nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Obat Bioteknologi Semakin Dibutuhkan dan Permintaan Meningkat

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 27 Februari 2018 16:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 27 481 1865472 obat-bioteknologi-semakin-dibutuhkan-dan-permintaan-meningkat-SMGEJ2zm5n.jpg Ilustrasi obat bioteknologi (Foto: Uniedu)

SEIRING majunya teknologi banyak dikembangkan produk biologi yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Karena selama ini banyak penyakit kronis yang sebenarnya mudah diatasi dengan jenis obat tersebut.

Saat ini penggunaan produk biologi, seperti obat jumlahnya tambah meningkat. Bahkan, jumlahnya mengalahkan obat biasa yang selama ini banyak dipakai.

Pada tahun 2015 sebanyak 50% obat blockbuster di dunia merupakan produk biologi. Ke depan, obat seperti itu diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang. Perbandingan penggunaan adanya produk obat biologi itu pada tahun 2017 meningkat sekira 2-5% per tahun.

 BACA JUGA:

Demi Penelitian, Pria Ini Rela Donorkan Otaknya

Presiden RI Joko Widodo mendukung agar perusahaan farmasi lokal mau berinvestasi untuk memproduksi obat biologi. Karena itu berfungsi untuk menyejahterakan masyarakat yang banyak butuh obat untuk menyembuhkan penyakit.

"Masyarakat semakin menuntut tidak mau diberi obat biasa. Obat-obat bioteknologi sangat penting permintaannya sangat banyak, sehingga produksinya nanti semakin mendesak," ucap Jokowi di sela peresmian PT Kalbio Global Medika, lewat siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (26/2/2018).

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengakui jika tren yang sama juga akan terjadi di Indonesia. Produk biologi dengan efikasi yang lebih tinggi pada target sasaran.

"Obat itu efek samping yang lebih kecil, serta dapat memberikan kenyamanan bagi pasien akan lebih banyak digunakan," ujar Menkes Nila.

Apalagi, sejak meningkatnya prevalensi berbagai penyakit seperti kanker, diabetes mellitus dan ginjal. Itu menjadi salah satu penyebab meningkatnya penggunaan produk biologi di Indonesia.

Menkes Nila menambahkan, penggunaan salah satu produk biologi yaitu erythropoietin (EPO), yang terus meningkat bersamaan dengan meningkatnya penderita gagal ginjal yang terdeteksi. Namun hingga saat ini, hanya kurang lebih 20% pasien yang mendapatkan pengobatan dengan benar, karena jumlah EPO yang terbatas dan harganya mahal.

“Hampir seluruh kebutuhan Indonesia akan produk biologi selain vaksin masih dipenuhi melalui impor," imbuhnya.

Maka pemerintah ingin menyiasati bersama bagaimana caranya obat biologi itu diproduksi oleh sumber daya manusia dalam negeri. Karena manfaatnya tentu masyarakat mendapatkan harga yang terjangkau saat memakai obat itu.

Terlebih, menurut Menkes Nila, perkembangan industri farmasi sangat meningkat dan semakin berkualitas. Banyak negara yang mengincar Indonesia, karena pasar farmasi dalam negeri sangat menjanjikan.

"Farmasi lokal agar dapat dipertahankan dan menguasai pasar domestik kurang lebih 70%. Lalu, sisanya nanti masih diimpor dari berbagai negara,” ucap Nila.

Nantinya, obat Erythropoietin (EPO), Granulocyte Colony Stimulating Factor (GCSF), serta molekul baru yaitu Efepoietin (Long Acting EPO) yang berfungsi untuk menstimulasi pembentukan sel darah merah akan diproduksi di dalam negeri. Dalam mengoperasikan pabrik bahan baku obat dan produk biologi ini, Kalbe juga mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang bioteknologi dan rekayasa genetika.

 BACA JUGA:

5 Manfaat Tersembunyi Minyak Kelapa Murni untuk Kesehatan

"Teknologi seperti itu dibutuhkan untuk mengembangkan dan memproduksi produk biologi dengan bekerja sama dengan I3L (Indonesia International Institute for Life Science). Hal ini merupakan bagian dari upaya Kalbe dalam mengembangkan sumber daya manusia Indonesia untuk menjadi lebih kompeten di bidang kesehatan, tutup Presiden Direktur PT Kalbe Farma, Tbk Vidjongtius.

(dno)

Berita Terkait

Obat

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini