nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

10 Desa di Langkat Masuk Kategori Stunting

Agregasi Antara, Jurnalis · Jum'at 23 Februari 2018 15:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 23 481 1863753 10-desa-di-langkat-masuk-kategori-stunting-0fVimHdHE9.jpg Ilustrasi (Foto: Thetimes)

LANGKAT - Sebanyak 10 desa dari delapan kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dikategorikan sebagai stunting atau balita pendek dikarenakan pertumbuhan anak tidak sesuai dengan kriteria usia yang ditetntukan Kementerian Kesehatan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Langkat Ansyari, di Stabat, menjelaskan, data itu diperoleh setelah pihaknya mengikuti rapat kordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan baru diketahui belakangan ini.

Menyangkut dengan stunting (balita pendek) itu, ada beberapa penyebab di antaranya asupan gizi yang kurang, lingkungan yang kurang baik, serta berbagai faktor lainnya yang sudah dirumuskan oleh WHO.

Di antara desa tersebut terdiri dari Desa Sematar Kecamatan Bahorok, Desa Secanggang, Desa Kebun Kelapa di Kecamatan Secanggang, Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjungpura, Desa Padang Tualang Kecamatan Padang Tualang, Desa Paluh Manis Kecamatan Gebang, Desa Securai Utara dan Desa Securai Selatan Kecamatan Babalan, Desa Sei Meran Kecamatan Pangkalan Susu dan Desa Perlis Kecamatan Brandan Barat.

"Untuk itu sudah kita lakukan koordinasi dengan lintas sektoral yang ada di daerah ini untuk secara bersama-sama melakukan aksi, termasuk puskesmas setempat untuk berperan aktif agar meningkatkan peran mereka di tengah masyarakat," katanya.

Selain itu juga diharapkan peran lintas sektoral secara bergotong royong menuntaskan masalah itu, termasuk peran dari Kepala Desa setempat untuk mengalokasikan dana desa mereka guna peningkatan derejat kesehatan warganya.

"Langkah ini diharapkan akan memberikan dampak positif untuk segera mengurangi Stunting ini diberbagai desa yang dikategorikan tadi," katanya.

Indonesia sendiri masuk dalam lima besar di dunia sebagai negara dengan stunting terbanyak. World Health Organisation (WHO) menetapkan batas toleransi stunting (anak bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah seluruh balita. Faktanya, di Indonesia stunting pada balita berada pada angka 35,6 persen.

WHO tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita Indonesia mengalami stunting. Sementara, dari 35,6 persen pengidap stunting di Indonesia tersebut, sebanyak 18,5 persen balita masuk dalam kategori sangat pendek dan 17,1 persen masuk ke kategori pendek.

Provinsi Sulawesi Tengah tercatat sebagai daerah dengan angka stunting tertinggi, sekira 16,9 persen. Selain itu, ada pula Provinsi Sumatera Utara yang hanya 7,2 persen saja balitanya yang mengalami stunting.

(Baca Juga: 5 Potret Lucu ketika Ayah Mengasuh Anak, Bikin para Ibu Deg-degan!)

Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Prof. dr Fasli Jalal menilai stunting atau masalah kurang gizi kronis masih menjadi ancaman bagi generasi mendatang. Hal itu dia utarakan saat menjadi pembicara dalam seminar bertema "Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa" di Semarang, Selasa 13 Februari lalu. Fasli mengatakan stunting yang disebabkan kekurangan gizi pada usia dini dapat meningkatkan kematian untuk bayi dan anak, kerja otak tidak maksimal, dan menurunkan kemampuan kognitif.

Dalam kesempatan berbeda, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI dokter Damayanti, Rusli S, SpAK, Phd, mengatakan IQ anak yang menderita gizi buruk lebih rendah daripada yang tidak gizi buruk.

“Pada usia 14 tahun IQ-nya bisa mencapai angka 90, tapi tidak bisa naik lagi. Kalau seorang bayi pernah mengalami gizi buruk, maka 65 persen IQn-nya tidak bisa lebih dari 90 dan 25 persen lainnya hanya di bawah 90,” jelasnya.

Anak yang pernah mengalami gizi buruk, ujar dia, nantinya juga memiliki kemampuan kerja yang terbatas, yang mengakibatkan pendapatannya juga tidak bisa tinggi.

“Seorang anak yang pernah mengalami gizi kurang dan stunting kemampuan kognitifnya kurang, kecerdasannya kurang, ada hambatan pada perkembangannya, terjadi penurunan fungsi kekebalan, dan gangguan sistem pembakaran lemak. Sementara, pada saat dewasa, bisa obesitas, mengalami penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini