Awas! Parfum Bisa Sebabkan Masalah Kesehatan, Ini Faktanya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 24 Februari 2018 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 24 481 1864122 awas-parfum-bisa-sebabkan-masalah-kesehatan-ini-faktanya-C2HiYHQVUz.jpg (Foto: Daily Mail)

APAKAH Anda pernah merasa pusing setelah mencium aroma parfum yang dikenakan orang yang baru saja melewati Anda?

Hal ini terbilang wajar. Sebab, pada beberapa orang ada yang memilik tingkat sensitivitas berlebih pada aroma wewangian. Dan sebetulnya, bukan hanya parfum yang dikenakan di pakaian atau tubuh, tetapi juga deterjen, pengharum ruangan, dan lain sebagainya yang mengandung fragranc.

Kalau sudah begini, sangat susah bagi Anda yang punya kesensitifan berlebih pada fragranc untuk bisa beradaptasi. Salah satu risiko yang biasanya muncul adalah nyeri kepala berlebih hingga sesak napas.

Lebih lanjut lagi mengenai masalah ini, dikutip dari Daily Mail, para ilmuwan baru-baru ini menyimpulkan bahwa bahan kimia sehari-hari, termasuk produk pembersih, parfum, dan cat, sekarang berkontribusi terhadap polusi udara lebih banyak daripada mobil.

Partikel kecil yang terkandung dalam senyawa ini dikatakan berbahaya bagi paru-paru dan tingkat konsentrasinya sepuluh kali lebih buruk di dalam rumah daripada di luar rumah.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkapkan bahwa produk pembersih, serta barang-barang seperti parfum dan deodoran, sekarang menyumbang hingga 50 persen polusi udara luar di kota-kota.

Anda harus sadar, aroma apapun termasuk yang bahan dasarnya dari alam, tidak lebih dari satu set bahan kimia. Dan berkat undang-undang yang melindungi rahasia dagang, produsen parfum tidak berkewajiban untuk mengungkapkan semua bahannya. Jadi berapa banyak orang yang menderita karena wewangian? Dan bagaimana dampaknya terhadap Anda?

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa sekira 30 persen populasi dipengaruhi secara negatif oleh aroma.

Dalam survei tahun 2004 terhadap 1.000 orang, 31 persen melaporkan reaksi buruk terhadap produk fragranc. Beberapa tahun kemudian, survei lain mengkonfirmasi hasil ini.

Survei ketiga, pada 2016, menemukan bahwa hampir 35 persen orang melaporkan masalah kesehatan seperti kesulitan pernapasan dan sakit kepala saat terkena parfum. Beberapa juga melaporkan mata merah, berair, hidung tersumbat, sakit kepala, dan serangan asma.

(Baca Juga: Asal Mula Istilah Pelakor, Apa Bedanya dengan WIL?)

Selain itu, pada jumlah yang lebih kecil, ada yang mengalami masalah kulit, kesulitan kognitif seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, dan masalah pencernaan seperti mual. Lalu, lima belas persen telah kehilangan hari kerja atau pekerjaan karena terpapar aroma di tempat kerja.

Jumlah sebenarnya dari orang-orang yang sakit karena aroma hampir pasti lebih besar dari yang ditunjukkan oleh penelitian.

(Baca Juga: Pohon Raksasa Ditemukan di Hutan Kalimantan Selatan, Besarnya Luar Biasa)

Lalu, masalah kesehatan apa yang bisa timbul dari parfum?

Migran

Produk pembersih lantai dan parfum terbukti memicu migrain. Sebuah studi di sekolah kedokteran Harvard mengenai para penderita masalah ini menemukan fakta bahwa bau parfum menyebabkan sakit kepala pada 60 persen kasus.

Parfum juga menyebabkan sakit kepala lebih buruk pada 68 persen pasien dan penelitian ini menyimpulkan bahwa iritasi hidung dan sinus bisa lebih penting pada sakit kepala daripada yang direalisasikan secara umum.

Selanjutnya, dalam sebuah penelitian di tahun 2014 terhadap pasien migran, tercatat 76 persen pasien dikarenakan parfum, dilanjut asap rokok, dan produk pembersih yang mengandung wewangian.

Asma

Penderita asma sangat rentan terhadap wewangian. Satu makalah penelitian mencatat bahwa banyak pasien mengeluh terhadap beberapa bau yang mana itu memperburuk asma mereka. Parfum dan cologne adalah dua pelanggar yang paling sering disebutkan.

Periset ini menemukan bahwa, dari 60 pasien asma, 57 melaporkan gejala pernapasan saat mereka terkena bau tak sedap, termasuk dari parfum.

Sementara itu, penelitian lain menemukan hubungan antara asma dan penyegar udara pada 30 persen responden.

Kanker

Bisakah seorang ibu hamil menggunakan parfum yang mengandung bahan seperti phthalate yang meniru tindakan estrogen? Apakah itu tidak mengkhawatirkan terbentuknya sel kanker pada anaknya di kemudian hari?

Perlu Anda ketahui, beberapa jenis kanker, termasuk kanker prostat dan payudara, telah dikaitkan dengan paparan berlebihan estrogen di dalam rahim. Studi juga menunjukkan hubungan antara estrogen dan kanker testis.

Bukti menunjukkan bahwa kanker ini ditambah dengan kondisi terkait hormon lainnya seperti masalah pubertas dini, dan kesuburan, bisa meningkat karena parfum.

Tentu saja, Anda tidak bisa menggambar garis lurus antara aroma dan kanker: aroma hanyalah satu sumber bahan kimia yang berpotensi mengganggu hormon dan belum ada penelitian yang cukup untuk menentukan dengan tepat mengapa gangguan hormonal meningkat.

Tapi para ilmuwan khawatir. Mereka menganggap bahwa kecepatan peningkatan masalah ini sangat mengesankan bahwa faktor lingkungan memainkan peran penting. Bahan kimia yang mengganggu hormon dalam keharuman adalah bagian lingkungan yang ada di mana-mana dan tak dapat disangkal.

Dari masalah-masalah ini, lalu apakah Anda perlu menghentikan pemakaian parfum sehari-hari?

Tidak bisa dipungkiri, parfum sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tapi, jika menengok pada masalah yang bisa muncul, penelitian di Inggris sudah melihat bahwa semakin banyak kelompok masyarakat yang melarang adanya parfum di lingkungan.

Penelitian tersebut menemukan 53 persen orang akan mendukung kebijakan bebas wewangian di tempat kerja mereka.

Di Kanada, banyak rumah sakit dan perusahaan telah melakukan ini. Mereka melarang penyegar udara, pot pourri, dan diffusers. Kebijakan lain juag sudah mulai dilakukan seperti meminta orang untuk tidak menggunakan peralatan mandi yang mengandung wewangian, deodoran dan parfum.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini