nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Bahasa Ibu Sedunia, Orangtua Wajib Mewariskan Bahasa Daerah ke Anak

Agregasi Antara, Jurnalis · Rabu 21 Februari 2018 13:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 21 196 1862551 hari-bahasa-ibu-sedunia-orangtua-wajib-mewariskan-bahasa-daerah-ke-anak-JRrMXD3vib.jpg (Foto: Sheknows)

BAHASA ibu dapat menentukan interaksi sosial dan budaya seorang anak di lingkungannya sehingga peran orangtua dibutuhkan dalam pengenalan bahasa tersebut kepada anaknya.

"Bahasa ibu dalam konteks bahasa daerah tentu sangat penting untuk pemahaman khazanah bahasa daerah dan budaya, karena budaya itu termaktub dalam bahasa yang tidak bisa dipisahkan," kata peneliti Bidang Linguistik Kantor Bahasa Jambi Natal P. Sitanggang di Jambi, Rabu (21/2/2018).

Setiap 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Sedunia yang telah ditetapkan oleh badan PBB, UNESCO, pada 17 November 1999.

Bahasa ibu, kata dia, merupakan bahasa pertama yang dikenalkan kepada seorang anak dan mayoritas masyarakat di Indonesia menggunakan bahasa ibu itu cenderung dimaknai sebagai bahasa daerah.

Ia mengatakan bahasa ibu yang harus diperkenalkan, di samping Bahasa Indonesia, adalah bahasa daerah masing-masing dari orangtuanya dan diharapkan anak bisa melanjutkan sebagai penutur untuk bahasa daerah.

"Bahasa daerah tentu harus dipelihara supaya tidak terjadi gesekan antarbudaya, karena dalam penuturan bahasa yang sopan menurut kita belum tentu sopan untuk orang lain," katanya.

Pihaknya menilai perkawinan campur antarsuku akan menambah kemampuan berbahasa anaknya menjadi lebih banyak karena seorang anak makin banyak menguasai bahasa tentu akan lebih baik. "Seorang anak dengan semakin banyak menguasai bahasa atau poliglot tentu anak akan lebih leluasa dalam bersosialisasi dan interaksi di lingkungannya," katanya.

Ia mengharapkan peringatan Hari Bahasa Ibu Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran orang tua dalam pengenalan berbahasa ibu dengan menggunakan bahasa daerah kepada anak-anak.

Orang tua mempunyai tanggung jawab dalam mewariskan bahasa daerah mereka kepada anak-anaknya karena dengan bahasa ibu dapat menunjukkan jati diri seorang anak.

"Bahasa ini dalam konteks kedaerahan itu merupakan salah satu bagian kearifan lokal yang harus dipertahankan dan dilestarikan, sehingga sangat penting dikenalkan kepada anak pada era sekarang ini," katanya.

(Baca Juga: Sisi Lain di Balik Video Viral Bu Dendy dan Pelakor)

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa hingga saat ini baru berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan 652 bahasa daerah dari 2.452 daerah pengamatan. 

"Target kami selesai identifikasi pada 2019," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Suhendar pada Gelar Wicara dan Festival Tunas Bahasa Ibu di Jakarta.

(Baca Juga: Sayang Anak, Ini Barang Belanjaan Favorit Mamah-Mamah Muda)

Dia mengatakan masih banyak bahasa daerah yang belum berhasil teridentifikasi seperti di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat yang belum semua teridentifikasi.

"Di Papua, baru 380 bahasa yang berhasil kami identifikasi tapi itu juga belum berhasil karena bisa jadi antara satu pulau dengan yang lain tidak saling memahami. Berbeda dengan di Jawa, meski berbeda tapi bisa saling memahami," tambah dia.

(Baca Juga: 5 Tips Sederhana Ini Bisa Bikin Anak Lebih Percaya Diri)
(Baca Juga: 5 Tips Sederhana Ini Bisa Bikin Anak Lebih Percaya Diri)

Menurut dia, untuk daerah yang memang bahasa daerahnya belum teridentifikasi memang bahasa negara yaitu Bahasa Indonesia yang menjadi jembatan komunikasi.

Lebih lanjut Dadang mengatakan dari 652 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi dan dipetakan, baru 71 bahasa yang direvitalisasi sejak 2011 hingga 2017.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga telah mengklasifikasikan status bahasa daerah yaitu 19 bahasa aman, 16 bahasa stabil, dua bahasa mengalami kemunduran, 19 bahasa terancam punah, empat bahasa kritis dan 11 bahasa telah punah.

Bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes. Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua dan dari Maluku yaitu bahasa daerah Ibo dan Meher.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini