Image

Minum Wine Merah Bisa Cegah Terjadinya Kerusakan Gigi

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 23 Februari 2018 21:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 23 481 1863945 minum-wine-merah-bisa-cegah-terjadinya-kerusakan-gigi-RuczXyZZjR.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

MINUM wine merah dikenal dapat menjaga kesehatan jantung. Tapi lebih dari itu, terbiasa mengonsumsi minuman itu dapat menjaga kesehatan gigi.

Dalam segelas wine, ditemukan polifenol yang dapat meningkatkan kesehatan gigi. Karena sebuah penelitian baru mengungkapkan bawa minuman anggur merah sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Setelah menganalisis efek polifenol, ada juga kandungan antioksidan yang ditemukan dalam anggur merah. Ahli kimia Spanyol menemukan bahwa paparan senyawa tersebut dapat membantu mencegah bakteri menempel pada gusi, yang biasanya menyebabkan rongga dan plak.

Tak sekedar itu, antioksidan yang ditemukan dalam anggur merah bisa mengobati penyakit jantung. Ilmuwan dari Dewan Riset Nasional Spanyol di Madrid memeriksa dua jenis polifenol anggur merah, asam caffeic dan p-coumaric, keduanya juga ditemukan dalam kopi dan cranberry.

Keduanya berhasil mencegah mikroba yang berpotensi membahayakan agar tidak menempel pada gusi. Hal itu bisa menyebabkan penyakit gusi dan kerusakan gigi.

Ilmuwan mengatakan, efeknya lebih kuat saat polifenol digabungkan dengan bakteri probiotik streptococcus dentisani oral. Meskipun ada temuan yang menjanjikan, penulis penelitian tersebut dengan cepat memperingatkan bahwa kita seharusnya tidak memulai hari kita dengan berkumur obat kumur.

Sebagai gantinya, mereka menyarankan untuk berkumur dengan anggur merah untuk obat mencegah penyakit mulut. Mengingat paparan polifenol dalam percobaan berlangsung sampai 47 jam.

Anda mungkin berpikir untuk menyukai anggur merah. Ditambah lagi dengan makanan yang mengandung vitamin C, seperti buah berry.

"Temuan menunjukkan beberapa senyawa yang disebut fenol harus diselidiki lebih lanjut perannya dalam mencegah bakteri yang mengikat sel dan menyebabkan infeksi, namun ini memerlukan banyak validasi," ungkap Profesor Kedokteran Metabolik di University of Glasgow, dilansir Independent, Jumat (23/2/2018).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini