita belum menikah dianggap masuk kategori rawan, di mana artinya akan semakin sulit medapatkan jodoh.

Bila tekanan untuk segera menikah datang dari keluarga, mungkin bisa dimaklumi. Namun, bila tekanan itu datang dari lingkungan sosial, tempat kerja, bahkan dari orang yang tak ada hubungannya dengan kehidupan wanita itu sendiri, maka itu sudah keterlaluan.

Menyandang status single semakin berat ketika mempermalukan orang berstatus single dianggap wajar. Misalnya, melecehkan wanita single dengan kalimat olok-olok untuk jomblo.

Melihat mewabahnya fenomena ini, Feby Indirani seorang penulis buku akhirnya merasa perlu menyelamatkan perasaan wanita single yang sering dibully. Ia pun mendukung kampanye #stopsingleshaming.

Saat ditemui Okezone dalam acara Talkshow Love For All, Rabu 14 Februari 2018, di kawasan Jakarta Selatan, penulis buku berjudul "69 Things to be Grateful About Being Single" menyebut contoh beberapa kalimat single shaming yang sering menimpa wanita.

Wanita itu ibarat pohon Natal

Ucapan ini biasa ditujukan kepada wanita yang nyaris berusia 25 tahun atau lebih tetapi belum menikah. Artinya, pohon Natal hanya laku pada tanggal 25, lewat dari tanggal itu sudah tidak laku.

"Tanggal Natal diibaratkan usia wanita. Teman saya pernah 'disemprot' kata-kata seperti itu oleh atasannya di kantor yang notabennya tak ada hubungan apa-apa dengan dia selain soal pekerjaan," kata Feby.

Kenapa belum nikah?

Pertanyaan ini bahkan bukan hanya dilontarkan oleh keluarga atau teman dekat. Petugas-petugas administrasi kantor-kantor pemerintahan bahkan langsung bertanya ketika memeriksa berkas wanita berusia di atas 25 tahun tetapi status single. Seperti saat bikin pasport atau bikin KTP.

"Ini pernah dialami oleh seorang wanita yang membagi ceritanya kepada saya di Twitter," ujar Feby.

Pertanyaan HRD

"Bukan saja oleh petugas administrasi negara. Pertanyaan ini kerap ditanyakan HRD kepada calon karyawan pada tahap seleksi. Entah apa hubungannya status dengan kompetensi kerja," ungkapnya.

Bengong aja loe, mikirin jodoh ya enggak dateng-dateng?

"Kalimat semacam ini sering banget kita dengar. Entah dalam hal apa pun. Ibaratnya semua yang dilakukan wanita single, kalau salah pasti karena belum nikah."

Iklan-iklan

"Ingat iklan, 'Truk aja gandengan masa kamu enggak'. Single shaming semacam ini dianggap wajar. Bahkan Taman Jomblo yang dibuat pemerintah dianggap prestasi. Padahal, itu bukan prestasi atau pun juga solusi."

Menyalahkan karier

"Wanita yang kariernya bagus dianggap salah hanya karena belum menikah. Padahal, banyak juga wanita yang kariernya sukses tetapi mereka cepat menikah. Misalnya, 'Mengejar karier terus sih, jadi susahkan?' Dapat jodoh."

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini