Tradisi Makan Besar saat Imlek Keluarga Kapitan di Palembang Mulai Luntur

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 16 Februari 2018 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 16 298 1860465 tradisi-makan-besar-saat-imlek-keluarga-kapitan-di-palembang-mulai-luntur-sZigybII3g.jpg Kuliner khas Imlek (Foto:Ilustrasi/Hpility)

 

MENJADI bagian dari keluarga Tiongkok pertama di Palembang, Sumatera Selatan, keluarga Kapitan tentu punya hati tersendiri bagi kota tersebut. Tidak heran akhirnya pemerintah membantu merenovasi salah satu rumah besar Kapitan.

Namun, ada kesedihan tersendiri yang terjadi di keluarga ini. Bisa dikatakan 400 tahun lalu keluarga ini memang terpandang. Banyak pihak yang mengagumi sosok Kapitan dan tentunya keluarga besarnya. Kini, yang tersisa di Kampung kapitan hanya mereka dari generasi ke-16. Sisanya? di makan zaman.

BACA JUGA:

Menyusuri Jejak Kampung Pecinan Tertua di Palembang

Dulu terpandang dan punya segalanya, kini mereka seperti "kekurangan". Menantu Kapitan dari generasi ke-14, Eng Sui, mengungkapkan fakta ini. Banyak hal yang berubah dari keluarga ini, ya, salah satunya masalah keuangan.

"Keluarga ini sudah tidak lagi punya cukup uang. Banyak juga keluarga Kapitan yang meninggalkan kampung ini dan pergi ke sebrang pulau. Menyebar di berbagai dataran," cerita Eng pada Okezone, Rabu (14/2/2018).

 

Tidak hanya perekonomian, tradisi keluarga Kapitan pun ada yang mulai luntur bahkan siap dikebumikan. Adalah makan besar bersama satu meja saat Imlek.

Ini juga akhirnya yang membuat Eng sedih. Keakraban yang dulu masih dia rasakan, semakin hari semakin sirna. Tidak ada lagi meja besar berisi makanan nikmat yang disuguhkan untuk merayakan kebahagiaan tahun baru yang perlu disyukuri.

"Ya, semua berubah. Dulu memang selalu ada makan besar satu meja saat Imlek, sekarang gini-gini saja. Tapi saya dan keluarga tetap bertahan untuk merawat Kampung Kapitan sekali pun kondisinya seperti ini," keluh Eng.

BACA JUGA:

Warga Palangka Raya Antusias Saksikan Barongsai di Malam Imlek

Pria berusia 69 tahun itu berkisah saat masih jaya, Imlek terasa mewah. Pesta kembang api, perayaan barongsai, dan tentunya makan besar. Semua menyantap makanan kesukaannya. Tidak ketinggalan arak pun siap menetralkan perut.

 

Kini, meja besar itu tidak ada lagi. Makanan yang dihidangkan pun seadanya, seperti kari ayam, ayam bakar, dan sesekali makan babi. "Sisanya kami beli dan makannya pun tidak lagi di meja besar. Minum-minum masih kami jaya," ungkap Eng Sui.

Bagi Anda yang mau Imlekan di Kampung Kapitan, biasanya akan diajak untuk ikut minum atau Anda yang tidak minum arak, ada minuman lain yang tentunya bisa dinikmati bersama di kampung pecinan tertua di Palembang ini.

"Kami selalu adakan open house saat Imlek. Kami ingin membagikan kebahagiaan ini ke banyak orang sekali pun dalam kondisi yang sangat sederhana. Intinya, saling berbagi dan merasakan bahagia bersama itu berarti bagi kami," kata Eng lalu tersenyum lebar.

 

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini