nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kebanyakan Turis dan Berpotensi Merusak Karang, Pantai di Thailand Sengaja Ditutup

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 20 Februari 2018 20:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 20 406 1862154 kebanyakan-turis-dan-berpotensi-merusak-karang-pantai-di-thailand-sengaja-ditutup-GqAYrw5PRE.jpg Maya Beach (Foto: Youtube)

PEMERINTAH Thailand membuat kebijakan berani dengan menutup sementara sejumlah pantainya lantaran mengalami kerusakan akibat pariwisata yang berlebihan.

Di antara yang ditutup adalah Ma ya Bay di Kepulauan Phi Phi. Pan tai ini terkenal setelah muncul dalam film The Beach pada 2000. Namun, popularitas yang te rus melonjak membuat pan tai ini rusak parah hingga me maksa otoritas Thailand menutupnya. Tujuan penutupan ini di la kukan agar te rumbu karang yang rusak di Maya Bay dapat kembali pulih.

Pantai itu pun ditutup tiga bulan. Selama ini ada sekitar 5.000 turis perhari mengunjungi Maya Bay menggunakan perahu dan kapal cepat dari pusat wisata Phuket dan Krabi. Banyaknya jumlah turis dan kapal itu berkontribusi merusak terumbu karang yang sangat berharga.

Maya Bay bukan satu satunya lokasi wisata di Thailand yang terpaksa tutup akibat kerusakan lingkungan karena pariwisata. Penutupan Maya Bay di lakukan setelah penutupan sementara Kepulauan Koh Khai dan Koh Tachai yang disebut sebagai pulau paling indah di Thailand tersebut.

Langkah penutupan ini disambut baik sejumlah pihak. ”Beberapa bagian dari Kepulauan Similans dan Surin telah ditutup di masa lalu agar karang da pat pulih, tapi ini pertama un - tuk Maya Bay,” ungkap Lee Cobaj, pakar travel dari Telegraph di Bangkok.

Bahkan, ada sejumlah pihak yang mengusulkan agar pemerintah Thailand membuat langkah lebih tegas seperti membatasi jumlah pengunjung harian dan bahkan penutupan permanen pantai tersebut bagi kapal turis.

”Sebanyak 77% terumbu ka rang di perairan Thailand han cur akibat kerusakan ter - kait pariwisata,” ungkap pakar ma ritim Thon Tham rong na wa - sa wat dari Universitas Ka set - sart, Bangkok, Thailand, di kutip News.com.au. Laporan German Press Agency (GPA) juga mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut meningkat dari 30% di banding kan satu dekade lalu.

Dr Tham rongnawasawat menjelaskan, kerusakan karang itu dipicu berdirinya hotel-hotel tepi pantai serta sampah plastik yang dibuang di laut. Tak hanya itu, jangkar perahu atau kapal juga menambah tingkat kerusakan.

”Penutupan sementara da pat membantu pada kondisi tertentu. Namun, solusi ideal ialah penutupan permanen yang tidak mungkin karena kita tergantung pada pendapatan pariwisata,” ujarnya. Pada Mei 2016, otoritas Thailand mengumumkan penutupan tanpa batas waktu pada Pulau Koh Tachai. Direktur Jen deral Departemen Taman Nasional, Konservasi Satwa Liar dan Tanaman Tunya Netitham makul menjelaskan, Koh Ta chai memerlukan peluang untuk memulihkan diri dari kerusakan akibat pariwisata.

”Berkat kecantikannya, Koh Ta chai menjadi lokasi turis populer bagi warga Thailand dan turis asing. Ini mengakibatkan kepadatan pengunjung dan menurunkan kondisi lingkungan dan sumber daya alam,” ujarnya pada Bangkok Post. Adanya penutupan akan memudahkan rehabilitasi lingkungan di pulau dan di lautan tanpa terganggu oleh aktivitas pariwisata. Setelah Koh Tachai, beberapa pekan kemudian, 4 laut lainnya di Thailand juga membatasi jumlah kunjungan turis, yakni Koh Khai Nok, Koh Khai Nui, dan Koh Khai Nai. Ketiga pulau itu terletak di lepas Pantai Phuket.

Sebanyak 4.000 turis per hari mengunjungi kepulauan itu sebelum ditutup. Sebagian besar turis menggunakan speed boat dan melakukan snorkelling. ”Berbagai kelompok tur menghabiskan sedikitnya 3 jam, memberi makan ikan dan snorkelling di perairan yang mengalami kerusakan parah ekosistem lautnya, terutama terumbu karang,” ungkap Kepala Regional Departemen Sumber Daya Pantai dan Laut Watcharin Na Thalang. Dia menjelaskan, speedboat bisa mencapai 60 unit perhari sehingga semakin memicu terjadinya kerusakan lingkungan laut.

Seperti diketahui, hanya sedikit negara yang mengalami ledakan pariwisata dalam dua dekade terakhir seperti Thailand. Kini industri pariwisata di negara ini menyumbang lebih dari 20% produk domestik bruto. Sekira 7,8 juta pelancong internasional mengunjungi Thailand pada 1998. Jumlah tersebut terus meningkat setiap tahun dan kini mencapai hampir 35 juta pengunjung. Tak hanya di Thailand, terumbu karang di Indonesia yang menjadi andalan objek wisata juga banyak mengalami kerusakan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan pernah mendata setidaknya ada 70% terumbu karang di Indonesia yang rusak. Pemicu kerusakan di antaranya penggunaan bom, po tasium, dan sampah. Selama ini Indonesia juga dikenal dengan sebutan ”Ama - zon of The Sea” karena ke aneka ra gam an dan keindahan terum bu karangnya. Sebaran terum bu karang ada di 17.000 pu lau dan jika dihitung luasnya mencapai 75.000 kilometer persegi. Terumbu karang ter masuk hewan yang hidup di laut an dangkal. Biasanya tumbuh di kedalaman antara 25 hingga 100 meter.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini