Perpustakaan Bergerak Runtuhkan Mitos Minat Baca Rendah

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 20 Februari 2018 17:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 20 196 1862184 perpustakaan-bergerak-runtuhkan-mitos-minat-baca-rendah-mBtrObPxZN.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

PERPUSTAKAAN bergerak telah meruntuhkan mitos bahwa minat masyarakat Indonesia untuk membaca masih rendah.

"Bukan rendah tapi memang bukunya yang tidak ada. Realitas di lapangan begitu buku ada, minat baca anak muncul," kata Pegiat Literasi dan Perpustakaan Bergerak Indonesia Nirwan A Arsuka di Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Dalam konferensi pers Seminar Nasional Literasi dan Pembangunan Sosial Ekonomi di gedung Perpustakaan Nasional, Nirwan mengatakan saat ini peredaran buku terutama di daerah terpencil masih kurang.

Dia juga mengatakan, dengan Perpustakaan Bergerak juga telah meruntuhkan mitos bahwa masyarakat Indonesia tidak mampu bergerak mengatasi masalahnya sendiri jika tidak dibantu oleh pemerintah. "Perpustakaan Bergerak ini tumbuh tanpa bantuan pemerintah, kita adalah para relawan yang terdiri atas berbagai profesi," tambah dia.

Baru dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mulai memberikan perhatian melalui PT Pos Indonesia dengan gerakan gratis mengirim buku setiap tanggal 17 tiap bulan. Sejak 2017 hampir 140 ton buku dikirim ke seluruh wilayah Indonesia lewat program kirim buku gratis PT Pos dengan nilai hampir Rp7 miliar.

Saat ini Perpustakaan Bergerak memiliki 1.200 simpul pustaka relawan di seluruh daerah yang terdiri atas berbagai unsur masyarakat. Mereka bergerak sendiri dengan menggunakan berbagai kendaraan dari sepeda motor, perahu, kuda bahkan berjalan kaki untuk menyebar pengetahuan kepada masyarakat.

"Gerakan masyarakat ini mencoba memecahkan masalahnya sendiri menjadi kekuatan pustaka bergerak. Indonesia menjai contoh 'people power' bagaimana kekuatan masyarakat itu bergerak bahkan menjadi gerakan nasional," kata dia.

Namun ada beberapa masalah konkrit yang dihadapi perpustakaan bergerak yaitu kurangnya armada karena meski memiliki 1.200 simpul pustaka namun jumlahnya masih terlalu kecil dibandingkan luas wilayah Tanah Air. Masalah lain yang dihadapi adalah kekurangan buku. "Karena itu kita mendorong agar ke depan setiap desa bisa membentuk perpustakaan dengan memanfaatkan dana desa," ujar Nirwan.

Program Prioritas 2019

Literasi atau kemampuan melek huruf menjadi salah satu program prioritas pemerintah pada 2019. "Bappenas sedang menyusun Rencana Kerja Pemerintah 2019 didalamnya ada lima prioritas nasional salah satunya pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan pelayanan sosial dasar," kata Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Amich Alhumami.

Dia menjabarkan, dalam program prioritas nasional tersebut terdapat program percepatan pengurangan kemiskinan, salah satunya lewat penguatan literasi untuk kesejahteraan.

(Baca Juga: Pelakor Dilempari Gepokan Uang Rp100 Ribu Oleh Istri Sah Jadi Viral, Ini Kronologisnya!)

"Literasi penting, selama ini dipahami supaya menumbuhkan budaya membaca saja. Kita ingin memberi pemaknaan yang luas apa itu literasi yaitu melalui gerakan literasi masyarakat memperoleh manfaat dan meningkatkan daya saing ekonomi," katanya.

Literasi dimaknai melampaui pengertian konvensional yaitu lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis tapi dimaknai sebagai bentuk kecerdasan kognitif, hasil dari proses pendidikan yang panjang hingga akhirnya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan perpustakaan harus melakukan transformasi layanan berbasis inklusi sosial.

"Transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan suatu pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat," kata Muhammad Syarif.

Dia menjelaskan, inklusi sosial adalah pendekatan berbasis sistem sosial yang memandangnya perpustakaan sebagai sub sistem sosial dalam sistem kemasyarakatan. "Untuk itu perpustakaan harus dirancang agar memiliki manfaat yang tinggi di masyarakat," tambah dia.

(Baca Juga: Bukunya Laris, Nikita Mirzani Jadi Ketagihan Menulis)

Untuk itu Perpustakaan Nasional bekerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas dan PerpuSeru akan menyelenggarakan seminar nasional Literasi dan Pembangunan Sosial Ekonomi pada Selasa 27 Februari 2018. Kegiatan tersebut akan digelar di Ruang Djunaedi Hadisumarto Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini