Share

Berani Gundul, Gerakan Empati Sebarkan Kepedulian Terhadap Anak-Anak Penderita Kanker

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 25 Februari 2018 20:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 25 481 1864563 berani-gundul-gerakan-empati-sebarkan-kepedulian-terhadap-anak-anak-penderita-kanker-ou56PSbV3W.jpg Seorang pria saat mengikuti kampanye Berani Gundul (Foto: Pradita/Okezone)

SEJATINYA setiap manusia, terutama anak-anak di dunia ini tentu ingin hidup sehat dan normal tanpa penyakit apapun, terlebih lagi penyakit berat dan mematikan seperti kanker.

Maka dari itu, rasanya tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwasanya anak-anak penderita kanker pada dasarnya membutuhkan perhatian dan dukungan lebih dari orang-orang di sekitarnya.

Bicara soal kanker pada anak-anak, di Indonesia sendiri ada sebuah gerakan Berani Gundul, yakni sebuah acara yang diusung oleh YKAKI, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. Di mana di sini YKAKI sebagai organisasi anggota dari Childhood Cancer International. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati Hari Kanker Anak Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 15 Februari, dengan harapan acara Berani Gundul ini maka masyarakat awam bisa lebih peduli lagi terhadap anak-anak penderita kanker.

Seperti informasi yang diterangkan oleh Ira Soelistyo, selaku ketua YKAKI bahwa tahun 2018 ini sendiri, diketahui adalah tahun ke-4 penyelenggaraan acara Berani Gundul. Lalu apa sih sebetulnya acara gerakan Berani Gundul ini?

 (Baca Juga: Jangan Abaikan 5 Tanda Sepele Ini, Bisa Jadi Gejala Kanker)

“Ini sudah masuk di tahun keempat, Berani Gundul ini adalah sebuah gerakan empati sekaligus menyebarkan kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker. Di mana siapapun bisa berdonasi uang sekaligus rambut, caranya gimana? Tinggal datang ke sini, lalu mendaftarkan diri, donasi tujuh puluh lima ribu, langsung deh rambutnya dipotong oleh hairstylist profesional," tutur Ira kala ditemui Okezone, dalam acara Berani Gundul, Minggu (25/2/2018) di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan.

Menurut Ira, tidak semua orang harus mencukur rambutnya sampai gundul. Untuk yang ingin memotong rambutnya jadi pendek pun tidak masalah. Pria maupun wanita bisa ikut, termasuk yang berhijab.

 

Menurut pantauan Okezone di lapangan, sosok presenter kondang yakni Indra Bekti ternyata juga menjadi salah satu sosok yang terlibat dalam gerakan Berani Gundul ini. Kemudian sebetulnya, apakah alasan Indra Bekti mau ikut berpatisipasi dalam acara ini?

“Ya karena kita sebagai manusia tentunya kan adalah makhluk sosial, jadi kita selain bekerja kita mendapatkan rezeki apalagi sih yang kita bisa buat untuk berguna lah paling tidak untuk banyak orang. Salah satunya mungkin ini sebagai bentuk kontribusi saya kepada masyarakat untuk bisa membantu, enggak hanya cuman donasi dari uang tapi juga pikiran tenaga untuk bisa bersama-sama membantu yayasan ini,” papar Indra yang mengaku tahun ini sudah memasuki tahun tiga sampai empat ikut serta dalam acara Berani Gundul.

  (Baca Juga: Benarkah Air Zamzam Bisa Sembuhkan Stroke? Begini Kata Dokter)

Selain sosok Indra Bekti, ada juga presenter papan atas lainnya yakni Andy F. Noya yang juga ikut turut memberikan dukungannya. Melalui sang istri, Retno Palupi A. Noya, yang kebetulan juga merupakan duta dari YKAKI bersama Indra Bekti, terungkaplah kenapa seorang Andy F. Noya mau ikut memberikan dukungan terhadap gerakan Berani Gundul.

“Pak Andy itu kalau memang waktunya memungkinkan kayak Sabtu atau Minggu gini, pasti mau datang kasih dukungan. Itu dia gundul juga terinspirasi dari anak-anak penderita kanker, dan ada juga salah satu sahabatnya yang terkena kanker, eh sekarang keterusan jadi gundul,” imbuh Retno.

Sementara itu, dalam acara ini juga dimanfaatkan sebagai peluncuran buku Panduan Nutrisi bagi anak penderita kanker, yang diharapkan dapat dijadikan pegangan awal untuk keluarga dengan anak menderita kanker. Buku Nutrisi ini disebutkan disadur dari Nutrition Guidebook, POSHAN (Pediatric Onlocology Stakeholder for Holistic Assistance in Nutrition) India yang bekerjasama dengan CanKids KidsCan, yang di mana telah diteliti dan dikoreksi sesuai resep-resep yang berlaku umumnya di Indonesia oleh Dr Hardini Intan, SpAK dan DR.dr. Ririn, SpGizi, tenaga ahli dari Pusat Kanker Nasional, RS Kanker Dharmais.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini