nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada Pantangan, Tidak Boleh Sembarang Perempuan Membuat Kue Keranjang Khas Imlek

Ade Putra, Jurnalis · Jum'at 16 Februari 2018 10:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 16 298 1860443 ada-pantangan-tidak-boleh-sembarang-perempuan-membuat-kue-keranjang-khas-imlek-zTFFFHEMKs.jpg Kue keranjang khas Imlek (Foto:Adeputra)

 

KUE keranjang menjadi penganan khas dan yang paling gampang ditemukan ketika bertandang ke rumah warga Tionghoa saat perayaan tahun baru Imlek. Kue berwarna coklat seperti dodol ini, terbuat dari beras ketan (pulut) dan gula pasir. Memiliki tekstur yang kenyal dan lengket. Kenapa disebut kue keranjang? Begini asal muasalnya.

Disebut kue keranjang, sudah pasti karena sebelumnya dicetak menggunakan wadah yang berbentuk bulat terbuat dari keranjang (saat ini sudah pakai kaleng). Kue ini juga disebut Nian Gao atau dalam dialek Hokkian, Tii Kwee. Jika yang dalam dialek Tiociu disebut Thiam Kwe atau Thiam Pan dalam dialek Khek. Thiam artinya manis, sedangkan Kwe atau Pan artinya kue.

Kue keranjang dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Kue yang dijadikan sebagai sesaji, tidak dimakan sampai perayaan Cap Go Meh yakni, malam ke-15 setelah perayaan Imlek.

BACA JUGA:

Jelang Imlek, Yuk Lihat Proses Pembuatan 'Mie Panjang Umur' di Pontianak

Kue ini juga diyakini sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa berita yang menyenangkan kepada Raja Surga (Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Merujuk pada nama Nian Gao --sebutan kue keranjang-- yang dulunya disebut Nien Kao. Kata Nian sendiri berarti tahun. Sedangkan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.

Semakin ke atas, maka susunan kue semakin mengecil. Ada makna tersirat. Yakni, kue yang disusun itu akan memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah yang di bagian atasnya yang tertulis tulisan Gao. Itu hanyalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Kota Pontianak dan Singkawang maupun Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah, merupakan empat daerah di Kalimantan Barat yang ramai tersebar warga Tionghoa. Warga Tionghoa disana tidak hanya menjadikan kue ini sebagai sesaji, melainkan juga untuk makanan pembuka setiap Imlek.

Warga Tionghoa disana, setiap Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai makanan pokok. Hal tersebut dimaksudkan sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.

 

Caroline, atau yang kerap disapa Alin, kepada Okezone mengatakan, setiap perayaan Imlek, keluarganya selalu menyediakan kue keranjang di kediamannya, Jalan Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya, tetangga Kota Pontianak. Seperti pada Imlek 2569, 2018 masehi ini, jauh-jauh hari ibu satu anak ini sudah memborong kue keranjang untuk hidangan tamu dan tradisi.

"Memang setiap Imlek kue keranjang pasti ada di rumah. Tapi kami makan sedikit di hari pertama saja. Setelah itu, jarang disentuh (dimakan). Karena setiap berkunjung ke rumah keluarga yang dilihat kue keranjang semua," tuturnya.

Sama halnya dengan keluarga-keluarga atau handai taulan yang berkunjung ke rumah Alin. Kue keranjang yang banyak diborongnya itu, tidak disentuh sama sekali oleh mereka. "Mungkin bosan ya, karena di rumah mereka juga pasti ada kue keranjang," ucapnya.

Ia melanjutkan, kue keranjang bakal laris diminati setelah hari raya Imlek usai, atau memasuki perayaan Cap Go Meh. Juga jikalau tamu yang datang pada saat perayaan Imlek itu adalah teman-teman atau tetangga yang bukan Tionghoa.

"Samalah dengan lebaran atau natal, kalau sehari dua hari perayaan, kue-kue jarang disentuh. Kue keranjang di rumah saya ini disentuh kalau sudah seminggu perayaan, atau yang datang adalah teman yang bukan Tionghoa," terangnya.

Dewasa ini, kue keranjang banyak diminati warga umum yang notabene bukan warga Tionghoa. Menjelang perayaan Imlek, kue ini kadang dijadikan hadiah dari warga Tionghoa untuk rekan bisnis atau kerjanya yang bukan warga Tionghoa. Ya, mungkin sebagai bentuk 'Indahnya Berbagi'.

 

Yohanes Irawan, salah satu warga Kota Pontianak ini doyan menyantap kue keranjang. Meski bukan warga Tionghoa, dia selalu menanti kedatangan Imlek. Masa dimana banyak terdapat kue keranjang. "Anak dan istri saya doyan sekali dengan kue ini," tutur pria berambut gondrong ini sambil menunjukkan kue keranjang yang baru saja dibelinya.

Minggu (11/2/2018) kemarin, pria 33 tahun ini ditemui usai membeli kue keranjang di rumah produksi milik keluarga Tan Jeu Lie. Letaknya, di Gang Syukur 3, Jalan Veteran, Pontianak Selatan, persis di depan Masjid Amanatul Hasanah.

"Hampir setiap tahun kita mengikuti suasana Imlek dengan turut menikmati penanganan tradisional khas warga Tionghoa ini. Setiap Imlek pasti makan kue keranjang. Setiap makan kue keranjang, pasti lagi Imlek," tambah Yohanes.

Pria yang akrab disapa Yoyon ini, memang sudah berlangganan kue keranjang buatan tangan keluarga Tan Jeu Lie. Menurutnya, dengan membeli langsung di tempat pembuatan akan lebih mendapat hasil yang baik. Dalam arti, baik kualitasnya maupun harganya.

"Kalau membeli dengan pembuatnya langsung kan, kita bisa tahu prosesnya seperti apa, rasanya seperti apa karena baru jadi (terbuat) dan pasti lebih murah. Kalau di pasar kan pasti harganya beda, begitu juga rasa. Intinya kita bisa lebih tahu dengan kue ini. Beli sambil tanya-tanya dan lihat langsung proses pembuatannya," ucap Yoyon.

Di rumah produksi milik Tan Jeu Lie ini memang berbeda dari yang lainnya. Pembeli bisa tahu lebih dalam soal proses pembuatan dan sejarah kue keranjang. Karena disana pembeli bisa melihat tahapan proses pembuatan serta dilayani dengan ramah oleh karyawan Tan Jeu Lie, tak lain keluarganya juga.

BACA JUGA:

Selain Mi, 4 Makanan Ini Diyakini Membawa Keberuntungan saat Imlek

Lalu, seperti apa proses pembuatan kue keranjang ini? Okezone sempat melihat langsung proses pembuatan kue keranjang buatan keluarga Tan Jeu Lie.

Sambil memantau karyawannya kerja, Tan Jeu Lie atau yang akrab disapa Ali ini mulai bercerita. Memakan waktu 14 jam untuk membuat adonan tepung ketan serta bahan lainnya, menjadi kue keranjang.

Pertama, beras ketan pilihan dicuci bersih dan ditiriskan. Kemudian digiling untuk menghasilkan tepung cair. Selanjutnya, tepung tersebut dikurangi kadar airnya dengan alat pres atau diperas.

 

Sambil menunggu proses penggilingan tepung, rebus gula pasir hingga mendidih dan cair. Kemudian saring dan dinginkan. Lalu tambahkan santan dan rebus kembali. Tunggu sampai mendidih sambil diaduk-aduk hingga gula larut dengan santan.

Kemudian, campurkan adonan tepung ketan ke dalam adonan gulas ampai mengental dan mudah untuk dibentuk. Setelah tercampur, tuang adonan ke dalam cetakan bulat yang sebelumnya telah diolesi dengan minyak sayur dan dilapisi plastik.

Kukus selama kurang lebih 14 jam atau sampai benar-benar berubah menjadi warna kemerahan. "Aduk-aduk terus sampai adonan ini meletup-letup," jelas Ali.

Saat dalam proses kukus, api harus berukuran sedang dan stabil. Setelah matang, angkat dan diamkan hingga dingin. "Setelah dingin, keluarkan dari cetakan lalu dirapikan," jelasnya.

Tan Jeu Lie anak dari Tan Ngen Chan adalah salah seorang pengrajin atau pembuat kue keranjang yang ada di Kota Pontianak. Pria 57 tahun ini tidak memiliki pabrik atau perusahaan yang besar. Ia cukup memanfaatkan ruangan dan teras rumahnya untuk menjalankan usaha turun temurun keluarga.

Menjelang Imlek dan Cap Go Meh ini, ia kebanjiran pesanan. Alin dan Yoyon, menjadi contoh pelanggannya. Bahkan, warga luar Pontianak pun jauh-jauh hari sudah memesan kepadanya. Bahkan dari Malaysia pun ada yang pesan.

"Pelanggan yang di Pontianak, ambil sendiri di rumah. Kalau yang jauh, mereka harus pesan dulu jauh-jauh hari, biar kami siap kemudian kami antar," katanya.

Usaha keluarga Ali ini tak berlabel seperti jajanan makanan khas artis yang kekinian. Meski begitu, usaha ini sudah digeluti Ali lebih dari 20 tahun yang lalu. Ia meneruskan usaha almarhum ayahnya yang juga meneruskan usaha neneknya. Seingat Ali, usaha ini mulai dirintis sejak 40 tahun silam.

"Saya hanya meneruskan usaha keluarga. Waktu dulu bantu bapak. Sekarang bapak sudah meninggal, saya yang jalankan usaha ini," ujarnya.

Ali mengatakan, tahun sejak Januari kemarin ia sudah mulai produksi. Dalam sehari, ia mampu memproduksi 200 kilogram kue keranjang. Satu kilogram, ia jual seharga Rp23 ribu. Ukuran kue ini, rata-rata satu kue seberat setengah kilogram. Cetakan kue yang dipakai pun tak lagi keranjang, melainkan kaleng bekas susu kental dan blueband ukuran sedang.

"Makanya kita mulai produksi sebulan sebelum Imlek, karena pelanggan sekali pesan sampai ratusan kilogram," terangnya.

Ia mengaku, harga yang diberikan termasuk relatif murah. Ia tak memikirkan untung, namun kenyamanan serta pelayanan dari resep rahasia keluarganya ini yang diutamakan, demi menjaga pelanggan tetap setia agar menjadikan usaha peninggalan keluarganya terus berjaya.