nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lansia Lebih Sering Lupa saat Bangun Tidur, Ini Penyebabnya

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Kamis 15 Februari 2018 07:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 15 481 1859847 lansia-lebih-sering-lupa-saat-bangun-tidur-ini-penyebabnya-sN1OzvJCa9.jpg

JAKARTA - Bukan berita baru lagi jika lansia pada umumnya lebih rentan pikun. Pasalnya, fungsi otak akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, sebuah penelitian menemukan bahwa lansia terutama lebih gampang lupa saat bangun tidur. Kenapa bisa begitu?

Lansia lebih gampang lupa saat bangun tidur

Pernyataan di atas dibuat oleh sekelompok tim peneliti dari University of California, Berkeley (UC Berkeley) setelah mengamati hasil scan otak dan pola tidur dari dua kelompok partisipan berbeda: satu kelompok adalah 20 orang dewasa muda, sementara kelompok lainnya adalah 32 lansia yang berusia 60-70 tahun.

Sebelum tidur, peneliti meminta kedua kelompok untuk menghafal 120 pasang kata, dan mereka mengamati aktivitas gelombang listrik otak peserta selama tidur menggunakan elektroda. Normalnya, aktivitas gelombang otak terdiri dari gelombang lambat yang terjadi setiap detik dan gelombang cepat (spindle) yang terjadi sekitar 12 kali per detik. Kedua gelombang otak ini terjadi pada tahapan tidur non-REM, transisi dari “tidur ayam” menuju tidur nyenyak bermimpi.

Di pagi berikutnya, para peserta diminta untuk mengucapkan kembali kata-kata yang telah dihafalkan semalam. Kelompok lansia berhasil mengingat jumlah kata yang jauh lebih sedikit daripada orang dewasa muda. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Neuron.

Mengapa demikian?

Normalnya, tidur membantu otak untuk mengatur ulang informasi yang kita peroleh selama satu hari penuh dan kemudian menyimpannya dalam ingatan. Proses ini disebut sebagai konsolidasi, alias penguatan memori.

Peneliti menemukan bahwa proses penuaan alami mengganggu “pertemuan” antara gelombang lambat dan gelombang cepat. Padahal, kedua gelombang ini harus bisa bertemu di momen yang pas untuk mengokohkan ingatan baru selama tidur.

Seharusnya, gelombang lambat akan terjadi lebih dulu kemudian disusul oleh gelombang cepat. Namun, rentang waktu antar dua gelombang ini sebenarnya amat sangat singkat, hanya sepersepuluh detik.

Seiring penuaan, otak tidak lagi bisa mengkoordinasikan waktu pertemuan antar kedua gelombang otak tersebut secara akurat. Ketika kedua gelombang otak ini tidak bisa bertemu, otak tidak bisa menguatkan ingatan baru yang masuk tepat sebelum tidur. Akibatnya, lansia jadi cepat lupa saat bangun tidur — bukannya malah mengingat.

Periset kemudian juga mengungkapkan bahwa ketidakmampuan otak untuk mengkoordinasikan waktu pertemuan gelombang dalam tidur bisa disebabkan oleh penyusutan otak (atrofi otak) khususnya di area korteks medial frontal, yang dikenal menghasilkan tidur nyenyak.

Efek kurang tidur nyenyak itu sendiri tlah lama dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif otak. Pikiran yang berkabut ketika bangun tidur menyulitkan Anda untuk berkonsentrasi, memusatkan perhatian, dan mengambil keputusan.

Bisakah dicegah?

Peneliti yakin bahwa membiarkan lansia mendapatkan tidur cukup bisa membantu meringankan efek ini. Sebaiknya tetapkan jam tidur yang rutin bagi lansia setiap hari. Dengan begitu, tubuh lama-lama akan terlatih untuk tidur dan bangun di waktu yang tepat. Agar bisa cepat terlelap, usahakan untuk mematikan ponsel, televisi, dan alat elektronik lainnya ketika Anda sudah di tempat tidur.

Selain itu, hindari konsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, dan minuman bersoda kira-kira enam jam sebelum tidur. Kemudian, cobalah untuk membuat tubuh dan pikiran santai sebelum tidur dengan teknik relaksasi, misalnya teknik pernapasan dalam atau meditasi.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini