nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sektor Pariwisata Terpuruk Selama Jalur Puncak Ditutup

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 19 Februari 2018 17:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 19 406 1861591 sektor-pariwisata-terpuruk-selama-jalur-puncak-ditutup-GzMqUCyKWY.jpg

CIANJUR - Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Cianjur, Jawa Barat, menyatakan ditutupnya Jalur Puncak-Bogor, menyebabkan penurunan angka kujungan wisatawan hingga 70 persen di sektor perhotelan, rumah makan, tempat wisata dan sektor perekonomian lain.

Kepala Disparpora Cianjur, Asep Suparman mengatakan, sejak ditutupnya jalur tersebut, berbagai sektor pariwisata dan penunjangnya mengalami masa kritis, terlebih tertutupnya jalur tidak pasti sampai kapan diberlakukan.

"Hari ini sudah dapat dilalui kendaraan namun masih dalam proses uji coba. Namun sejak ditutup selama 16 hari, berbagai sektor di wilayah Puncak-Cipanas, mengalami masa krisis termasuk roda perekonomian yang merosot tajam," katanya.

Dia menjelaskan, setelah melakukan survei beberapa waktu lalu, rata-rata pelaku ekonomi di wilayah tersebut, hanya bisa mendapat penghasilan 30 persen setiap harinya. Sehingga banyak pelaku usaha mulai dari rumah makan, hotel dan tempat wisata yang mengurangi karyawan untuk sementara.

"Imbasnya cukup luas termasuk perekonomian warga di sepanjang jalur tersebut, tidak dapat berbuat banyak meskipun tetap beroperasi namun tidak dapat menutupi biaya operasional. Solusi satu-satunya pemerintah pusat kembali mempertimbangkan pembangunan Jalur Puncak II," katanya.

Aldi (29) pengelola rumah makan terbesar di Jalan Raya Pasekon-Cipanas, pada wartawan, Senin mengatakan, sejak ditutupnya jalur Puncak-Bogor sejak enam belas hari terkahir, membuat pihaknya merumahkan puluhan karyawannya karena sepinya pembeli yang datang.

Bahkan pihaknya terpaksa mengurangi jumlah masakan yang disajikan serta mempersingkat jadwal operasional yang biasanya 24 jam setiap harinya. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi beban operasional yang ditanggung setiap hari yang terus membengkak.

"Kami biasanya buka 24 jam, namun sejak satu pekan terkahir, kami hanya buka sampai jam 9 malam dan jumlah karyawan dikurangi agar biaya operasional tidak terus membengkak karena sepinya pembeli yang datang sejak Jalur Puncak-Bogor ditutup," katanya.

Meskipun hari ini, sejak pukul 12.00 WIB, jalur Puncak-Bogor telah kembali dibuka dalam rangka uji coba, pihaknya belum berencana menarik kembali karyawan yang dirumahkan karena belum ada kepastian jalur akan dibuka secara normal.

"Kami akan memindahkan karyawan yang dirumahkan ke cabang lain yang tidak terganggu kalau sampai akhir bulan ini, belum ada kepastian jalur akan dibuka normal. Harapan kami perbaikan yang dilakukan sudah maksimal dan jalur Puncak-Bogor kembali normal," katanya.

Hal senada terucap dari Joko manager HRD hotel berbintang di Jalan Raya Cipanas-Puncak, sejak satu pekan terkahir pihaknya terpaksa merumahkan ratusan karyawan karena sepinya pengunjung yang datang untuk menginap.

"Untuk mengurangi biaya operasional, kami merumahkan ratusan karyawan yang rencananya akan ditarik kembali setelah Jalur Puncak-Bogor kembali dibuka normal. Sejak ditutup dua pekan terakhir, hanya beberapa kamar yang terisi, sedangkan biaya operasional membengkak," katanya.

Sementara sejak dua pekan terakhir, puluhan pedagang oleh-oleh di kawasan wisata Puncak-Cipanas, berhenti berjualan karena sepinya wisatawan yang datang, termasuk saat libur panjang akhir pekan yang lalu. Hanya beberapa orang yang masih bertahan berjualan karena tidak memiliki bidang usaha lain.

(Baca Juga: Jalur Puncak Ditutup 10 Hari, Pengunjung Hotel dan Villa Menurun)

"Sudah masuk tiga minggu kami tidak berjualan karena wisatawan yang datang sangat minim. Biasanya kalau tidak hari biasa kami bisa mengandalkan penghasilan pada dua hari di akhir pekan. Namun sejak jalur ditutup kami alih propefesi jadi buruh tani," kata Yudi pedagang oleh-oleh di Kebun Raya Cibodas.

Asep Suparman menuturkan, dibukanya Jalur Puncak II akan menjadi solusi untuk penanganan kemacetan dan ketika terjadi bencana alam seperti saat ini melanda kawasan Jalan utama Puncak-Bogor."Kami tidak dapat intervensi terkait kebijakan tersebut karena kewenangan pusat, namun harapan kami dapat terkabul," katanya.

Dia menambahkan, meskipun saat ini ada jalur alternatif Jonggol atau Sukabumi, namun tidak efektif untuk direkomendasikan sebagai jalur cepat untuk sampai ke tempat wisata di kawasan Puncak-Cipanas karena penguna jalan harus memutar dengan jarak tempuh yang cukup panjang dan lama.

(Baca Juga: Usai Longsor, Jalur Puncak Kembali Dibuka)

Sementara ratusan pelaku usaha di sepanjang jalur tersebut, mengaharapkan jalur Puncak II kembali masuk dalam agenda pembangunan oleh pemerintah pusat, agar saat terjadi bencana alam atau macet total terjadi di jalur tersebut, ada jalan alternatif untuk tetap sampai ke kawasan Puncak-Cipanas.

"Mungkin ini moment yang tepat pemerintah pusat mempertimbangkan kembali pembangunan Jalur Puncak II sebagai solusi ketika terjadi bencana alam di Jalur Puncak-Bogor. Saat ini yang terdampak semua pelaku usaha sampai warga biasa karena roda perekomoian tidak berjalan," kata Aldi (29) seorang pengusaha jasa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini